OLEH GUNAWAN PHARRIKESIT*
SAAT ini, ruang kebenaran tertutup karena disesaki aura kebohongan yang berbasis kedunguan, ambisi, manipulasi, pengkhianatan terhadap rakyat dan negara. Keserakahan telah membunuh masa depan anak-anak kita. Mereka yang tulus tanpa pamrih mengingatkan prilaku kebohongan malah dinilai kekuasaan sebagai endemi.
Tipu-tipu atas nama demi bangsa dan negara telah mengalahkan kemampuan tekhnologi untuk mengungkap kebenaran. Atas nama bangsa, kriminalisasi jadi hal biasa. Kepalsuan menjadi pijakan agar terangkul dalam circle kekuasaan dan hilirnya bencana yang tetap dibayar mahal rakyat dan negara.
Apakah akan selalu begini hingga akhir peradaban (the end of the word). Jawabannya bisa saja yes. Karena semua hampir tak mampu menerobos kekuatan super jahat: penjaga kunci ruang kebenaran tersebut.
Cendikia bahkan ulama terlibat dalam permainan. Mereka asyik menikmati dunia. Tidak lagi mengenal Tuhan. Merekalah nantinya penghuni neraka, karena dalil kemunafikan sudah bisa di sematkan. Astaghfirullah ...
Sesungguhnyalah, kita masih punya harapan. Masih ada yang berjuang, masih ada yang melawan semata demi masa depan bangsa ini ridho Tuhan (Allah SWT).
Bukan kemenangan menjadi tujuan, bukan kebencian yang di kedepankan. Namun lebih kepada meluaskan harapan masa depan anak cucu untuk hidup damai dan tentram.
Inilah orang-orang yang berani berkorban. Berjuang dengan gagah berani. Tidak peduli resiko yang dihadapinya. Jangankan penjara, matipun menjadi hal yang tetap membahagiakan karena akan menjadi syuhada.
Tampil dengan kemampuan berpikir (memiliki ilmu pengetahuan) dan nalar alami yang berpijak pada kemurnian niat untuk membangun Indonesia berkesejahteraan, adil dan makmur.
Mereka yang "mengorbankan" diri buat jalan kebenaran masa depan antara lain Dr. KRMT Roy Suryo, M. Kes (Pemerhati Telematika, Multimedia AI dan OCB Independen). Meski sempat meniti bui (sel tahanan), tetap saja tegar, tak gentar, apalagi harus menyerah dengan serangan pihak lawan (baca para munafikun).
Memilki intelegensi dan pemahaman berbangsa dan bernegara, bermental pejuang penegak kebenaran, bersama rekan-rekan intelektual lainnya, para "pendekar hukum" (juga pejuang kebenaran), masyarakat (termasuk emak-emak pejuang) jadi vitamin buat terus mengibarkan kebenaran.
Mereka menyadari tak mudah merebut kunci "ruang kebenaran" yang saat ini dipegang penguasa yang dikendalikan "Raja Palsu" beserta para kurcaci sebagai pengawalnya. Pertarungan menjadi tidak inequitable (tidak adil), karena pemilik kepalsuan memegang kendali hukum beserta pasukannya yang menjadi "penggebuk".
Namun para pejuang, tidak bergeming dan terus melawan lewat ketajaman analisa dan membaca resiko. Mereka memiliki pemahaman Factor Analysis of Information Risk. (FAIR). Faktor FAIR inilah kemudian perjuangan merambah pada basis pengetahuan (knowledge base).
Perihal kepalsuan ijazah, terkhusus Mas Roy dan tim menggunakan data internal UGM (akademik, kejujuran, informasi kampus). Seharusnya ini sudah cukup membuktikan bahwa kepalsuan ijazah benar adanya. Kemampun tekhnologi tidak terbantahkan. Penelitian menyatakan ijazah sang raja palsu.
Sayangnya ini belum bisa dijadikan dasar kemenangan, karena seperti apa yang sudah tersampaikan pada paragraf sebelumnya bahwa pertempuran menjadi inequitable, karena pemilik kepalsuan berhasil merangkul pemangku hukum.
Ada satu cara lagi sebagai pamungkas perjangan, yaitu kekuatan berenergi besar. Gelombang yang akan menjadi arus dahsyat, untuk masuk dalam perjuangan yang tersedia di ranah pertempuran. Apa itu?. Hanya kekuatan rakyat yang sepertinya yang bisa menggulingkan kemampuan kendali si Raja Palsu..
PEOPLE POWER
Penggalangan. Inilah yang sangat ideal meruntuhkan kesombongan para pengkhianat bangsa. Dum!
* Advokat dan Pemerhati Sosial