Penulis Majid Lintang
Jurnalis senior asal Lampung
MALAM turun di Medan seperti kain hitam yang dililitkan perlahan ke tubuh kota. Lampu-lampu jalan menggigil dalam kabut tipis. Angin membawa bau hujan yang belum jadi, bercampur anyir selokan dan asap pembakaran sampah dari sudut-sudut gang yang lupa tidur.
Di kota ini, besi lebih dicintai daripada kenangan. Pagar rumah lenyap satu per satu. Tutup got menguap seperti ditelan bumi. Potongan tiang, baut jembatan, seng tua, jeruji jendela kosong—semuanya berjalan diam-diam menuju timbangan para pengepul.
Warga menyebut para pencurinya dengan satu nama yang lahir dari kemarahan dan putus asa: Rayap Besi. Mereka menggerogoti kota tanpa suara. Tetapi malam itu, kota kehilangan malu terakhirnya.
Kuburan Dibongkar.
Rahmat sudah tiga belas tahun menjaga tanah pemakaman di pinggir kota. Rambutnya memutih seperti abu dapur. Punggungnya membungkuk, seolah setiap batu nisan yang ia lihat saban hari ikut menindih tulangnya sedikit demi sedikit.
Ia hafal nama-nama yang tertulis di batu. Hafal tanggal lahir, tanggal wafat, bahkan jenis tangis keluarga yang mengantar ke liang lahat. Ada tangis yang meledak seperti kaca pecah. Ada tangis yang diam dan lebih menyakitkan dari teriakan mana pun.
Di ujung barat makam, ada pusara kecil dengan nisan sederhana. Di sanalah istrinya, Salmah, tidur sejak tujuh tahun lalu. Setiap sore Rahmat menyapu daun-daun kering di atas makam itu. Setiap sore ia berkata, “Aku masih di sini.” Dan tanah menjawab dengan diam yang setia.
Pagi itu, seekor gagak bertengger di pohon kamboja. Ia berkaok panjang, seolah membawa kabar buruk dari langit. Rahmat berjalan sambil membawa sapu lidi. Langkahnya terhenti ketika melihat tanah di blok barat porak-poranda. Sebuah liang terbuka. Nisan rebah. Besi pagar makam tercabut. Tanah berserakan seperti tubuh yang dipermalukan.
Ia berlari ke pusara Salmah.
Nisan itu miring. Besi kecil penyangga batu sudah hilang. Rahmat berlutut. Tangannya gemetar menyentuh tanah basah. Untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal, ia menangis dengan suara. “Maafkan aku,” bisiknya. “Aku gagal menjagamu dua kali.”
Angin meniup daun kamboja. Tak ada jawaban. Sejak hari itu, Rahmat tidak lagi pulang selepas magrib. Ia membawa lampu senter, termos kopi pahit, dan parang tua yang lebih banyak karat daripada tajamnya. Ia duduk di gardu kecil, menunggu malam membuka rahasianya.
Kuburan adalah tempat yang jujur. Siang hari manusia datang membawa doa. Malam hari, mereka membawa wajah asli. Menjelang pukul dua, ia mendengar bunyi logam beradu pelan.
Cing. Lalu suara cangkul menyayat tanah. Rahmat bangkit. Di antara deretan nisan, tiga bayangan bergerak seperti tikus besar. Mereka mencabut pagar besi dari makam keluarga kaya yang marmernya masih mengilat. Rahmat menyorotkan senter. “Berhenti!”
Ketiga bayangan itu terkejut. Dua lari melompati parit. Satu tersandung akar kamboja dan jatuh tersungkur. Rahmat mengejar dengan napas terbakar. Ketika tubuh itu dibalikkan, ia tercekat. Anak muda. Baru sekitar dua puluh tahun. Wajah kurus. Mata cekung. Bibir pecah-pecah. Bau lem dan lapar menempel di napasnya.
Namanya Dika. “Kenapa kuburan?” tanya Rahmat, suaranya retak. Dika tertawa kecil. Tawa yang tak sehat. “Karena yang hidup sudah pasang CCTV, Pak.” Kalimat itu menghantam lebih keras dari batu. Rahmat mengikat tangan Dika dengan tali rafia dan membawanya ke gardu. Hujan turun tipis-tipis, seperti langit malu menyaksikan percakapan mereka.
“Orangtuamu di mana?”
“Mati.”
“Kerja?”
“Kalau ada.”
“Malu kau?”
Dika menatap gelap di luar gardu. “Lapar lebih keras dari malu.” Rahmat terdiam. Ia ingin marah. Ingin menampar. Ingin menyeret anak itu ke kantor polisi. Tetapi wajah Dika terlalu muda untuk dibenci sepenuhnya.
“Kawanmu siapa?” “Banyak.” “Pengepulnya?” Dika tersenyum miring. “Itu baru orang kaya, Pak.”
Hujan makin rapat. Rahmat merasa kota ini seperti sumur tua yang airnya telah lama busuk. Pagi harinya, Rahmat membawa Dika ke sebuah warung. Ia membeli nasi, telur balado, dan teh panas.
Anak itu makan seperti serigala yang takut makanannya direbut waktu. Setelah piring tandas, Dika menangis diam-diam. “Aku pernah ziarah ke makam ibu,” katanya. “Sekarang aku bongkar makam orang lain. Mungkin aku sudah jadi setan.”
Rahmat menatap tangan tuanya sendiri. Tangan yang pernah bekerja di pelabuhan, pernah menggendong anak, pernah menggali liang untuk istrinya. “Tidak,” katanya pelan. “Setan tidak pernah menyesal.”
Mereka mendatangi gudang rongsokan di pinggir rel. Timbangan besar tergantung seperti lidah raksasa. Tumpukan besi berkarat menjulang: pagar rumah, tutup got, pipa, rangka ranjang, potongan gerbang, dan entah apa lagi.
Pemilik gudang itu gemuk, licin, dan terlalu ramah. Rahmat menunjuk beberapa batang besi bercat putih. “Itu dari kuburan.” Lelaki itu mengangkat bahu. “Besi ya besi.” “Ini dosa.” “Kalau dosa bisa ditimbang, saya paling kaya.”
Rahmat tak ingat kapan terakhir kali ia meninju orang. Namun tinjunya mendarat juga, pelan tapi cukup untuk menjatuhkan senyum licin dari wajah lelaki itu. Orang-orang berteriak. Polisi datang. Keributan meledak seperti karung paku dibanting ke lantai.
Dan untuk sesaat, kota itu mendengar suara dirinya sendiri. Berita menyebar cepat. Gudang disegel. Beberapa nama ditangkap. Banyak lagi yang lenyap seperti asap. Tetapi Rahmat tahu, rayap tidak mati hanya karena satu papan diganti.
Selama lapar dibiarkan tumbuh di gang-gang sempit, selama serakah duduk nyaman di kursi empuk, selama besi lebih mahal dari harga diri—rayap akan selalu menemukan jalan pulang.
Sore beberapa hari kemudian, Rahmat kembali ke makam Salmah. Ia menegakkan nisan yang miring. Menanam bunga melati baru. Menyapu daun-daun kamboja sampai bersih.
Langit berwarna jingga pucat.
“Aku terlambat marah,” katanya pada pusara itu. “Tapi belum terlambat belajar.”
Angin datang lembut, membawa harum tanah basah.
Di kejauhan, azan magrib mengalun seperti kain putih dibentangkan di atas luka kota. Rahmat duduk di samping makam, menunggu malam lagi. Karena ia tahu, menjaga yang mati kadang berarti mengingatkan yang hidup.***
