Helo Indonesia

Makan Satu Nampan Dengan Gubernur di Lantai Teras Masjid

Herman Batin Mangku - Opini
3 jam 35 menit lalu
    Bagikan  
AL AMIN
HELO LAMPUNG

AL AMIN - Gubernur Mirza (jaket hitam) bersama tenaga pendamping gubernur urusan pertanahan H. Darussalam, SH, MH, dan lainnya di teras Masjid Al Amin (Foto Helo)

DI TENGAH dunia yang gemar membedakan meja -- siapa duduk di depan, siapa di pinggir, di teras Masjid Al Amin, Pahoman Kota Bandarlampung, semua itu luruh. Tak ada perbedaan antara gubernur, pengusaha, pensiunan lah lamo, wartawan, aktivis, Gen-Z, pengurus masjid. Mereka makan bersama dalam satu nampan di lantai.

Mereka duduk melingkar, menunduk dalam diam, lalu mengulurkan tangan ke satu nampan yang sama. Tak ada piring pribadi, tak ada jatah istimewa. Yang ada hanyalah kebersamaan yang sengaja dilatih terus-menerus, konsisten, setidaknya setiap pekan.

Usai siraman rohani, salat, dan doa-doa, aroma nasi hangat mulai menyapa. Tikar digelar, lauk sederhana ditata, tangan-tangan saling menyodorkan piring. Pada saat itulah majelis menemukan wajahnya yang paling manusiawi: makan bersama.

undefined

Nasi putih dan lauk sederhana itu bukan sekadar pengganjal lapar. Ia adalah pelajaran yang dimakan perlahan. Di setiap suapan, ada ego yang diturunkan. Di setiap jeda, ada adab yang dipelajari tanpa guru bicara. Tangan bergerak hati-hati, seolah takut melukai rasa saudaranya sendiri.

Makan bareng bersama majelis bukan sekadar urusan perut. Ia adalah lanjutan dari dzikir yang menjelma laku, dari pengajian yang turun ke tanah. Di meja yang sama—atau tikar yang sama—orang-orang belajar bahwa iman tidak hanya dihafal, tetapi juga dirasakan melalui kebersamaan.

Dalam ajaran Islam, kebersamaan adalah pintu keberkahan. Rasulullah SAW mencontohkan makan bersama para sahabat tanpa jarak dan tanpa pembeda. Tidak ada tempat khusus bagi yang kaya, tidak ada piring istimewa bagi yang terpandang.

Makanlah kalian bersama-sama dan jangan makan sendiri-sendiri, karena sesungguhnya keberkahan itu bersama kebersamaan.” (HR. Abu Dawud). Hadis itu hidup di atas nampan. Bukan sebagai kutipan di dinding, melainkan sebagai laku yang dikerjakan.

Rasulullah SAW kerap makan bersama para sahabat tanpa membeda-bedakan status sosial. Ini menjadi teladan bahwa kebersamaan dalam makan adalah bagian dari adab dan akhlak mulia.

undefined

Beginilah kaum jaulah menjaga jarak agar tetap dekat. Menyatukan perut supaya hati tak saling menjauh. Dalam satu talam, semua kembali setara—tak ada yang lebih dahulu kecuali adab, tak ada yang lebih banyak kecuali syukur.

Di saat dunia berlomba menumpuk, satu nampan justru mengajarkan cukup. Di saat manusia sibuk menegaskan identitas, makan bersama mengajarkan untuk melepasnya.

Barangkali karena itulah, dari tradisi yang tampak sederhana ini, lahir persaudaraan yang bertahan lebih lama daripada jamuan mewah. Dan kelak, ketika perjalanan jaulah usai, ketika langkah pulang ke rumah masing-masing, satu nampan itu akan tetap tinggal.

Dia menjadi saksi sunyi bahwa pernah ada sekelompok manusia yang memilih duduk setara, menyebut nama Tuhan dalam diam, dan pulang dengan hati yang lebih lapang daripada saat mereka datang.

Semua duduk sejajar. Semua makan dari hidangan yang sama. Dari sanalah lahir pelajaran sunyi: bahwa kemuliaan bukan pada apa yang dimakan, melainkan pada siapa yang diajak berbagi.

Majelis memahami hal itu dengan cara yang membumi. Setelah lantunan ayat dan tausiyah, makanan hadir sebagai sedekah yang berjalan pelan—tidak diumumkan, tidak dipamerkan.

Siapa memberi, ia memberi diam-diam. Siapa menerima, ia menerima tanpa merasa direndahkan. Di antara suapan, doa-doa kecil terucap lirih: semoga yang memasak diberi kesehatan, semoga yang bersedekah dilapangkan rezekinya, semoga kebersamaan ini dicatat sebagai amal.

Budaya Nusantara memberi warna yang hangat pada tradisi ini. Di Jawa dikenal bancakan, di Lampung dan Sumatra ada kenduri, di banyak tempat disebut berkat. Islam tidak menyingkirkan tradisi itu; ia memurnikannya. Niat diluruskan, doa dipanjatkan, kebersamaan diteguhkan.

Maka makan bersama menjadi jembatan antara langit dan bumi—antara nilai agama dan kearifan lokal. Di situlah makna sosialnya bekerja. Makan bersama menghapus jarak yang kerap tak sanggup dihapus pidato. Orang yang jarang bicara menemukan ruang untuk tersenyum.

Yang sedang susah merasa tidak sendirian. Yang berkecukupan belajar menundukkan hati. Tak ada debat, tak ada hirarki—yang ada hanya sendok, piring, dan rasa cukup. Lebih dari itu, makan bareng bersama majelis adalah pengingat akan hakikat hidup: bahwa manusia diciptakan untuk saling menguatkan.

Iman tumbuh bukan hanya di sajadah, tetapi juga di antara lauk sederhana dan tawa pelan. Keberkahan tidak selalu turun lewat peristiwa besar, kadang ia datang lewat nasi hangat yang dibagi rata.

Ketika majelis bubar dan tikar digulung, yang tertinggal bukan sekadar rasa kenyang. Ada ikatan yang menguat, ada hati yang dipeluk kebersamaan. Di meja yang sama, orang-orang pulang dengan keyakinan baru: bahwa berbagi—sekecil apa pun—adalah jalan sunyi menuju ridha-Nya. (HBM)