Kisah Tangan Kotor di Padepokan Ilmu, Diam Menunggu Keadilan Substantif

Jumat, 30 Mei 2025 11:11
X HELO LAMPUNG

OLEH FATHONI*

ANGIN membelai puncak Gunung Seribu Janji, membawa bisikan pepohonan tua yang telah menyaksikan ribuan pergantian musim. Di lembah di bawahnya, berdiri Padepokan Cakra Buana, lembaga tertinggi dalam tata persilatan. Namun, di balik nama besarnya, riak-riak keruh mulai terasa.

Murid-murid gempar. Tersiar kabar tentang beberapa sesepuh perguruan, mereka yang seharusnya menjadi teladan, mengorbankan kehormatan demi ambisi pribadi.

Mereka menggunakan "tangan kotor" untuk meraih tingkatan ilmu tertinggi, jalan pintas yang merusak marwah padepokan. Para murid meradang, ingin segera melayangkan pedang kebenaran.

Namun, Guru Besar Jarwo, seorang pendekar tua dengan tatapan mata teduh namun dalam, justru bergeming. Ia hanya duduk bersila di aula utama, memandang lukisan kuno "Waktu Tak Bisa Dilawan".

"Keadilan itu lambat, anak-anakku," ucapnya dengan suara berat nanserak, "kadang kita bertanya, apakah ia benar-benar ada?"

Seorang murid muda yang berapi-api, bernama Fathoni, maju ke depan. "Tapi Guru, apakah kita hanya akan diam? Hukum padepokan seolah tak mampu menjangkau tindakan mereka. Buktinya samar, terselubung kepatutan dan etika yang sulit diukur!"

Guru Jarwo tersenyum tipis. "Engkau benar, Fathoni. Pelanggaran moral akademik itu ibarat bayangan di balik batu. Sulit dibuktikan dengan mata telanjang, karena ukurannya sangat subyektif. Namun, apakah itu berarti keadilan tiada?"

Guru Jarwo bangkit, berjalan perlahan menuju jendela, menatap ke arah lembah yang diselimuti kabut pagi. "Waktu, Fathoni, adalah teman yang paling setia. Ia merekam segalanya, setiap bisikan kebohongan, setiap jejak kezaliman. Satu per satu fakta akan muncul ke permukaan, seperti tetesan embun yang akhirnya membasahi daun."

Ia melanjutkan, "Tidak semua orang akan percaya pada versi kebenaran kita. Bahkan kadang, kebenaran itu sendiri harus menanti waktu yang tepat untuk menampakkan diri seutuhnya. Ia akan hadir, entah melalui desas-desus, pengakuan, atau bahkan melalui cara yang tak terduga."

Fathoni masih terlihat gelisah. "Jadi, kita hanya berdiam diri, Guru? Biarkan mereka melenggang dengan kemenangan semu?"

"Jangan buru-buru membalas, Fathoni," Guru Jarwo membalikkan badan, sorot matanya kini tajam. "Jangan biarkan amarah menenggelamkanmu. Luka yang mereka torehkan jangan sampai mengubahmu menjadi seperti mereka. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, berpegang teguh pada prinsip."

"Diam, anakku, adalah bentuk perlawanan yang paling kuat. Bukan diam karena apatis, melainkan diam karena engkau percaya pada kekuatan yang lebih besar. Biarkan waktu dan keadilan yang menjawab.

Biarkan karma bekerja, membalas dengan cara yang tak terduga dan tak terbantahkan. Hukuman yang sejati bukanlah yang datang dari pedang kita, melainkan yang datang dari konsekuensi alami perbuatan mereka."

Guru Jarwo menjelaskan, "Keadilan prosedural, peraturan yang tertulis di kitab-kitab perguruan, memang penting. Tapi ada keadilan yang lebih dalam, keadilan substantif, yang melampaui batasan hukum buatan manusia. Ia akan menemukan jalannya, menyingkap kebenaran, bahkan jika proses formal kita tidak mampu menjangkaunya."

Di hari-hari berikutnya, Padepokan Cakra Buana memang tidak mengambil tindakan hukum formal terhadap sesepuh yang dicurigai. Namun, keheningan Guru Jarwo, keyakinannya pada waktu, dan integritas yang ia pancarkan, justru menciptakan gelombang yang lebih besar.

Desas-desus tentang "jalan pintas" semakin kuat, kepercayaan di antara murid-murid terhadap sesepuh yang bermasalah mulai runtuh. Tanpa ada pedang yang terhunus, tanpa ada perdebatan sengit di pengadilan padepokan, reputasi mereka perlahan-lahan hancur. Murid-murid menjauh, para guru lain mulai memandang dengan rasa tak percaya.

Pada akhirnya, beberapa sesepuh yang tadinya angkuh itu, satu per satu, merasa tak nyaman di Padepokan. Marwah mereka terkikis bukan karena hukuman fisik, melainkan karena kebenaran yang mulai terungkap dan kepercayaan yang sirna.

Mereka memilih untuk mengundurkan diri, atau perlahan-lahan kehilangan pengaruh, tak mampu lagi menatap mata murid-murid dengan bangga.

Fathoni, yang awalnya ingin segera membalas, menyaksikan semua itu dengan takjub. Ia mengerti, bahwa keadilan tidak selalu berbentuk pertarungan pedang atau sidang di aula. Kadang, ia adalah proses yang sabar, yang bekerja di dalam hati manusia, dan yang paling kuat, adalah yang terungkap melalui Waktu Tak Bisa Dilawan.

Guru Jarwo hanya tersenyum simpul, memandang lukisan kuno yang sama. Ia tahu, di dunia persilatan, kebenaran sejati tidak selalu perlu diteriakkan. Kadang, ia cukup dibisikkan oleh angin, dan disaksikan oleh sang waktu.

Hajimena, 29 Mei 2025

 *Dosen FH Unila

Berita Terkini

Haji Mabur atau Haji Mardud?

Opini • 18 jam 15 menit lalu