Helo Indonesia

Ronda vs Gerandong Pemilu 2024

Annisa Egaleonita - Opini
Senin, 18 Desember 2023 10:00
    Bagikan  
Ronda vs Gerandong Pemilu 2024

Gufron Aziz Fuadi

Oleh Gufron Aziz Fuadi

LAMPUNG,HELOINDONESIA.COM -- 

Ini bukan tentang Ronda Jean Rousey yang pegulat profesional dan seniman beladiri campuran pada WWE. Tetapi tentang ronda malam yang sudah jarang terdengar lagi.

Ronda, kabarnya adalah salah satu program pemenangan Amin dalam Pilpres 2024. Program ini, bila berhasil dilaksanakan sebagaimana saat pilkada DKI terakhir, diyakini akan mampu meminimalisir dan menekan politik uang dari pihak lain yang konon uangnya "tidak berseri". Buanyaaak ...

Pilkada DKI, petugas atau relawan ronda berkeliling wilayah secara berkelompok, baik siang atau malam, untuk mendekati dan menghalau para "grandong" yang akan membagikan sembako dan atau uang kepada para warga. Dengan mengikuti atau mengawal dan memvideokan atau mendokumentasikan pergerakan para grandong, aksi politik uang menjadi canggung dan urung dilakukan.

Baca juga: 4 Jenis Makanan Bantu Tingkatkan Kinerja Otak, Ada Brokoli dan Buah Berry


Grandong adalah cucu sekaligus murid dari Mak Lampir dalam serial "Misteri Gunung Merapi." Berwajah bopeng berkulit biru abu abu dan sering menebar sembako eh teror di malam hari. Terutama menjelang pemilu dan pilkada. Untuk mencegah teror Grandong ini, biasanya masyarakat secara berkelompok melakukan ronda keliling kampung atau komplek.

Ronda, kata ini berasal dari bahasa Portugis dan Spanyol yang kemudian diserap dalam bahasa Belanda saat Spanyol, hampir 100 tahun menjajah Belanda hingga tahun 1648. Istilah ronda ini kemudian dibawa Belanda ke Indonesia untuk suatu kegiatan patroli keliling untuk menjaga keamanan suatu wilayah.

Maka di negara Peru juga ada istilah ronda campesinos pada saat berlangsungnya perang sipil pada periode 1980-an.

Awalnya para jawara kampung lah bertugas melakukan ronda menjaga wilayah dari gangguan keamanan, kemudian berkembang menjadi aktifitas yang melibatkan semua warga untuk berpartisipasi menjaga keamanan bersama.

Baca juga: Suami Bekerja di Malaysia, Istri Tewas Dibunuh di Semaka Tanggamus


Perkembangan berikutnya ronda menjadi bagian dari Siskamling pada 1981, saat Awaludin Jamil menjadi Kapolri. Dan kemudian dipertegas dan diperjelas dalam Perkapolri 23/2007, khususnya pasal 8 ayat (3) huruf b.

Berdasarkan hasil berbagai penelitian, diketahui bahwa ronda malam mampu menjaga stabilitas keamanan kampung karena berkurangnya tingkat kejahatan berdasarkan indikator-indikator kejahatan terutama di malam hari.

Bahkan saat jaman Jepang, koran Asia Raya, 17 April 1943 melaporkan: "Sejak diadakan peraturan ini (kewajiban ronda) keadaan di sekitar Tegal jadi semakin aman...,”

Hal ini sesuai dengan tujuan diadakannya ronda, yaitu meningkatkan rasa aman dan nyaman warga. Mencegah tindakan kriminal seperti pencurian, perampokan, atau vandalisme. Mendorong rasa solidaritas dan kebersamaan antarwarga. Membantu pemerintah dalam menjaga ketertiban dan keamanan wilayah.

Baca juga: Deretan Film Dokumenter Netflix Terbaik, Pembunuhan, Penipuan dan Perjalanan Hidup


Sesuai dengan namanya, ronda yang artinya adalah patroli berkeliling maka disamping kumpul di pos ronda dan membunyikan kentongan setiap waktu (satu jam misalnya), secara berkala kelompok ronda juga berkeliling untuk memastikan tidak adanya gangguan keamanan.

Peralatan dasar ronda adalah pos ronda sebagai tempat titik kumpulnya peronda, peralatan seperti tongkat atau pentungan dan alat lain yang dibolehkan serta (dulu) kentongan. Tidak lupa juga kode ketukan kentongan yang menandakan peristiwa apa yang sedang terjadi. Berikut ini adalah kode yang biasa digunakan:
Kentongan dipukul 1-1-1 (titir) = adanya berita lelayu.
Kentongan dipukul 2-2-2 (dua kali berulang-ulang) = ada pencuri, rampok/menangkap pencuri.
Kentongan dipukul 3-3-3 (tiga kali berulang-ulang) = ada kebakaran (bencana alam).
Kentongan dipukul 4-4-4 (empat kali berulang-ulang) = adanya banjir (bencana alam).
Kentongan dipukul 5-5-5 (lima kali berulang-ulang) = adanya maling barang / maling ternak.
Kentongan dipukul 6-6-6 (enam kali berulang-ulang) = situasi aman terkendali.

Meski tidak sesulit menghafal kode Morse, tetapi sering kali kentongan dipukul secara asal karena panik, saat terjadi sesuatu. Kalau sudah begini bagaimana jalan keluarnya?
Ya pakai smart phone saja ke wa grup RT/RW atau komunitasnya serta bila perlu telepon kepada yang diperlukan. Intinya ronda tetap berjalan dan para grandong kehilangan ruang gerak. Sehingga wabah atau racun demokrasi bisa dicegah.

Allah memerintahkan kita untuk ribath (berjaga jaga, ronda) seperti dalam Ali Imran ayat 200:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, Aku pernah mendengarkan Rasulullah Saw bersabda, "Ada dua mata yang tak disentuh api Neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang begadang untuk berjaga (ronda, patroli) di jalan Allah."

Baca juga: Propam Polri Jamin Netralitas Polri pada Pemilu 2024


Dan banyak diriwayatkan dalam berbagai hadist tentang keutamaan ribath (ronda) di jalan Allah menjaga keselamatan kaum muslimin. Secara kontekstual menjaga bukan sejedar menjaga harta dan jiwa tetapi juga menjaga "suara" dalam hak politiknya.

Dalam riwayat Imam Bukhari, Nabi Saw bersabda: "Ribath selama satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya."

Lantas apakah kita harus ronda dalam menghadapi pemilu dan pilpres?
Ya, kecuali kita percaya kepada afarat bahwa dia bisa menjalankan tugas menjaga agar grandong tidak berkeliaran dan merusak suara rakyat. Bukan sebaliknya, mengamankan supaya grandong bisa bergerak bebas membungkam, mengintimidasi dan mengiming-imingi rakyat.


Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)