Helo Indonesia

Setahun Gubernur Mirza, Flashback ke Poedjono Pranyoto

Herman Batin Mangku - Opini
Selasa, 3 Maret 2026 14:00
    Bagikan  
-
HELO LAMPUNG

- - HBM

Oleh Herman Batin Mangku
Pimred Helo Indonesia

SEKITAR 30 tahun lebih menekuni profesi jurnalistik, satu nama yang selalu pantas dikenang sebagai teladan kepemimpinan di Lampung adalah Gubernur ke-6, Letjen TNI (Purn) Poedjono Pranyoto (1988–1998). Ia bukan sekadar kepala daerah kesayangan Presiden Soeharto, tetapi juga figur yang dicintai rakyatnya.

Berkumis tebal dan berbadan tinggi besar, Poedjono tampil berwibawa tanpa menciptakan jarak, rajin mendengar, rendah hati, dan tidak NATO— no action, talk only. Padahal, pada masa itu, cukup dipertebal muka dan diberi bumbu carmuk (cari muka) ke Pak Harto sudah jadi tiket jitu buat melanggengkan kursi jabatan. 

Tapi, sejak menginjakkan kaki di Lampung sebagai gubernur pada tahun 1988, Poedjono langsung masuk ke hati masyarakat daerah ini. Dia kumpulkan jajaran dan tokoh masyarakat untuk menemukan nilai-nilai lokal sebagai fondasi kebijakan pembangunan yang akan dilakukannya.

Dan ketemu, lima prinsip hidup masyarakat Lampung— piil pesenggiri—ditetapkan Mas Jon, panggilannya, sebagai panduan bagi kepemimpinannya di Sai Bumi Ruwa Jurai. Sejak saat itu, budaya Lampung tak lagi terpinggirkan, bahkan mulai go nasional dan internasional. 

Rasanya pantas, sahabat jurnalistik koran kampus saya SKM Teknokra, Oedjang menjulukinya: "The Smiling Governor", murah senyum, tak pernah bernada tinggi ke staf, apalagi ngajak berantem wartawan dan rakyatnya. Ia kerap turun ke lapangan secara incognito, menyamar naik sepeda motor demi mendengar langsung keluh kesah dan harapan rakyat.

Malam hari, diskusi lesehan atau ngopi bareng dengan seniman, budayawan, agamawan, hingga masyarakat akar rumput. Jika sudah ada tablig saat itu, mungkin ikut nongkrong di Masjid Al Amin. Olahraga, pendidikan, dan kesetaraan gender pun tak luput dari perhatiannya.

Mantan Menhut Siti Nurbaya adalah salah satu figur perempuan yang diorbitkan hingga dipercaya memimpin Bappeda Lampung sebelum kemudian melanjutkan kariernya di Jakarta. 

Mantan Pj Gubernur Lampung Samsudin (19/6/2024 hingga 20/20/2025) dan  Gubernur M Ridho Ficardo (2914-2019) adalah jebolan lembaga pendidikan Al Kautsar yang digagas Poedjono. Samsudin sebagai guru dan Ridho sebagai murid. 

Infrastruktur dibangun: jalan lingkar Kota Bandarlampung, ruas-ruas jalan daerah diperpanjang, dan dari kepemimpinannya lahir enam kabupaten/kota baru. Pembangunan, kondusifitas politik-keamanan, dan kepercayaan publik mengantarkannya ke periode kedua.

Bahkan, setahun sebelum masa jabatan keduanya berakhir, ia diminta mengemban tugas berskala nasional, yakni menjadi Wakil Ketua DPR RI pada 3 Oktober 1997. Tak lama berselang, ia pamit dari panggung persilatan politik menjelang Reformasi 1998.

undefined

Poedjono dan Darwin Ruslinur, wartawan yang jadi ketua penyusunan Buku Putih PWI Lampung

Poedjono dan Wartawan

Di balik kepemimpinannya yang kokoh dan kesuksesan memimpin Lampung, Poedjono beririsan dengan media dan wartawan. Pada masa itu, jumlah media masih hitungan jari dan wartawan belum sampai ratusan apalagi sampai ribuan seperti saat ini. Organisasi wartawan juga hanya PWI.

Namun, "The Smiling Governor" berhasil merawat hubungannya dengan media dan wartawan bahkan bisa dibilang mesra. Coba tanyakan kepada Mantan Ketua PWI Supriyadi Alfian, tiga Mantan Anggota DPR Lampung (Noverisman Subing dan Darwin Ruslinur, dan Himawan Ali Imron), serta Maspriel Aries.

Supriyadi yang kala itu wartawan olahraga SKH Lampung Post, Noverisman biro media nasional Suara Pembaruan, Darwin perwakilan koran nasional Suara Karya, dan Himawan Ali Imron yang kini CEO RMOL Lampung, Maspriel yang menutup karier jurnalistiknya di Republika.

Menjelang Reformasi, para wartawan muda itu dengan teman satu visinya mulai “memberontak” dari zona nyaman organisasi tunggal yang direstui Kementerian Penerangan.

Poedjono kembali menunjukkan kelasnya. Ia merangkul kegelisahan itu, memfasilitasi sekretariat agar para wartawan muda bisa berkongkow, berdiskusi, dan bertarung gagasan—tetap untuk Lampung.

Dari sinilah kerja-kerja pemerintah tersampaikan luas, dari pusat hingga pelosok desa. Tanpa komunikasi yang jujur, mungkin saja potret sang gubernur bisa selalu “diisengi” Abung Mamasa, ketua IJP, tampil pakai peci miring dengan mulut mengot.

Hubungannya yang tulus dengan wartawan terbukti hingga Poedjono tak lagi jadi gubernur. Kemesraan hubungan itu tetap terjaga. Imam Untung Slamet alias Jiun dan lainnya yang juga wartawan selalu silaturahmi dan update informasi dengan sang mantan gubernur hingga meninggal tahun 2021.

undefined

Mirza dan Euforia Pers

Sesungguhnya, Gubernur Lampung saat ini, Rahmat Mirzani Djausal alias Iyay Mirza, menghadapi medan yang jauuuh lebih berat dan kompleks dibandingkan Era Poedjono. Pembangunan harus dipikirkan dengan kondisi kantong cekak, sementara arus informasi bergerak liar dan nyaris tak bisa ada yang bisa menahannya seperti yang dialami gubernur sebelumnya. 

Iya sih, kapal bukan dirancang buat bersandar tapi bagaimana mengarungi lautan. Seorang nahkota kapal harus pandai-pandai bersahabat dengan alam, jangan malah menantang badai dan ombak setinggi gunung. Bisa bikin mules kru dan penumpang. Rakyat ingin nyaman melihat kepemimpinan tanpa "gaduh".

Di era digital saat ini, setiap orang bisa punya media online bahkan bisa "ternak" media. Belum lagi, setiap orang -- tanpa harus menyandang profesi wartawan -- lewat medsos lainnya -- tiktok, IG, dll -- yang sekali pencet langsung menyebar sejagad tanpa perlu konfirmasi atau klarifikasi. 

Mirza tampak sadar betul, wartawan dan media bukan sekadar penonton, melainkan bagian dari energi yang sama-sama ingin pembangunan sukses di Lampung. Dia sendiri mengajak media dan wartawan ikut membangun Lampung lewat penanya, bukan malah ikut-ikutan "ngeborong" dan jadi malas nulis. 

Untuk pertama kalinya, Hari Pers Nasional (HPN) didukung penuh untuk diselenggarakan di Lampung. Semua organisasi wartawan didengar. Gedung Pemprov Lampung dipersilakan menjadi rumah bersama untuk pelantikan kepengurusan organisasi wartawan dan media.

Di eranya, Ikatan Jurnalis Pemprov Lampung (IJP) yang sempat tegambui satu dasawarsa sontak bangkit dan makin solid. Puncaknya terlihat saat IJP meluncurkan koran dan buku tentang kesuksesan satu tahun kepemimpinan Mirza–Jihan, Senin (2/3/2026), jelang berbuka puasa Ramadan 1447 H.

Pilihan diksi “cerdas” pada judul utama —Langkah Cerdas Menuju Indonesia Emas — sudah dapat menjadi indikator telah terbangunnya chesmistry -- hubungan kepala daerah dengan IJP serta rekan-rekan jurnalis lainnya dalam mengawal visi kepala daerah muda yang dipilih sekitar 82 persen warga Lampung.

Saya yang mendapatkan kehormatan duduk satu meja diskusi sambil menunggu buka puasa bersama—pena yang 30 tahun lebih selalu ereksi dan waspada meradar amanat rakyat, ditambah duduk di samping Pangdam dan ditatap Kadiskominfotik dari jauh, setelah beduk, jadi ikut semanis kolek pisang buka puasa. (*)