Rika Wes Tua, Ora Teyeng

Sabtu, 13 Januari 2024 08:37
Gufron Aziz Fuadi Gufron Aziz Fuadi

Oleh Gufron Aziz Fuadi

PADA Kompas.com, 10 Jan 2024, Jusuf Kalla: Kawan kita yang satu itu marah terus. Bagaimana kalau dia debat dengan kepala negara lain? Membaca judul berita itu saja kita sudah bisa menebak, pasti yang dimaksud Pak JK adalah orangtua yang umurnya di atas 70 tahun.

Sok tahu!
Tidak juga. Karena memang orang yang sudah berumur di atas 60 tahun, masuk kategori lansia sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Masa penuaan umur umatku dari 60 hingga 70 tahun". (HR Muslim dan An-Nasa-i).

Karena memang pada lansia, kondisi psikologi dan psikososial  mengalami krisis seperti ketergantungan pada orang lain, menarik diri dari masyarakat, meningkatnya emosi sehingga mudah marah dan tersinggung, sensitifitas psikologis, pikun dan bahkan munculnya depresi .

Oleh karena itu, Nabi Saw pernah berdoa agar terhindar dari usia hina. Bahkan ketika umurnya sudah 63 tahun, beliau menolak saat ditawari Allah dipanjangkan umurnya. Sebaliknya, beliau sering berdoa, " Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari usia yang paling hina".

Hal ini karena Rasulullah Saw menghindari kehinaan usia tua seperti gampang marah, tidak mandiri, suka mencari kambing hitam dan tentu saja pikun. Kebayangkan, kalau kita punya pemimpin yang pikun dan mudah marah?

Para ulama mengatakan yang dimaksud usia paling hina itu ya usia lansia. Karena pada usia itu, manusia biasanya nafsu besar tenaga kurang. Modal punya, kuasa ada tapi ora teyeng. Tapi nggak mampu. Tidak ada kesanggupan.

Usia 60 tahun adalah batas toleransi Allah. Karena Rasulullah Saw bersabda, "Allah SWT tidak akan menerima dalih/alasan seseorang sesudah Dia memanjangkan usianya hingga 60 tahun". (HR Al-Bukhari).

Nabi Muhammad Saw bersabda, "Jika datang hari kiamat maka akan diseru, 'Di manakah orang-orang yang berusia 60 tahun?"

Karena usia itulah yang dimaksud Allah dalam firman-Nya, "Apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir..." (Al Fathir: 37)


Ini renungan untuk kita yang hampir atau sudah memasuki usia 60 tahun. Usia yang kata para sufi seharusnya sudah lebih banyak melipat kasur (memperbanyak ibadah). Karena itu jangan terlalu mengejar kesenangan seperti kuliner atau dugem dan joget jogetan.

Dan kepada saudara dan kawan kawannya, sebaiknya tidak memberikan beban berat kepada lansia. Apalagi lansia tahap akhir (diatas 70 tahun). Karena amanah yang berat sangat mungkin tidak akan terpikul dengan baik.

Seseorang disebut amanah karena bisa dipercaya, paling tidak dalam dua hal, bisa dipercaya secara moral dan bisa dipercaya secara profesional. Orang yang moralnya bagus tapi profesionalitasnya rendah, dia tidak akan mampu mengemban amanah.

Begitupun sebaliknya, orang yang profesionalitasnya bagus tapi moralitas rendah, dia juga tidak bisa amanah.

Dikisahkan pada suatu kali Ma'an bin Zaidah mendatangi Khalifah Al-Makmun. Al Makmun bertanya, "Bagaimana keadaanmu di usia tua renta ini?". Ia menjawab, "Aku bisa jatuh hanya karena tersandung kotoran unta, dan cukup diikat hanya dengan sehelai rambut".

"Bagaimana keadaanmu dalam makanan, minuman dan tidurmu?"
Ia menjawab, "Bila lapar, aku marah; dan bila makan, aku merasa jengkel. Bila berada di antara orang-orang, aku mengantuk; dan bila di atas kasurku, aku terjaga".

"Bagaimana keadaanmu dengan para wanita?" Ma'an menjawab, "Kalau wanita yang buruk rupa, aku tidak menginginkan mereka; sedangkan para wanita yang cantik tidak menginginkanku".

Al Makmun berkata, "Kalau begitu tidak pantas orang sepertimu dianggap muda".

Kemudian kepada pengelola kas negara Al Makmun perintahkan, "Lipat gandakanlah imbalan untuknya dan haruskanlah ia menetap di rumahnya. Biarkan masyarakat yang mengunjunginya, dan jangan biarkan ia mengunjungi siapapun".

Penting diingat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban tentang umur yang dianugrahkan kepadanya. Rasulullah Saw bersabda, "Tak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang masa mudanya, dipergunakan untuk apa; tentang hartanya, darimana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan; dan tentang ilmunya, apakah sudah diamalkan". (HR At-Tarmidzi).

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

Berita Terkini