Helo Indonesia

Belajar Kepemimpinan yang Melukai Rakyat dari Pati

Annisa Egaleonita - Opini
Selasa, 12 Agustus 2025 10:39
    Bagikan  
Belajar Kepemimpinan yang Melukai Rakyat dari Pati

MZM

Oleh: Muzzamil*

Ini juga bukannya bermaksud ngajarin buaya berenang. Takda maksud. Apalagi, ngajarin kalkun ber-"kuluk-kuluk-kuluk-kuluk-kuluk."

Hanya alarm pengingat. Belajar dari Pati. Dari mana, konon ratusan ribuan warga kabupaten sini, di Jawa Tengah sana, yang sudah kadung tersinggung perkataan "mulutmu harimaumu" dari sang pemimpinnya, dan terus sukarela berhimpun tergabung gerakan 'Pati Bersatu' menyatakan siap gelar demo besar-besaran 13 Agustus 2025.

Dengan tuntutan melebar, tak lagi sekadar. Meminta bupati minta maaf dan berjanji tak ulangi lagi berkata verbal menantang rakyat. Tuan puannya. Pemilik sah kedaulatan daerah dan wilayah kabupaten dipimpinnya.

Menarget jauh lebih besar: menuntut DPRD Kabupaten setempat gelar Sidang Paripurna Istimewa beragenda tunggal: (sesuai tuntutan utama) pemakzulan Bupati Pati Sudewo atas serangkaian kebijakan yang dianggap telah merugikan masyarakat, termasuk kenaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan - Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen, yang telah dibatalkan; serta pemberhentian pegawai RSUD Soewondo.

Warga nilai, pinta maaf dan keputusan bupati batalkan kenaikan PBB-P2 tak cukup redam aksi. Warga kadung 'kuciwa'. Mereka tetiba ingat syair Cita Citata: "sakitnya tuh di sini." Sila lanjutkan, Cita mania.

Warga mendongak, mereka mengerdip ada kejernihan "proposal hati" yang lebih terukur demi diperjuangkan.

Sebab yakini bahwa petuah tidak ada kata terlambat itu betul, merekapun berhimpun menuntut satu perubahan lebih mendasar, berakar hingga ke akar-akarnya, perubahan radikal (dari kata "raddick", berarti akar) dalam tata kelola pemerintahan daerah setempat.

Bagi mereka, tak apa 6 bulan tersakiti, asal sisa 4,5 tahun masa jabatan kedepan tak itu lagi. Cukup sudah, pinjam syair Glenn Fredly.

Padahal 'mbengi', Sabtu 9 Agustus lewat, warga yang terus berdatangan ke posko donasi depan Pendopo Bupati buat suasana memadat. Tak cuma sum-suman; begono, begini, tak ayal warga juga puas curhat.

Peristiwa pemberhentian tanpa pesangon 220 mantan pegawai RSUD Soewondo yang telah mengabdi belasan dan puluhan tahun, menjadi salah satu isu yang mencuat.

Pemberhentian lewat mekanisme tes ulang tersebut dituding aneh, bau politik. Puluhan tahun mengabdi, kami diberhentikan tanpa pesangon sama sekali,” kuak salah satunya. Harkat kemanusiaannya serasa tercabik.

Warga mencium aroma politik, mengendus aura ketidakadilan, bak petugas forensik merekapun menyimpulkan secara scientific bahwa yang tengah mereka hadapi: bentuk ketidakadilan berbungkus kebijakan publik.

Notabene bagian dari lingkar the ruling party, partai penguasa (eksekutif), bupati kader politik ini seyogianya belajar dari dua atasan politiknya: ketua provinsi, dan ketum partai yang kini cum orang nomor satu di republik ini dan tengah emban amanat 287 juta rakyat.

Bahwa menyiksa rakyat itu ya, nyiksa diri.

Dan bahwa tipikal pemimpin adigang adigung adiguno, angkuh, bengis, jumawa, kejam, kikir alias medit alias pelit (misal kikir silaturahmi, medit senyum, pelit informasi, dan lainnya), serampangan dan sejenisnya. Sombong amat, ujar tenar potongan dialog Mandra.

Adalah sesejatinya tipikal musuh rakyat. Yang harus jauh dijauhi lantaran segala watak anti: antirakyat, antidemokrasi, antikritik, berikut bonus: kontrarevolusioner; pada saat ini tak cuma telah amat sangat baheula sekali (demi untuk tidak menyebutnya watak purba).

Tetapi juga, watak merugi. Merugikan. Pun bagi diri sendiri. Dan merugilah.

Sebab sia sudah, perjuangan menahun bertahun-tahun: mengorganisir mengkader diri, gembleng hati jadi kader terbaik, jibaku merebut kekuasaan konstitusional melalui Pilkada, lalu runtuh bak kesiram hujan sehari. Gegara terlanjur mulutmu harimaumu. Itu. Gegara lupa, arogansi musuhnya resistensi.

Telah banyak literatur, kuasa tumbang ulah kutukan. Kutukan kekuasaan. Karena daulat rakyat ya juga daulat bumi ya juga daulat Tuhan. Dari itu amarahnya, amarah rakyat, selain amarah bumi, konon jua amarah Tuhan. Makanya ada 'suara rakyat suara Tuhan', kan?

Mari mengaji dan mengkaji lagi, makna hakiki bunyi Quran Surat Al Kautsar. Bahwa salah satu faedah surat, yakni sebagai doa agar Allah SWT memberikan pertolongan saat manusia-manusia hamba-Nya, para umat penyembah-Nya, sedang teraniaya.

Cukup Pati. Lainnya jangan lagi. Ulah bakal menambah daftar masalah. Dan selain itu, kasihan Cita Citata. Tak cukup waktu lari sama kemari tuk sekadar dendangkan lagi. Sakitnya tuh disini. (*)

*) Aktivis 98, Ketua Badan Pekerja Centre for Democracy and Participative Policy Initiatives Studies/CeDPPIS, kontributor Helo Indonesia.

#heloindonesia