Segelintir Keserakahan pada Alam Tuai Musibah buat Rakyat

Sabtu, 6 Desember 2025 20:50
Gufron Aziz Fuadi Gufron Aziz Fuadi

OLEH GUFRON AZIS SAMSUDIN*

BEBERAPA tahun lalu, setiap pagi masih terdengar kicauan burung kutilang liar. Kini suara itu tak seramai dulu—banyak pohon telah berganti menjadi rumah-rumah pemukiman. Namun di halaman rumah kami masih ada beberapa pohon alpukat, belimbing, jambu air, jambu Jamaika, dan jambu klutuk yang sengaja dibiarkan tumbuh agar tupai dan burung tetap bisa singgah.

Harapannya, kami ikut mendapat pahala dari kebaikan itu, bukan hanya kebagian sampah daunnya. Menanam pohon adalah amal yang mendatangkan pahala sedekah. Apa pun manfaat dari pohon—baik buahnya, nektar bunganya, keteduhan, maupun oksigennya—akan menjadi pahala bagi penanam atau pemiliknya.

Dari sahabat Anas ra, Rasulullah saw bersabda: "Tiada seorang muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu (hasilnya) dimakan oleh burung atau manusia, melainkan itu menjadi sedekah bagi penanamnya." (HR. Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad Saw juga bersabda: "Jika Kiamat tiba sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma kecil, maka jika ia mampu menanamnya sebelum Kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad; Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Hadits ini adalah dorongan agar umat Islam terus berbuat baik hingga akhir waktu, termasuk menjaga kelestarian lingkungan dan sumber pangan.

Sebaliknya, Rasulullah Saw melarang tindakan merusak lingkungan. Beliau menegaskan agar tidak mematahkan tangkai atau menebang pohon, bahkan saat perang. Sebab menebang tanpa prosedur yang benar dapat mengganggu kesinambungan ekosistem.

Beliau bersabda: "Berperanglah kalian dengan nama Allah dan di jalan Allah… janganlah kalian menebang pohon kurma dan pohon-pohon lainnya, dan jangan merobohkan bangunan!" (HR. Ahmad no. 18.097)

Pesan kenabian itu diteruskan oleh Khalifah Abu Bakar ra ketika menasihati pasukan yang akan berangkat ke Syam. Dalam Al-Muwaththa’, Imam Malik mencatat pesan beliau, di antaranya: tidak membunuh perempuan, anak-anak, orang tua; tidak menebang pohon yang berbuah; tidak meruntuhkan bangunan; tidak membakar atau menenggelamkan pohon kurma; tidak berkhianat dan tidak menakut-nakuti rakyat.

Jika ada orang yang merusak hutan, laut, dan lingkungan lainnya, sesungguhnya itu bukan lagi demi kebutuhan hidup, tetapi untuk memenuhi gaya hidup: foya-foya, pamer, menumpuk harta, dan keserakahan. Padahal Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.

Allah berfirman: "Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya…"(QS. Hud: 6)

Karena sifat manusia yang serakah, ia terdorong untuk bersikap kapitalistik, ingin menguasai semuanya. Rasulullah Saw bersabda:"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah penuh harta, ia akan menginginkan lembah yang ketiga…"(HR. Bukhari dan Muslim)

Gaya hidup yang tidak pernah merasa cukup inilah yang akhirnya membuat manusia merusak alam tempat tinggalnya. Allah berfirman:"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…"(QS. Ar-Rum: 41)

Karena itu Nabi Saw mengingatkan: "Kekayaan yang hakiki bukanlah banyaknya harta, namun hati yang merasa cukup." (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga kita mampu bermuhasabah atas berbagai musibah dan kerusakan alam yang banyak ditimbulkan oleh keserakahan manusia. Atau seperti kata Ebiet G. Ade:

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…

Wallahu a'lam bis shawab.
(Gaf) 

Berita Terkini