Penulis Dr. Edarwan, SE., M.Si.
Pemerhati Kebijakan Publik dan Ekonomi Daerah
PENETAPAN Pekan Olahraga Nasional (PON) 2032 dengan tuan rumah bersama Lampung dan Banten oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sejatinya tidak dapat dipandang hanya sebagai agenda olahraga nasional biasa. Di balik keputusan tersebut, tersirat arah besar pembangunan nasional: wilayah barat Indonesia tengah diposisikan sebagai poros pertumbuhan ekonomi baru.
Selama ini PON kerap dimaknai sebatas pesta olahraga—tentang pertandingan, atlet, stadion, dan seremoni pembukaan. Padahal, dalam perspektif pembangunan modern, event olahraga berskala nasional sesungguhnya merupakan instrumen strategis untuk mempercepat transformasi daerah.
Pengalaman berbagai daerah menunjukkan hal itu. Jakarta pernah memanfaatkan momentum evenevent olahraga untuk memperkuat infrastruktur perkotaan. Sumatera Selatan memperoleh akselerasi pembangunan melalui Asian Games. Papua juga mengalami percepatan pembangunan fasilitas dasar, meskipun masih menyisakan berbagai evaluasi.
Kini, tantangan serupa berada di depan mata Lampung dan Banten. Apakah PON 2032 hanya akan menjadi euforia sesaat selama beberapa pekan, atau justru menjadi titik awal lahirnya pusat pertumbuhan ekonomi regional baru?
Pertanyaan tersebut menjadi sangat relevan karena setiap event besar selalu menghadirkan dua sisi sekaligus: kesempatan dan risiko.
Dari sisi peluang, dampaknya sangat menjanjikan. Kehadiran ribuan atlet, official, media, sponsor, hingga wisatawan akan menghidupkan berbagai sektor ekonomi daerah. Hotel akan penuh, restoran bergerak, UMKM tumbuh, jasa transportasi meningkat, kawasan wisata ramai, dan perhatian investor mulai tertuju ke daerah penyelenggara.
Namun di sisi lain, ancamannya juga nyata. Banyak daerah meninggalkan stadion yang tidak termanfaatkan, proyek yang dibangun terburu-buru, pembengkakan anggaran daerah, hingga fasilitas olahraga yang akhirnya menjadi bangunan kosong tanpa aktivitas ekonomi.
Karena itu, Lampung dan Banten tidak boleh memandang PON sebatas agenda seremonial tahunan. Event ini harus ditempatkan sebagai proyek strategis transformasi kawasan.
Sesungguhnya, Lampung memiliki modal yang sangat kuat. Posisi geografis sebagai pintu gerbang Sumatera, keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera, Pelabuhan Bakauheni, potensi wisata bahari, hingga pengembangan kawasan Kota Baru Jati Agung merupakan aset strategis yang selama ini belum digerakkan secara optimal.
Momentum PON dapat menjadi legitimasi politik sekaligus dorongan administratif untuk mempercepat berbagai agenda pembangunan yang selama ini berjalan lamban.
Bayangkan jika kawasan sport center dirancang terintegrasi dengan pusat ekonomi baru, hotel, sentra UMKM, kawasan kuliner, hingga destinasi sport tourism. Bayangkan pula apabila athlete village pasca-PON diubah menjadi kawasan pendidikan, hunian ASN, atau pusat industri olahraga.
Dalam skenario seperti itu, PON tidak lagi dipandang sebagai pengeluaran besar daerah, melainkan investasi pembangunan jangka panjang.
Di titik inilah peran pemerintah daerah menjadi sangat krusial. Kepala daerah tidak cukup hanya fokus membangun venue pertandingan. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan ekosistem ekonomi yang tumbuh di sekitar kawasan olahraga.
Sebab investor pada dasarnya tidak hanya tertarik pada stadion yang megah. Mereka datang ketika melihat kepastian arah pembangunan, tata ruang yang jelas, konektivitas infrastruktur yang baik, dan stabilitas kebijakan daerah.
Karena itu, PON 2032 harus dimaknai sebagai momentum membangun kepercayaan masa depan—bahwa Lampung dan Banten layak menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Apabila momentum ini mampu dikelola dengan visioner, dampaknya akan jauh melampaui sektor olahraga. Kawasan-kawasan baru akan tumbuh, nilai investasi meningkat, sektor perhotelan berkembang, industri kreatif bergerak, wisata olahraga lahir, bahkan ekonomi digital dan industri hiburan dapat ikut terdorong.
Tetapi ada satu syarat utama: pembangunan tidak boleh berhenti pada proyek fisik semata. Sebab sejarah menunjukkan, keberhasilan sebuah daerah bukan diukur dari megahnya stadion yang dibangun, melainkan dari kecerdasannya mengubah event menjadi warisan ekonomi yang berkelanjutan.
Dan hari ini, Lampung–Banten sedang berdiri tepat di persimpangan sejarah tersebut. ***