HELOINDONESIA.COM -SPKLU kini mulai menjadi tempat yang semakin akrab bagi pengguna mobil listrik. Banyak orang datang untuk mengisi daya sebelum melanjutkan perjalanan, bekerja, atau beraktivitas. Namun ketika charger terbatas dan antrean mulai muncul, kenyamanan bersama tidak lagi ditentukan oleh teknologi mobil, melainkan oleh sikap penggunanya.
1 Charge seperlunya, idealnya sampai 80 persen saat antrean ramai
Pada pengisian cepat (DC fast charging), baterai biasanya terisi sangat cepat hingga sekitar 80 persen. Setelah itu, kecepatan pengisian akan menurun cukup signifikan. Mengisi dari 80 ke 100 persen bisa memakan waktu jauh lebih lama dibanding mengisi dari 20 ke 80 persen.
Organisasi otomotif dan komunitas EV di berbagai negara menyarankan pengguna untuk mempertimbangkan berhenti di sekitar 80 persen ketika kondisi SPKLU sedang ramai atau ada kendaraan lain yang menunggu.
Baca juga: Rumah Advokasi Rakyat Desak Kejati Copot Kepala Kejaksaan Negeri Bangkalan
2. Setelah selesai, segera pindahkan kendaraan
Begitu pengisian selesai atau sudah mencapai target yang dibutuhkan, segera geser mobil ke tempat parkir biasa. Jangan tetap menempati slot SPKLU sambil minum kopi, makan, bekerja, atau mengobrol jika masih ada antrean.
Di komunitas EV internasional, kebiasaan menempati charger terlalu lama setelah pengisian selesai dikenal sebagai charger hogging dan dianggap tidak sopan karena menghambat pengguna lain.
3. Jangan menggunakan slot SPKLU sebagai tempat parkir
Area charger hanya diperuntukkan bagi kendaraan yang sedang melakukan pengisian daya. Memarkir mobil listrik tanpa mengisi daya sama saja dengan menutup akses bagi pengguna lain yang benar-benar membutuhkan pengisian.
Baca juga: Rudi Gaul: GBRAN Jatim Fasilitasi Sekolah Gratis untuk Anak Papua
4. Hormati urutan antrean
Jika semua charger penuh, ikuti prinsip first come, first served. Jangan menyerobot, memotong antrean, atau berpindah jalur untuk mendapatkan charger lebih dahulu.
Beberapa jaringan charger di luar negeri bahkan menerapkan sistem antre digital untuk mengurangi potensi konflik antar pengguna.
5. Siapkan pembayaran dan aplikasi sebelum tiba
Pastikan aplikasi SPKLU, kartu pembayaran, RFID, atau metode transaksi sudah siap sebelum kendaraan diparkir di slot charger. Waktu pengguna lain juga berharga.
Baca juga: Anggrek Indonesia Mendunia, Rudy Mintarto: Pemerintah Sia-siakan Potensi Ekonomi
6. Jangan mencabut kabel mobil orang lain tanpa izin
Meskipun kendaraan terlihat sudah penuh, jangan mencabut konektor milik pengguna lain tanpa persetujuan. Ini termasuk etika dasar yang sangat ditekankan oleh komunitas EV di Eropa, Inggris, dan Australia.
7. Kembalikan kabel dan jaga fasilitas
Setelah selesai, cabut konektor dengan benar dan kembalikan ke dudukannya. Jangan membiarkan kabel tergeletak di tanah karena dapat merusak konektor dan membahayakan pengguna lain.
8. Tetap berada dekat kendaraan saat fast charging
Pada pengisian cepat, sebaiknya pemilik kendaraan tidak pergi terlalu jauh. Banyak pengguna EV di luar negeri memilih tetap berada di sekitar lokasi agar bisa segera memindahkan mobil ketika pengisian selesai.
9. Gunakan fast charging untuk kebutuhan perjalanan
Jika baterai masih tinggi dan tidak sedang melakukan perjalanan jauh, pengisian di rumah atau charger AC lebih dianjurkan. Fast charging sebaiknya diprioritaskan untuk pengguna yang membutuhkan tambahan daya secara cepat.
Etika Kecil yang Berdampak Besar
Budaya kendaraan listrik bukan hanya soal teknologi baterai dan charger, tetapi juga soal kedewasaan penggunanya. Mengisi seperlunya, segera memindahkan kendaraan, tertib antre, dan menjaga fasilitas bersama akan membuat pengalaman menggunakan SPKLU lebih nyaman bagi semua orang.
Semakin banyak mobil listrik di jalan, semakin penting pula budaya saling menghargai di SPKLU. Kemajuan ekosistem EV tidak hanya ditentukan oleh banyaknya charger, tetapi juga oleh etika para penggunanya.
Sumber utama website
* RAC UK – Electric Car Charging Etiquette:
* Irish EV Association – Charging Etiquette:***(AdiG)
