Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi
SEORANG ustadz dalam ceramahnya mengatakan: memasak itu bukan tugas istri, mencuci juga bukan tugas istri, begitupun beberes rumah. Tugas istri cuma dua yaitu taat pada Allah dan taat pada suami. Jadi kalau suami memintanya untuk masak, mencuci, atau beberes rumah ya taati perintahnya!
Secara eksplisit, memang tidak ada ayat atau hadits yang mewajibkan istri memasak atau beberes rumah. Bahkan para ulama fikih klasik (seperti Mazhab Hanafiyah, Syafi'i dan termasuk Dzahiri) berpandangan itu tanggung jawab suami sebagai bagian dari nafkah.
Namun adat kebiasaan ada dalil urf (kebiasaan) yang mengindikasikan bahwa ini secara umum adalah tugas istri. Bahkan tradisi seolah olah mengatakan bahwa istri yang baik adalah yang pandai dalam tiga hal yaitu pandai masak, manak dan macak (pandai memasak, pandai melahirkan dan mendidik anak serta pandai berdandan/berhias).
Meskipun ini urf atau tradisi, tetapi itulah yang berlangsung di masyarakat kita. Oleh karena itu sebagai orangtua, kita harus mengajarkan keterampilan semacam itu kepada anak anak sebagai life skill (ketrampilan hidup) yang akan menjadi bekal mengahadapi perjalanan hidup kedepan.
Life skill memang tidak hanya itu. Karena life skill adalah kemampuan praktis dan psikososial untuk menghadapi tantangan sehari-hari secara efektif, mencakup keterampilan berpikir (kritis, kreatif, memecahkan masalah, mengambil keputusan), sosial (komunikasi, empati, kerja tim), dan pribadi (mengelola emosi, stres, waktu, diri sendiri).
Keterampilan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup, sukses di dunia kerja, dan membangun hubungan yang sehat, mulai dari hal dasar seperti memasak hingga kemampuan interpersonal yang kompleks.
Ketrampilan diatas umumnya tidak diajarkan di sekolah-sekolah, oleh karena itu orang tuanya lah yang harus lebih berperan.
Pada musim liburan sekolah, terutama liburan semester, adalah waktu yang sangat tepat untuk meningkatkan life skill anak anak. Karena pada hari hari biasa anak anak sudah habis waktu untuk sekolah yang umumnya full day school atau bahkan sebagian ada yang boarding school sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk berlatih life skill.
Bila anak anak perempuan dikenakan dan dilatih ketrampilan domestik, maka anak laki-laki juga perlu dilatih ketrampilan yang sesuai dengan tantangan yang akan dihadapi nanti. Intinya mereka harus bisa dan terbiasa mengerjakan sesuatu, paham standarnya, dan terbiasa bertanggung jawab terhadap sesuatu.
Berbagai penelitian menyebutkan bahwa anak yang biasa memiliki tanggung jawab tertentu cenderung lebih bisa dipercaya dalam pekerjaannya setelah dewasa. Juga anak dengan life skill yang bagus cenderung lebih sukses di masa depan karena mereka lebih siap menghadapi tantangan, lebih mandiri, percaya diri, tangguh, dan mampu beradaptasi dengan perubahan, yang semuanya merupakan bekal penting untuk sukses dalam karir maupun kehidupan pribadi, tidak hanya bergantung pada nilai akademik.
Orangtua seharusnya takut bila meninggalkan generasi penerusnya orang yang lemah dan plonga-plongo, meskipun karena kekuasaan dan koneksinya mereka sudah disiapkan pekerjaan yang menjanjikan. Karena itu hanya akan mendatangkan bencana baik untuk dirinya maupun masyarakat.
Untuk itu Allah mengingatkan dalam surat An-Nisa Ayat 9: "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."
Dzurriyyatan dhi'afan atau generasi lemah menurut para ulama mencakup beberapa aspek: lemah aqidah dan ibadah, lemah ilmu dan ketrampilan, lemah akhlak dan karakter, serta lemah ekonomi dan kesejahteraan.
Libur Telah Tiba!
Ya, dalam beberapa pekan kedepan anak anak sekolah mendapat libur cukup panjang. Apa yang sudah orang tua rencanakan untuk mengisi liburan panjang ini? Apakah akan membiarkan anak anak meneruskan kebiasaannya menjadi kaum rebahan sambil memainkan gawai-nya?
Seharusnya tidak kan?
Para orangtua belum terlambat untuk mulai melatih life skill mereka. Bisa dimulai dengan obrolan ringan tentang pentingnya life skill dan life skill apa yang wajib dan sunah dimiliki juga minat dan bakatnya. Yakinkanlah bahwa life skill itu lebih urgen dibanding life style.
Coba saja dulu. Karena memang sekarang ini giliran orang tua mendidik anak-anaknya sebelum nanti serahkan kembali kepada guru disekolah nya.
Selamat mencoba!
Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)
-
