Penulis Gunawan Handoko
Mantan Sekretaris Karang Taruna Provinsi Lampung
SAYA menulis tentang organisasi Karang Taruna bukan sebagai pengamat, tapi sebagai saksi hidup sekaligus pelaku. Beberapa waktu lalu, sahabat Herman Batin Mangku (HBM), sesama mantan aktivis Karang Taruna menulis di media ini tentang sosok “orang gila” bernama Amin Fauzi. AT. yang mendedikasikan diri selama puluhan tahun demi untuk membesarkan Karang Taruna.
Tulisan bung HBM telah mengusik hati saya untuk nimbrung menulis. Bukan tentang sosok Amin Fauzi AT, karena saya mengenalnya dari A sampai Z. Apa yang ditulis bung HBM tidak ada yang perlu dibantah. Di mata saya, bung Amin Fauz AT sosok “orang gila” yang tidak pernah berhenti berpikir untuk mengurus Karang Taruna, dari tidak ada menjadi ada.
Saking gilanya, beliau membuat WAG untuk mewadahi ratusan mantan aktivis Karang Taruna, sebagai ajang silaturrahmi dan mengenang sebuah perjalanan panjang Karang Taruna dengan suka dan dukanya. Dari perjuangan panjang dan melelahkan, pada tahun 90-an, Departemen Sosial RI menyatakan provinsi Lampung purna Karang Taruna.
Artinya, di seluruh desa dan kelurahan telah berdiri organisasi Karang Taruna. Bukan sekedar papan nama, tapi juga kepengurusannya. Bahkan gemanya menembus benteng Istana. Pada 1995, provinsi Lampung dipercaya menjadi tuan rumah Bulan Bhakti Karang Taruna Nasional. Presiden Soeharto dan Ibu Tien hadir, termasuk para Menteri dan Gubernur se Indonesia.
Kehadiran Presiden bukan untuk mendengar laporan, tapi melihat langsung hasil kerja nyata pemuda desa dari seluruh Tanah Air, khususnya di bidang usaha ekonomis produktif dan kesejahteraan sosial. Saya salah satu peserta dari Lampung yang mendapat penghargaan Presiden atas keberhasilan budidaya terumbu karang, bersama sahabat bung Abdullah Fadri dan Nivolin.
Itulah kenangan terindah, kali pertama (dan terakhir) bisa berjabat tangan dengan Presiden di Lapangan Desa Hanura, Kabupaten Lampung Selatan (sekarang Kabupaten Pesawaran).
Ada lagi kenangan diselimuti duka, saat terjadi gempa LIwa Kabupaten Lampung Barat pada Februari 1994. Bung Amin Fauzi AT menugaskan saya mengomandani Tim Relawan Karang Taruna untuk terjun ke Desa Way Empulau Ulu. Berbekal beras dan ikan asin, dilandasi semangat kesetiakawanan sosial, ratusan relawan berhasil mengangkat dan memperbaiki puluhan rumah warga yang roboh.
Dimasa itu, Karang Taruna benar-benar menjadi “kampus pemuda”. Disana pemuda belajar memimpin tanpa kekuasaan, melayani tanpa pamrih. Kami bicara tentang perut yang lapar, pemuda putus sekolah dan nganggur, korban penyalahgunaan narkoba dan permasalahan sosial lainnya.
Berbagai upaya dilakukan demi terciptanya lapangan kerja bagi pemuda desa. Melakukan pelatihan, menjalin kerjasama dengan Balai Latihan Kerja dan Industri (BLKI) dan lembaga lainnya. Dari latihan mengelas, menjahit, sablon, konveksi hingga merias pengantin.
Dengan bangga para pemuda memulai usahanya secara berkelompok maupun mandiri, dengan memasang plang dan dibawahnya tertulis: “Binaan Karang Taruna”. Hari ini, 30 tahun berselang nama Karang Taruna masih sakti. Selalu disebut di setiap sambutan acara di desa atau kelurahan.
Masyarakat menilai generasi muda identik dengan Karang Taruna. Hanya bedanya, ketika nama itu disebut, tidak ada satupun pemuda yang berdiri sambil angkat tangan. Karena orangnya memang tidak ada.
Yang ada hanya papan nama lusuh yang terpasang di depan balai desa. Lalu, siapa yang salah, anak muda kah?
Mungkin, sebagian anak muda tidak pernah merasakan nikmatnya punya ketua yang datang ke balai desa bukan bawa proposal, tapi bawa gagasan. Mereka tidak pernah diajak rapat sampai tengah malam untuk memikirkan nasib kaum muda yang nganggur, suka mabok-mabokan dan tawuran.
Setiap kali rapat hanya membahas persiapan kegiatan 17-an, siapa ketua panitianya, acaranya apa saja, dan berapa besar biaya yang dibutuhkan. Sementara, banyak kepada desa atau lurah yang bersikap apatis dan masa bodoh. Bahkan tidak bisa menjawab ketika ditanya siapa ketua Karang Taruna sekarang.
Tapi, selama namanya masih disebut di setiap rapat, berarti Karang Taruna belum mati, maka jangan kita kubur dengan tangan kita sendiri, tapi dibangkitkan kembali. Jangan sampai gaung Karang Taruna hanya rame saat digelar Temu Karya di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi, tapi juga rame di tingkat desa dan kelurahan.
Kembalikan Karang Taruna ke Khittahnya
Jujur harus diakui, selama kurun waktu 10 tahun, keberadaan Karang Taruna di Provinsi Lampung mengundang kegelisahan. Pemuda desa seperti kehilangan induk, nyaris tak tersentuh. Padahal mereka pemilik sah organisasi yang menganut keanggotaan stelsel pasif, dimana setiap generasi muda, dari usia 16 hingga 30 tahun secara otomatis anggota Karang Taruna.
Maka sudah saatnya untuk mengembalikan Karang Taruna ke khittahnya, sebagai garda terdepan kesejahteraan sosial. Karang Taruna harus kembali ke tugas pokoknya, yakni melakukan pembinaan dan pengembangan di bidang kesejahteraan bagi masyarakat, khususnya masyarakat pemuda.
Hari ini Karang Taruna Provinsi Lampung dan Kabupaten/Kota butuh sosok ketua yang bukan saja cerdas, tapi hati nuraninya basah, memiliki jiwa sosial tinggi. Otaknya dipakai untuk berpikir dalam menangani berbagai permasalahan sosial yang dihadapi generasi muda, dan mencari solusi pemecahannya.
Hatinya dipakai untuk menangis ketika menyaksikan banyaknya pemuda nganggur. Sudah waktunya suara Karang Taruna menggema lagi, biar generasi muda tahu bahwa Lampung pernah punya Karang Taruna yang membuat Presiden terpanggil untuk datang dan tersenyum manis.
Jangan biarkan nama Karang Taruna sekedar menjadi kenangan, tapi jadikan ia kebanggaan lagi. Ini tanggungjawab kita bersama. Pemerintah, Gubernur, Bupati/Walikota hingga Lurah/Kepala Desa, dan kita semua yang dulu pernah merasakan pahit getirnya ber-Karang Taruna.
Negara tidak akan pernah kuat jika akar rumputnya rapuh. Dan akar rumput itu dipegang pemuda.
(Bersambung)
Disana pemuda belajar memimpin tanpa kekuasaan, melayani tanpa pamrih. Kami bicara tentang perut yang lapar, pemuda putus sekolah dan nganggur, korban penyalahgunaan narkoba dan permasalahan sosial lainnya.
