Oleh: Andi Firmansyah
Pengurus SPPN VII*
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Group sedang mengakselerasi diri melalui program transformasi bisnis yang fundamental. Tidak hanya kebijakan makro, segala tetek bengek sebagai instrumen mempercepat perubahan juga dioprek. Dari konsiderans yang menjadi landasan hukum perusahaan, struktur kelembagaan dan organisasi, peraturan perusahaan, penyesuaian hari jam kerja, hingga berbagai atribusi yang diyakini akan menjadi energi metafisik membangun budaya kerja yang kuat.
Mei 2025 lalu, Holding Perkebunan Nusantara (HPN), sebutan lain untuk PTPN Group meluncurkan “One PTPN, One Culture”. Arti harafiahnya, satu PTPN (perusahaan), satu budaya (kerja). Ada banyak pesan yang ingin disampaikan pada tagline yang disaripatikan dari nilai-nilai AKHLAK besutan Kementerian BUMN. Secara ringkas, anak kalimat dari One PTPN, One Culture adalah Owner's Mindset, Networking, and Excellence, kesadaran pemikiran tentang rasa memiliki, memperkuat jaringak kerja yang kolaboratif, dan berbudaya kerja unggul.
Tim kreatif perusahaan bekerja keras untuk menciptakan simbol-simbol ini, lengkap dengan atribut-atibut yang menyertai. Ada logo, ada desain grafis, ada komposisi warna, bahkan ada pesan spiritualnya. Tak lupa, tim juga menciptakan yel-yel, lagu mars, bahkan telah diatur standar strategi kampanyenya. Tim Culture Roadshow dibentuk untuk keliling semua unit kerja dengan pesan: One PTPN One Culture bukan sekadar slogan dan seterusnya.
Transformasi memang butuh effort, biaya, dan energi besar. Itulah mengapa transformasi di tubuh PTPN Group bukan aksi korporasi rutin atau restrukturisasi aset di atas kertas, melainkan sebuah manifesto perjuangan untuk tumbuh bersama dalam satu wadah yang lebih kokoh. Namun, apakah usaha keras ini akan berhasil memenuhi ekspektasi yang tinggi, mengubah kultur lama kepada budaya baru yang kompetitif dan berkeadilan?
Di level pekerja lini lapangan, transformasi bisnis yang dilakukan PTPN adalah harapan. Harapan untuk reputasi perusahaan yang lebih menterang, harapan untuk suasana kerja yang lebih nyaman, dan yang lebih hakiki, harapan untuk kesejahteraan yang lebih baik.
Ini adalah upaya para elite perusahaan membangun "kapal induk" perusahaan yang bermuara kepada stabilitas ekonomi nasional. Sebab, situasi VUCA ekonomi global yang sangat mengguncang memang harus disikapi dengan perubahan yang radikal sehingga PTPN Group semakin tangguh. Hanya perusahaan yang sehatlah yang akan melahirkan karyawan sejahtera.
Dalam konteks perubahan yang sedang berproses di PTPN Group, transformasi tampaknya masih sebatas kampanye slogan-slogan. Yel-yel terus diteriakkan di kabun-kebun sunyi yang berada di lipatan Nusantara.Ada perubahan berarti yang cukup menggembirakan.
Alhamdulillah, sejak genderang transformasi didengungkan, kinerja perusahaan, baik secara holding, subholding Palm Co, Sugar Co, dan Supporting Co cukup progresif. Ini adalah indikasi bahwa perubahan kultur memiliki korelasi dengan pencapaian kinerja.
Namun demikian, pencapaian ini masih jauh dari ekspektasi sebagaimana dipersyaratkan pemerintah dengan dukungan yang sangat besar. Tampaknya, residu budaya lama butuh waktu panjang untuk disingkirkan.
Tidak mudah untuk mendeteksi apakah budaya kerja dengan semangat One PTPN, One Culture berhasil atau belum. Tetapi, para pekerja, terutama di lini lapangan yang berubah menjadi semangat, menjadi jarang mangkir, menjadi lebih produktif, menjadi akrab dengan sesama pekerja, itulah keberhasilan. Namun, di level elite, perubahan itu sulit direkam. Sebab, mereka adalah pemegang loop, kaca pembesar searah yang bisa menge-zoom setiap detail aktivitas di bawahnya. Sedangkan sebaliknya, karyawan pelaksana berhadapan dengan kaca cermin dari luar dan transparan dari dalam ruangan.
Dalam konteks ini, keberhasilan penerapan budaya kerja baru yang banyak keunggulannya itu bukan mustahil. Namun, ini mensyaratkan satu hal mutlak: “Kita harus berani memutus rantai egosentrisme eks-entitas yang selama ini sering kali menghambat akselerasi kita secara kolektif.”
Sebab, gejala itu masih sangat terasa di lini para pengambil kebijakan.
Keberhasilan masa lalu di masing-masing Regional memang merupakan kebanggaan, tetapi itu bersifat historis yang tetap harus mendapat penghargaan. Namun, realitas objektif bahwa di tengah persaingan global yang brutal, kekuatan yang terfragmentasi hanya akan membuat perjalanan perusahaan ini rentan dan terseok. Masa depan menuntut pergeseran paradigma radikal, dari sekadar memikirkan "kesuksesan unit saya" menjadi komitmen utuh demi "kemenangan grup kita".
Upaya meluruhkan sekat-sekat eksklusivitas entitas asal bukanlah bentuk penghapusan identitas, melainkan langkah krusial untuk membangun fondasi budaya kerja yang lebih bermartabat.
Selain mengharap kesadaran muncul dari masing-masing individu, sesungguhnya ada instrumen organik yang tak bisa lepas dari tanggung jawab. Yakni, peran serikat pekerja sebagai wakil karyawan untuk menyalurkan aspirasinya kepada manajemen. Termasuk mengingatkan model dan gaya kepemimpinan yang tidak sejalan dengan semangat perubahan budaya.
Di tengah arus perubahan yang deras ini, Pengurus Pusat Serikat Pekerja ditantang untuk bersuara. Sebagai delegasi pekerja, mereka tidak boleh terlena oleh fasilitasi dan berada di zona nyaman sambil menonton permainan.
Aspirasi di akar rumput membutuhkan pengawalan yang nyata, bukan sekadar basa-basi birokrasi, karena sinergitas sejati hanya bisa terwujud jika pengurus pusat hadir sebagai garda terdepan yang kritis dan progresif terhadap setiap kebijakan yang menyentuh nasib pekerja.
Pengurus Pusat Serikat Pekerja memikul beban moral untuk memastikan bahwa efisiensi korporasi harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai keadilan sosial bagi seluruh pekerja. Diamnya suara pusat di tengah transisi ini hanya akan memperlebar celah ketidakadilan yang merugikan mereka yang selama ini telah berkinerja tinggi.
Residu masa lalu masih terlihat kental di level top manajemen. Ini tidak sehat. Sebab, persaingan sesungguhnya bukan berada di dalam ruang-ruang kantor, antar-regional, atau antar individu, melainkan di pasar internasional. Oleh karena itu, suara seluruh insan PTPN—mulai dari staf terbawah hingga pucuk pimpinan serikat pusat— seharusnya berhenti menoleh ke belakang pada sekat-sekat lama yang membatasi potensi masa depan. (*)
