Helo Indonesia

Pergantian Tahun 2026 Bersama Gubernur Mirza di Teras Masjid

Herman Batin Mangku - Opini
Kamis, 1 Januari 2026 14:43
    Bagikan  
TAHUN BARU 2026
HELO LAMPUNG

TAHUN BARU 2026 - Majelis kecil kaya hikmat (Foto Rusdi/Helo)

Catatan Herman Batin Mangku*

SEKITAR dua jam menjelang pergantian tahun 2026, setelah menuntaskan urusan pemerintahan, Rahmat Mirzani Djausal memilih menutup harinya dengan itikaf—berdiam dan beribadah di masjid. Ia tampak sumringah saat menginjakkan kaki di teras Masjid Al Amin, Pahoman, Kota Bandarlampung.

Tak terlihat sedikit pun gurat lelah di wajah pemimpin muda Lampung itu, meski seharian penuh ia bergelut dengan denyut birokrasi dan aspirasi rakyat. Di tangan kanannya, tasbih terus berputar, seirama dengan cerita-cerita sahabat yang mengalir pelan, hangat, dan penuh makna.

undefined

Gerimis turun perlahan, menambah syahdu suasana. Majelis “kecil” di teras masjid itu terasa seperti kopi yang baru diseduh—sederhana, hangat, dan jujur. Para jamaah datang dari beragam latar belakang, membawa kisah hidup dan pengalaman rohani masing-masing.

Percakapan mengalir tanpa skenario, ada yang gacor , senyum-senyum, menyimak hingga sesekali terpantik tawa, kadang mengajak merenung, namun semuanya bermuara pada satu tujuan: mengasah ketakwaan.

Tak lama berselang, anak-anak Gubernur Mirza menyusul bersama teman-temannya. Dengan santun, mereka menyalami para jamaah—orang-orang yang telah lebih dulu menempuh gelombang kehidupan yang panjang dan tak selalu ramah.

Pemandangan itu sederhana, namun terasa menyejukkan.

Masjid malam itu benar-benar menjadi rest area jalan tol kehidupan. “Hidup ini sementara, akhirat selamanya,” ucap H. Darussalam, SH, MH, yang sejak tahun lalu memilih berhijrah sepenuhnya ke jalan dakwah.

Malam kian larut, kejutan demi kejutan yang hadir. Sejumlah tokoh dan aktivis tampak larut dalam kebersamaan, duduk setara, dipersatukan oleh frekuensi yang sama.

Tepat pukul 00.00 WIB, meski tak semeriah tahun-tahun sebelumnya, dentuman petasan dan kilau kembang api masih memecah kesunyian malam. Gubernur Mirza tak berkomentar apa pun, apalagi menyalahkan siapa pun.

Dengan gamis yang sepertinya pesan dari Shopee atau Tokopedia warna biru lengan pendek, tasbih di jemarinya terus berputar, seolah mengantarkan doa-doa ke langit. 

Beberapa hari sebelumnya, pria yang akrab disapa Iyay Mirza itu memang telah mengajak masyarakat menjadikan malam tahun baru sebagai momentum kebersamaan keluarga, tanpa euforia berlebihan yang berpotensi membahayakan keselamatan.

“Tahun baru tidak harus dirayakan dengan petasan atau kembang api. Yang terpenting adalah maknanya. Mari manfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga, menjaga empati, ketertiban, dan keselamatan,” ujarnya.

Tak lama setelah suara petasan kian jarang terdengar, para jamaah memilih merebahkan diri sejenak. Malam belum usai. Salat tahajud, zikir, dan doa menjadi pengantar harapan agar hari esok lebih baik. Jika tahun 2025 dilalui dengan efisiensi dan kondisi negara yang terasa berat, semoga fajar 2026 datang membawa cahaya baru bagi kita semua.

Usai salat Subuh dan sarapan pagi bersama, kebersamaan tak serta-merta usai. Para jamaah kembali saling mengasah pikiran dan adu ilmu, meneguhkan niat untuk terus meningkatkan ketakwaan.

Tanpa protokoler, tanpa notulen, beberapa rencana sederhana disepakati—tentang konsistensi untuk tetap berada di jalan-Nya.
Di teras masjid itu, tahun baru tak dirayakan dengan hingar-bingar, melainkan dengan kesunyian yang penuh makna. Selamat datang tahun baru, harapan baru. 

* Pimred Club -