Catatan Samping Perjalanan Haji (9) Gua Hira

Jumat, 23 Mei 2025 11:56
GAP

Oleh Gufron Azis Fuandi

SEKITAR lima kilometer dari Masjidil Haram ke arah Timur Laut atau ke arah Thaif ada bukit yang penting dalam sejarah Islam, yakni Jabal Nur. Gunung atau bukit setinggi 642 meter ini menyimpan jejak sejarah Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi rasul yang terakhir sampai turunnya wahyu yang pertama.

Di atas bukit ini, ada gua yang sering menjadi tempat uzlah nabi Muhammad SAW, tempat menyendiri dan berkontemplasi menjelang diangkat menjadi nabi.

Gua itu kita kenal sebagai Gua Hira, tempat Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama, Surat Al Alaq 1-5 pada Bulan Ramadan Tahun 611 M.

Apakah Nabi dbertapa mencari wangsit di Gua Hira?

Sebagian orang mungkin menyangka seperti itu. Tetapi yang jelas, sejak memasuki usia 40 tahun, Muhammad bin Abdullah sering melakukan tahannuts dan uzlah di Gua Hira. Kadang tiga hari, kadang sepekan tetapi menjelang turunnya wahyu pertama, Beliau beruzlah selama 30 hari.

Tahannuts adalah kegiatan menarik diri dari keramaian yang banyak melakukan maksiat dan dosa agar terhindar dari dosa.

Sedangkan uzlah berarti
mengasingkan diri untuk memusatkan perhatian pada ibadah (berzikir dan tafakur) kepada Allah Swt.

Mengapa Rasulullah uzlah?

Karena Beliau memiliki kegundahan dan kegelisahan yang dalam terkait dengan kondisi kaumnya dan umat manusia yang terpuruk dalam titik nadir kemanusiaan, kondisi jahiliah. Kegalauan dan kegelisahan yang biasa dialami oleh para calon pemimpin.

Bisa dikatakan, hampir tidak ada pemimpin yang lahir tanpa mengalami kegelisahan dan kegalauan terhadap kondisi keterpurukan bangsanya. Karena perubahan tidak akan ada tanpa adanya kegelisahan terhadap kondisi yang tidak ideal.

Sejarah mencatat, sebagaimana diungkapkan oleh Ali Hasan An-Nadwi bahwa menjelang bi'tsah atau diangkatnya Muhammad menjadi nabi, seluruh bagian dunia dalam kondisi jahiliah.

Dalam arti tidak ada lagi bangsa atau agama yang mentauhidkan Allah, baik itu di China, India, Yahudi maupun Persia.

Adapun yang paling akhir adalah Romawi, dimana Kaisar Konstantin Agung pada tahun 325 M memprakarsai terjadinya konsili Nicea yang merubah kepercayaan tauhid, monoteisme, yang diajarkan oleh Nabi Isa menjadi Trinitas.

Konsili adalah sebuah pertemuan atau muktamar otoritatif para uskup gereja yang membahas masalah keimanan atau masalah yang sangat penting lainnya.

Sedangkan Konsili Nikea I adalah konsili para uskup sedunia yang diselenggarakan pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus Agung pada tahun 325 Masehi di Kota Nikea (sekarang İznik, Turki), Provinsi Bitinia, Kekaisaran Romawi, yang menegaskan dan menguatkan ketuhanan Yesus.

Kondisi sosial pada masa itu, masa jahiliyah
betul betul homo homoni lupus, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya alias berlaku hukum rimba. Hukum tergantung dengan bagaimana keinginan penguasa.

Menghadapi kejahilan dan hukum rimba tersebut, Beliau tidak hanya ber-uzlah di gua Hira' saja, tetapi beberapa tahun sebelumnya (590 M), Beliau bersama beberapa tokoh yang hanif seperti Zubeir bin Abdul Muthalib, Abdullah bin Jad'an dan lainnya juga melakukan perlawanan sosial dengan persekutuan Hilful Fudhul (Aliansi Peduli) sebelum masa kenabian.

Persekutuan ini bertujuan untuk menegakkan keadilan bagi semua, terutama bagi mereka yang lemah dan atau tidak memiliki perlindungan klan (kabilah) yang kuat di Kota Mekkah dan sekitarnya.

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, menjelaskan alasan mengapa Nabi Muhammad SAW melakukan uzlah adalah memfokuskan pikirannya untuk merenungkan alam semesta, memperhatikan fenomena-fenomena keindahan, dan ruhnya bertasbih bersama ruh alam wujud, berpelukan dengan keindahan dan kesempurnaan, bergaul dengan hakikat yang agung, dan latihan bergaul dengannya dengan penuh pengertian dan pemahaman.

Sayyid Qutb menafsirkan pilihan Nabi Muhammad SAW melakukan uzlah atau menyendiri rupanya sudah menjadi skenario Allah SWT untuk mempersiapkan beliau menantikan urusan yang sangat besar dan berat.

Ketika beruzlah itulah, Beliau SAW menyendiri, bersunyi-sunyi seorang diri dan membebaskan diri dari hiruk-pikuk kehidupan serta segala kesibukannya yang tidak penting.

Demikianlah Allah memprogram Nabi Muhammad SAW yang dipersiapkan untuk mengemban amanat agung, mengubah wajah dunia, menegakkan kemanusiaan dan meluruskan garis sejarah. Allah memprogramkan uzlah ini untuknya sebelum ditugasi mengemban risalah tiga tahun kemudian.

Seorang aktivis dakwah yang tidak memiliki kegelisahan terhadap kondisi sosial masyarakat yang jauh dari ideal, tidak akan memiliki semangat yang kuat untuk melakukan perubahan. Yang dilakukannya hampir bisa dipastikan hanyalah rutinitas atau kebiasaan.

Karenanya tidak giat berinovasi dan mencari terobosan baru dalam mengatasi stagnasi pergerakan dan perkembangan dakwah. Yang terjadi justru menikmati kenyamanan yang pada akhirnya
bahkan membuatnya mudah menyerah.

Dia akan dengan mudah mengatakan, saya sudah berusaha tetapi arus kerusakan pendukungnya sangat kuat. Sudahlah yang penting saya tidak ikut ikutan.

Dari dulu sampai nanti ila yaumil qiyamah, arus kerusakan memang disokong oleh kekuatan yang besar.

Oleh karena saya sangat setuju dengan ungkapan Ustadz Hilmi yang menyebutkan bahwa amar makruf nahi mungkar itu tidak bisa hanya dilakukan sendirian. Tetapi itu sebuah usaha mengkondisikan unsur-unsur kebaikan untuk menggeser dan menggusur aliansi kemungkaran.

Bukanlah aktivis dakwah yang baik bila melihat
seruwet apa pun kondisi sosial masyarakat disekitarnya, sikapnya injuy saje!

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

Berita Terkini