Helo Indonesia

Catatan Tulisan HBM, Memaknai 2 Generasi Lampung Maju

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 23 Mei 2025 11:49
    Bagikan  
-
HELO LAMPUNG

- - Prof. Sudjarwo

Oleh Prof. Sudjarwo*

KEMARIN, Kamis (22/5/2025), Herman Batin Mangku (HBM) menulis opini tentang kepemimpinan Zainal Pagaralam (Datuk Zainal) dibandingkan dengan Mirzani Jausal (Iyay Mirza). Tulisan yang lugas dan bernas itu mencoba menyejajarkan dua matahari yang terbit sama tempat tapi beda waktu.

Perbedaan yang mencolok di samping beda generasi adalah beda tuntutan, beda pula jaman. Namun esensi keduanya adalah sama. Tulisan ini mencoba melihat sisi lain dari apa yang dilihat HBM, jika sama itu berarti melengkapi, namun jika berbeda itu adalah soal cara pandang.

Baca juga: Iyay Mirza dan Datuk Zainal, Mimpi 2 Generasi Lampung Maju

Datuk Zainal (ZAP) ditakdirkan babat alas untuk Provinsi Lampung. Dia harus berjuang dengan bertungkuslumus menyiapkan segala sesuatu dari tidak ada untuk menjadi ada. Pekerjaan seperti ini maknanya adalah: bagaimana membuat ada.

Konsekwensinya jelas mengadakan yang tidak ada adalah perkara yang tidak sederhana. Semua jurus harus dikeluarkan dengan satu tujuan “Lampung Maju”. Datuk Zainal pertama-tama bagaimana membebaskan masyarakat daerah bebas dari kebodohan.

Beliau memanggil para putra daerah yang kuliah di Pulau Jawa untuk kembali ke kampung halamannya membangun universitas sendiri: Prof.Sitanala Arsyad, Alduki Husni Hamim, dkk. Tanpa APBD dan APBN, mereka berkolaborasi dengan pengusaha mendirikan cikal bakal Universitas Lampung.

Masih banyak lagi yang digagas Datuk Zainal agar Lampung Maju. Ide besar ini dilanjutkan oleh penjaga marwahnya, yakni Sjachhroedin ZP sebagai titisan daerahnya melanjutkannya dengan gagasan Kota Baru.

Bagaimana dengan Iyay Mirza? Anak muda berusia 45 tahun yang satu ini “menyusun yang ada” untuk menjadi selalu ada, yaitu “makna”. Lampung Maju tidak bermakna apa-apa jika Iyay Mirza hanya berada pada wilayah “cari aman”; seperti kepemimpinan sebelumnya.

Iyay Mirza harus berani keluar dari zone nyaman dan menunjukkan jati diri sebagai anak muda yang memiliki Pi’il Pasenggiri dengan menerobos kebuntuan, merombak kemampanan yang tidak mapan untuk mewujudkan visinya Lampung Maju agar tak berhenti pada slogan saja.

Jika lautan makna adalah ruang pencarian, gunung kesabaran adalah tantangan perjalanan itu sendiri. Mendaki gunung mengandung unsur perjuangan yang berat dan memerlukan ketekunan tinggi. Gunung sebagai simbol tujuan luhur menuntut manusia untuk mengembangkan kekuatan batin, komitmen, dan ketahanan.

Proses pendakian ini mirip dengan proses internal manusia dalam memahami dirinya dan dunia di sekitarnya. Setiap langkah mendaki adalah refleksi perjuangan melawan kelelahan, keraguan, dan ketakutan. Namun di puncak gununglah, manusia bisa memperoleh perspektif baru yang lebih luas, seperti halnya menemukan makna hidup yang lebih dalam setelah melalui proses panjang dan sulit.

Kehidupan manusia bukan hanya soal pencarian makna (berenang di lautan), tapi juga soal ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi proses panjang (mendaki gunung). Kedua aspek ini saling melengkapi. Tanpa pencarian makna, kesabaran akan kehilangan arah dan tujuan.

Tanpa kesabaran, pencarian makna mudah menjadi sia-sia karena manusia cepat menyerah. Manusia yang bijak adalah mereka yang mampu menyelami lautan makna sekaligus tekun mendaki gunung kesabaran. Mereka memahami bahwa makna hidup tidak datang secara instan, melainkan melalui proses pengalaman, refleksi, dan keteguhan hati.

Berenang dalam lautan makna mengajak manusia juga untuk berhenti sejenak, merenung, dan mencari apa yang benar-benar penting. Mendaki gunung kesabaran mengajarkan bahwa setiap pencapaian berarti harus diusahakan dengan ketekunan, bukan dengan cara instan.

Datuk Zainal sudah membuktikan bagaimana berenang dalam lautan makna, dan mendaki gunung kesabaran. Iyay Mirza dengan modal yang ada seharusnya lebih siap dari Datuk Zainal jika dilihat dari sumberdaya manusia. Bahkan Iyay Mirza diuntungkan keluarganya banyak yang pioneer dalam bidangnya seperti omnya Ansyori Djauzal dan ayahnya sendiri dalam bidang usaha.

Lainnya, relasi sosial pendukung orang muda yang berjiwa muda banyak ada disekitarnya; maka kesiapan amunisi sosial sejatinya lebih siap dari Datuk Zainal. Tidak salah kalkulasi sosial jika dilakukan sebagai bahan prediksi, Iyay Mirza seharusnyaselangkah lebih maju.

Mereka berdua mendaki gunung yang sama namun dengan makna yang berbeda. Jika Datuk Zainal membuka jalan untuk diteruskan agar sampai puncak sementara Iyay Mirza sebagai penerus sudah dipersiapkan semuanya tinggal menginstrumentasikan saja agar harmoni.

Jika Iyay Mirza mampu menjadi diregen yang baik, maka tidak menutup peluang untuk dua periode agar Lampung betul-betul maju. Namun jika Iyay Mirza menyia-nyiakan kesempatan emas yang dimilikinya, maka tidak pelak bakal tinggal sejarah dalam rangkain tahun pada buku sejarah.

Semoga Iyay Mirza mampu menangkap makna dan menjadi pendaki yang handal; untuk terus mewujudkan impian kita bersama.

Untuk HBM dan kawan-kawan, semoga tetap mampu melihat batu yang tajam di dalam air yang jernih.

Salam Waras

* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

 -