LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Kepengutusan baru KONI Lampung periode 2025-2029 sudah kepleset melakukan kesalahan. Pelantikan Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Provinsi Lampung terpaksa diulang.
Gara-garanya, Wakil Ketua Umum II KONI Lampung, Agusria melantik Perwosi Lampung pada 15 Juli 2025. Tentu saja, pelantikan tersebut salah, tidak sah. KONI Lampung belum berwenang dan cacat prosedural.
Kesalahannya ada dua, yakni:
1. Kepengurusan KONI Lampung belum dilantik, termasuk Agusria sebagai wakil ketua umum II KONI Lampung.
2. Perwosi bukan kewenangan KONI. Organisasi tersebut bersifat fungsional yang secara struktural berada langsung di bawah naungan PB Perwosi, bukan di bawah koordinasi KONI provinsi.
Apa yang dilakukan KONI Lampung memicu badai kritik karena dianggap menabrak aturan organisasi dan melampaui kewenangan.
Ketua Umum PB Perwosi Ir. Ny. Tito Karnavian gerak cepat (gercep) langsung mengambil alih dan melantik ketuanya Irene Fransisca Giri dan jajarannya secara darling pada Senin (29/7/2025).
RANGKAP JABATAN
Sebelumnya, KONI Lampung yang baru terpilih sudah masuk pusaran silang pendapat terkait soal rangkap jabatan hingga ada yang "ngambek" keluar group whatsapp kepengurusan.
Dipantik kritik Amalsyah Tarmizi, anggota Dewan Kehormatan kepengurusan periode 2025-2029 itu mengatakan kepemimpinan Taufik Hidayat menyalahi AD/ART atas adanya empat pimpinan yang rangkap jabatan.
Mantan Ketua Harian KONI Lampung menilai hal itu merupalan pelanggaran Pasal 22, Ayat 2, AD/ART KONI yang melarang pengurus rangkap jabatan di cabang olahraga (cabor) yang berpotensi konflik kepentingan.
Salah seorang Wakil Ketua Bidang Organisasi KONI Lampung Rudi Antoni merasa heran atas kritik tersebut. Selama ini, hal itu sudah lumrah, termasuk era Amalsyah Tarmizi jadi ketua harian dan waketum 1 KONI Lampung periode lalu.
Menurut seorang mantan pengurus KONI Lampung, di Dewan Kehormatan juga terjadi pelanggaran AD/ART. Seharusnya yang jadi anggota masuk mantan-mantan ketua umum di Dewan Kehormatan.
Ada pula pengurus yang merasa berkeringat mengantarkan para calon ketua umum bahkan menenteng map dukungannya langsung ke kediamannya malah "tegambui" tak masuk gerbong KONI Lampung periode ini.
Angin tak sedap juga berhembus hingga ada pengurus seolah "ngambek" akibat adanya pergeseran dan "wajah-wajah" baru yang diisukan "dekat" dengan "kekuasaan". Sayang, dikonfirmasi, mereka memilih no comment.
Entah apa maksudnya, ada pengurus cabor sampai bilang,"Bagusnya banyak yang mind ur nanti diganti keluarga semua lalu namanya jadi KONI Bersaudara." Masih banyak komentar-komentar yang intinya terjadi silang pendapat pascapengumuman kepengurusan KONI Lampung Periode 2025-2029. (HBM)