SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Dunia olahraga dan akademik Indonesia, dan Jawa Tengah khususnya, tengah berselubung duka yang mendalam.
Salah satu putri terbaiknya, seorang srikandi tangguh yang mendedikasikan seluruh napas, keringat, dan pikirannya untuk kemajuan dunia atletik dan pendidikan yang kini menjabat Ketua Umum Pengprov PASI Jawa Tengah, Prof Dr Rumini MPd, telah berpulang ke rahmatullah di RS St Elisabeth Semarang pada Kamis, 10 September 2026, pukul 21.40 WIB. Almarhumah sempat berjuang mendapatkan perawatan selama lima hari di rumah sakit tersebutm

Kepergian Sang Profesor yang begitu tenang, tepat sehari selepas insan olahraga merayakan Hari Olahraga Nasional (Haornas), meninggalkan kejut dan kehilangan yang besar. Di balik senyumnya yang selalu ngayomi (melindungi dan menenangkan), tersimpan sebuah kisah hidup luar biasa tentang ketangguhan seorang pejuang sejati—baik di atas lintasan lari, ruang kelas universitas, maupun gelanggang pengabdian.
Lahir di Pati pada 23 Februari 1970, perjalanan hidup Rumini adalah sebuah manifestasi dari disiplin baja. Ia mulai menapaki dunia atletik sejak 1985 hingga tahun 2000, memilih jalur yang tidak mudah: Saptalomba (Heptathlon).
Bagi mereka yang akrab dengan atletik, saptalomba dikenal sebagai salah satu nomor paling menguras fisik dan mental. Cabang ini menguji seorang atlet dalam tujuh disiplin sekaligus—mulai dari lari gawang, loncat tinggi, tolak peluru, lari 200 meter, lompat jauh, lempar lembing, hingga ditutup dengan lari 800 meter yang melelahkan.
Namun, di situlah nama mantan Kabid Binpres KONI Jawa Tengah masa bakti 2021-2025 itu bersinar terang. Ia bukan sekadar peserta, melainkan seorang penguasa sejati. Puncaknya, ia mempersembahkan medali emas bagi Indonesia pada SEA Games 1993 di Singapura dan SEA Games 1995 di Chiang Mai, Thailand. Ketangguhannya terukir abadi tatkala ia memegang rekor nasional saptalomba selama hampir tiga dekade (1989–2018), serta rekor nasional lompat tinggi (1993–1997). Di kancah nasional, emas PON Tahun 1989, 1996, dan 2000 turut memperkokoh namanya, hingga Siwo PWI Jateng menganugerahinya sebagai Atlet Terbaik pada Tahun 1995.
Baca juga: Sempat Viral, Kasus Pengusiran Wartawan di MTsN 1 Rembang Berakhir Damai
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas dedikasinya yang tiada tara, putri asli Pati ini dipercaya menjadi penyulut api kaldron pada upacara pembukaan Porprov Jateng XVI/2023 di Stadion Joyokusumo, Pati.
The Mother of Sport yang Mencintai Olahraga
Pensiun sebagai atlet tidak membuat Rumini lantas meninggalkan dunia yang membesarkan namanya. Ia memilih jalur ilmu pengetahuan untuk meneruskan estafet perjuangan. Menempuh pendidikan sarjana hingga doktor di bidang pendidikan olahraga, ia bahkan mempertajam ilmunya dengan mengikuti Course Coaching Athletics di Universitas Mainz, Jerman, pada tahun 2021.
Karier akademiknya mencapai puncak gemilang pada Oktober 2025 tatkala ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Kepelatihan Atletik di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Sebagai akademisi, Prof Rumini adalah seorang inovator. Riset-risetnya mendobrak batas tradisional dengan mengintegrasikan biomekanika gerak, teknik sprint, pencegahan cedera, hingga pengembangan perangkat analisis performa berbasis teknologi digital seperti SPRINTA (akselerometer). Lemari kekayaan intelektualnya penuh dengan HAKI: mulai dari buku panduan riset olahraga ASEAN, permainan tradisional untuk gerak dasar atletik, hingga aplikasi digital pendeteksi atlet berbakat.
“Tentunya saya bangga dapat mewakili negara di kancah internasional. Dengan atletik saya bisa mencapai pendidikan tertinggi, meraih prestasi dengan memberikan sumbangan medali emas, dan tetap bisa mengabdi di dunia atletik sampai sekarang,” ujar Prof Rumini dalam salah satu momen kenangan, yang pernah membawakan orasi ilmiah bertajuk "Atletik: The Mother of Sport."
Legenda, Sahabat, dan Ibu yang Menginspirasi
Di luar lintasan dan ruang kuliah, Prof Rumini adalah sosok yang ramah, egaliter, dan berdedikasi tinggi pada organisasi. Ia pernah memegang amanah sebagai Kabid Binpres KONI Jateng masa bakti 2021-2025 di bawah kepemimpinan ketua umum Bona Ventura Sulistiana SH MH, memimpin Pengprov PASI Jateng (2019–2027), hingga dipercaya sebagai Wakil Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PB PASI. Jabatan terakhirnya di kampus tercinta adalah sebagai Koordinator Program Studi PJKR-FIK Unnes.
Kehilangan ini dirasakan paling mendalam oleh orang-orang di sekitarnya. Dekan FIK Unnes, Prof Dr Taufiq Hidayah MKes, mengenang almarhumah bukan sekadar kolega, melainkan pilar inspirasi.
"Kami merasa kehilangan. Sebagai dosen, beliau telah memberi contoh akan pentingnya profesionalitas dalam pekerjaan. Menjadi Guru Besar di bidang atletik adalah buktinya. Dedikasi dan kecintaan beliau terhadap dunia keolahragaan sangat luar biasa. Selamat jalan Prof Rumini. Jejak keilmuan dan jejak integritasnya akan selalu menjadi teladan bagi kita semua," tutur Prof Taufiq penuh haru saat dihubungi Jumat, 11 September 2026.
Sahabat almarhumah, Amir Machmud NS SH MH menilai Prof Rumini adalah gambaran totalitas "manusia olahraga".
Dedikasinya tercetak mulai saat dia menjadi atlet dengan reputasi nasional hingga internasional, lalu aktif dalam organisasi keolahragaan, terutama PASI dan KONI.
Dia juga tercatat sebagai akademisi olahraga yg berprestasi, sampai meraih gelar Guru Besar sebagai pencapaian tertinggi akademik.
"Jejaknya pantas menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda dan generasi muda. Sukses prestasi dan sukses dalam kehidupan," tandas Ketua Dewan Kehormatan PWI Provinsi Jawa Tengah tersebut.
Memohonkan Maaf
Suami almarhumah, Kolonel Inf Arief Soehartono saat menunggui jenazah di ruang ICU RS St Elisabeth Semarang, Kamis 10 September 2026 malam memohonkan maaf, jika selama beraktivitas dan berinteraksi ada kekhilafan dari almarhumah.
''Atas nama keluarga saya mohon maaf jika almarhumah istri saya ada kekhilafan semasa hidupnya. Terima kasih atas doa dan perhatian teman-teman juga kerabat untuk almarhumah selama berada di rumah sakit,'' pungkasnya.
Kini, Sang Ratu Saptalomba telah menyelesaikan perlombaan terbesarnya di dunia. Raga telah beristirahat, diantarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir Jumat, 11 September 2026 siang di TPU Wotgaleh, Kelurahan Sampangan, Semarang. Namun, api semangat yang ia sulut di lintasan atletik, ruang-ruang kuliah, dan dada para atlet didikan akan terus menyala abadi.
Selamat jalan, Prof Rumini. Jejak langkahmu adalah abadi, dan inspirasimu akan selamanya hidup di setiap derap langkah tunas-tunas olahraga Indonesia. Sebagai sahabat, kami bersaksi mendiang orang yang sangat baik. (Catatan: Ade Oesman dan Wisnu Setiadji)
