Helo Indonesia

Anggrek Indonesia Mendunia, Rudy Mintarto: Pemerintah Sia-siakan Potensi Ekonomi

Satwiko Rumekso - Internasional
1 jam 53 menit lalu
    Bagikan  
Rudi Mintarto
Liputan

Rudi Mintarto - Saat menerima penghargaan

HELOINDONESIA.COM -Kecintaan Rudy T. Mintarto terhadap anggrek berawal dari kegemarannya menjelajahi alam saat masih duduk di bangku SMA pada pertengahan 1970-an. Bersama komunitas pecinta alam, ia sering mendaki gunung dan melihat langsung keindahan anggrek yang tumbuh di hutan.

“Waktu itu yang sering kami bawa pulang justru edelweiss, bukan anggrek. Tapi melihat anggrek berbunga di hutan membuat saya merasa tanaman ini sangat menarik,” ujar Rudy

Ketertarikan itu tumbuh perlahan. Setelah lulus SMA, ia mulai memperhatikan beragam jenis anggrek dan semakin tertarik karena jumlah spesiesnya yang sangat banyak. Memasuki era 2000-an, Rudi bersama sejumlah teman bahkan rutin masuk hutan di Kalimantan satu hingga tiga kali dalam setahun khusus untuk memotret anggrek, bukan mengambilnya.

Baca juga: Front ASAM Ultimatum Dishub Jatim, Ratusan Sopir Angkot Malang Ancam Turun Jalan

“Tujuan kami fotografi. Kami datang, memotret, lalu pulang. Tidak pernah mengambil anggreknya,” kata Rudy T Mintarto yang juga merupakan Putra Mas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar)

undefined

Dari aktivitas dokumentasi itu, mereka sempat membuat blog perjalanan. Namun Rudi merasa jangkauan blog terlalu terbatas. Dari situlah muncul gagasan menerbitkan majalah anggrek.

Menerbitkan Majalah Orchid Indonesia

Pada 2008, Rudy meluncurkan majalah Orchid Indonesia. Majalah ini berbeda dari kebanyakan media hobi saat itu karena dicetak dengan kualitas foto yang baik dan menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

“Kami membuat lima artikel berbahasa Inggris karena saya merasa pecinta anggrek dunia juga berhak mengetahui perkembangan anggrek Indonesia,” ujarnya kepada awak media, 3 Agustus 2026

Baca juga: Tiga Bank Dunia Tarik Dana Rp11 Triliun dari Indonesia, Ini Alasannya

Kehadiran majalah tersebut sempat mengejutkan komunitas peranggrekan nasional. Rudy mengaku tidak berasal dari Perhimpunan Anggrek Indonesia, organisasi yang sudah lama dikenal sejak era Ibu Tien Soeharto.

“Banyak yang heran, tiba-tiba ada orang dari luar komunitas resmi membuat majalah anggrek dengan kualitas serius,” katanya.

Melalui majalah itu, Rudy mulai berinteraksi dengan para pakar, kolektor, dan pemilik nursery besar. Jaringan komunitas anggrek pun terbentuk dengan sendirinya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Soroti Keanehan Pengelolaan Dana BUMD, Presiden Prabowo Mengangguk

Menembus Pameran Internasional

Sejak 2009, Rudy mulai menghadiri pameran anggrek internasional di Thailand, Taiwan, Singapura, dan negara lain untuk mencari bahan berita bagi majalahnya. Karena aktif menulis dalam bahasa Inggris, namanya mulai dikenal penyelenggara pameran luar negeri.

Pada 2010, ia mendapat undangan untuk mewakili Indonesia dalam penataan display anggrek di ajang internasional. Dari situlah kariernya sebagai juri anggrek internasional dimulai.

“Di banyak pameran internasional, peserta yang membuat display biasanya juga ditawari menjadi juri. Sejak saat itu saya ikut menjadi juri,” ungkapnya.

Menariknya, Rudi mengaku tidak memiliki nursery maupun kebun anggrek komersial seperti kebanyakan juri internasional.

“Saya mungkin satu-satunya juri yang tidak punya nursery besar. Modal saya lebih ke literasi, fotografi, dan jaringan komunitas,” katanya sambil tertawa.

Prestasi Rudi Mintarto di Dunia Anggrek

Berangkat tanpa jalur pembinaan pemerintah, dengan modal semangat dan uang pribadi, Rudy T. Mintarto justru mampu mengibarkan nama Indonesia di kancah anggrek internasional. Dari 35 pameran yang diikuti, 24 penghargaan berhasil diraihnya.

Tak hanya sebagai peserta, kiprahnya membuat ia dipercaya menjadi juri sebanyak 21 kali di berbagai ajang internasional. Jejak panjang itu menjadi bukti bahwa talenta dan kerja keras pelaku lokal mampu bersaing di tingkat dunia, meski minim dukungan sistematis dari negara.

undefined

Daftar Prestasi Rudy Mintarto 


Indonesia Sedang Booming Dendrobium

Menurut Rudi, perkembangan anggrek Indonesia saat ini sebenarnya sangat menjanjikan, terutama jenis Dendrobium yang berkembang pesat dari Kota Batu, Jawa Timur.

“DD Orchid dan teman-teman di Batu berhasil mengembangkan Dendrobium dengan sangat luar biasa. Beritanya sudah menyebar ke hampir seluruh Asia Tenggara,” jelasnya.

Namun di balik potensi ekonomi yang besar itu, ia menilai ada persoalan serius: sulitnya mengekspor anggrek secara legal.


“Permintaan dari luar negeri tinggi, tetapi prosedur ekspor sangat sulit. Akibatnya banyak bibit anggrek Indonesia dibawa keluar secara ilegal,” tegas Rudy.

Ia mengaku sudah menyuarakan persoalan tersebut sejak pertama kali menerbitkan majalah pada 2008, tetapi hingga kini belum melihat perubahan signifikan.

Bandingkan dengan Thailand dan Taiwan

Rudi membandingkan kondisi Indonesia dengan Thailand, Taiwan, dan Singapura. Di negara-negara tersebut, dokumen ekspor anggrek bisa selesai kurang dari satu jam.

“Di sana surat bisa dibuat cepat, bahkan dari nursery. Tinggal dicap di bandara lalu anggrek bisa dibawa keluar. Kenapa di Indonesia begitu sulit?” ujarnya.

Ia menilai kemudahan ekspor akan sangat membantu petani dan pemilik nursery lokal untuk menembus pasar internasional.

Membawa Budaya Indonesia ke Panggung Dunia

Dalam setiap pameran internasional, Rudy selalu menjadikan budaya Indonesia sebagai pusat penataan stand.

“Stand Indonesia harus punya identitas budaya. Itu yang membuat penyelenggara selalu tertarik mengundang saya lagi,” katanya.

Agustus ini ia dijadwalkan mengikuti pameran di Filipina dan berencana mengangkat tema Jawa Timur  dalam display Indonesia.

Menurutnya, event anggrek bukan sekadar ajang tanaman hias, tetapi juga sarana promosi budaya dan pariwisata yang berlangsung terus-menerus.

“Sejak 2010 saya bisa pergi tiga sampai enam kali setahun membawa nama Indonesia. Ini sebenarnya promosi budaya dan pariwisata yang sangat efektif,” ujarnya.

Ia menambahkan, pameran internasional biasanya berlangsung tujuh hari dengan pengunjung yang bisa mencapai ratusan ribu orang.

“Belum lagi nilai perdagangannya. Potensinya besar sekali,” kata Rudy.

Harapan untuk Pemerintah

Di akhir perbincangan, Rudy menyampaikan harapan sederhana mewakili banyak pelaku anggrek Indonesia.

“Harapan kami hanya satu: permudah sistem ekspor anggrek dari nursery ke luar negeri. Potensi Indonesia besar sekali, sayang kalau terus terhambat oleh birokrasi,” pungkasnya.***(AdiG)