LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM --BEBERAPA hari yang lalu, ada beberapa anak muda silaturahim ke rumah, ngobrol ngalor ngidul (utara selatan ) tentang berbagai hal hingga membedah tentang regenerasi dan jihad siyasi atau jihad di lapangan politik.
Kemudian, saya tanyakan kepada mereka apa yang dipahami tentang jihad siyasi?
Ya, jihad dalam pemilu, pilkada dan pilpres agar bisa menang dalam kontestasi itu, kata mereka.
Tidak salah sih, hanya amal jihad siyasi tidak boleh berhenti di situ karena yang lebih penting adalah menenangkan pengaruh agar sumberdaya yang ada bisa dikelola dan dioptimalkan sesuai dengan fikrah atau ide dan cita citanya (yang menang).
Karena perang, sejak jaman agearis sampai jaman modern sekarang ini, tujuannya adalah penguasaan sumber daya dan pengaruh.
Bedanya, bila pada jaman agraris, perang biasanya memperebutkan suatu wilayah untuk dikuasai, pada jaman modern fokus utamanya bukan pada penguasaan wilayah tetapi pada penguasaan pengaruh terhadap sumberdaya yang ada.
Untuk mendapatkan kekuasaan mempengaruhi ini jalannya adalah melalui pemilu, pilkada dan pilpres.
Dengan memenangkan pilpres misalnya, maka pemenang akan memiliki kekuasaan mengelola ribuan triliun dana APBN agar digunakan untuk merealisasikan ide dan cita-cita nya dalam mengelola negara.
Termasuk didalamnya adalah membuat aturan dan perundang perundangan yang sesuai dengan fikrah, ide dan cita-cita nya. Juga posisioningnya dalam hubungan luar negeri dan konfkik kawasan.
Jadi memenangkan pilpres, pemilu dan pilkada hanyalah sasaran antara untuk perang yang sesungguhnya yaitu saat berjuang untuk meng-goal-kan ide dan pemikirannya dalam bentuk kebijakan, peraturan dan perundang perundangan.
Sehingga bisa dikatakan tidak terlalu berguna bisa memenangkan kontestasi politik tetapi tidak mampu melahirkan kebijakan yang sesuai dengan fikrah dan cita cita mensejahterakan rakyat dan bangsa yang diridhai Allah.
Pilpres, pemilu dan pilkada adalah alat untuk membuat kebijakan yang sesuai dengan fikrah dan cita-cita.
Tetapi alat itu tidak akan efektif apabila yang diamanahi memegang alat itu tidak memiliki kedalaman fikrah, kapasitas ilmiyah dan intelektual serta kemampuan teknis lainnya, seperti kemampuan berargumentasi, negosiasi dan komunikasi.
Kata orang, a man behind the gun. Sehingga sebuah kebijakan akan lahir sesuai dengan siapa yang berkuasa.
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi orang/kelompok lain agar mengikuti apa yang dikehendaki oleh pihak pertama.
Jadi kalau suatu partai misalnya, memiliki anggota DPR/DPR dan kemudian dalam perjalanannya para anggota dewan tersebut mengalami perubahan perilaku, perubahan pemikiran melebihi kebutuhan untuk beradaptasi sehingga tidak mampu menunjukkan 'simat' yang sesuai dengan fikrahnya, maka bisa dikatakan mereka mengalami kekalahan.
Apalagi bila ternyata juga tidak mampu memberikan warna dan nilai pada peraturan dan perundang-undangan yang dilahirkan, maka itu juga kekalahan. Inilah ukurannya.
Mendapatkan banyak kursi itu penting. Tetapi mampu mempengaruhi kebijakan dalam peraturan perundang-undangan jauh lebih penting.
Oleh karena itu, karena ini obrolan dengan generasi muda, sebelum kalian betul betul terlibat dalam kancah jihad siyasi maka harus membekali diri dengan membaca dan memahami buku buku berkaitan dengan risalah dakwah yang dapat memperkuat fikrah dan kemudian buku buku teks ilmu yang dikuasainya serta buku yang terkait dengan manajemen, kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Karena bila memiliki kedalaman fikrah, memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni serta leadership yang kuat insya Allah akan mampu bwetindak fleksibel tetapi tidak mudah terpengaruh.
Sebaliknya dengan kemampuannya bisa menancapkan pengaruh pada lain. Meskipun jumlah pihak lain lebih banyak. Karena fungsi pertama seorang aktivis dakwah dimana pun berada adalah nasrul fikrah sebelum tanmiyyatul kafa'ah dan kasbul ma'isyah.
Apalagi pada posisi di lembaga publik, yang mendapatkannya secara bersokongan maka kinerja nasrul fikrah ini akan selalu dalam pantauan. Dan akan menurunkan kredibilitas para penyokong nya bila ternyata lebih fokus pada fungsi kasbul ma'isyah dibanding nasrul fikrah.
Jadi sebagai generasi muda jangan habiskan waktu untuk membaca komik dan main mobil legends, karena nanti saat waktu memaksakan regenerasi, kalian bukan berteriak lantang fufufafa tetapi berteriak lantang tentang kebenaran dan keselamatan dakwah untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa.
Ini karena, kata Iwan fals, "Wakil rakyat kumpulan orang hebat"...
Dan, "Di hati dan lidahmu kami berharap..."
Tidak mudah memang...!
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)