LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Lampung lagi-lagi kehilangan satu putra terbaiknya, tokoh masyarakat, ulama, penulis, jurnalis, mubaligh, veteran pejuang kemerdekaan asal Lampung.
Beliau salah satu tokoh yang mengalami masa perjuangan, era kemerdekaan hingga saat ini. Mudah-mudahan amal ibadahnya diterima Allah SWT dan keteladanan dalam hidupnya menjadi contoh buat kita semua," kawat duka, dari keluarga besar Partai Demokrat Lampung, Rabu jelang Ashar.
Arief Mahya lahir di Pekon (Desa) Gedung Asin, Liwa, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, 6 Juni 1926 (versi ijazah negara), dari keluarga petani lada.
Lahir dari keluarga penjunjung tinggi nilai religius, Arief Mahya lulusan Sekolah Rakyat (SR) berbasis agama di kampungnya masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Polk Scholl (1933—1935).
"Masa itu, pendidikan di Liwa dapat dibilang bagus, terlebih dalam pendidikan agama," kutipan reportoar Heri Wardoyo dkk, dalam Inspirasi Lampung Post edisi 6 Maret 2014.
Disitat diakses ulang di Kota Bandarlampung, dikisahkan, Arief Mahya ini tokoh Lampung yang terkenal dengan ketegasannya dalam memimpin. Arief lalu lanjut madrasah, di Standard School, dua tahun di sekolah rintisan Muhammadiyah ini pada 1937—1938.
Lanjut di Wustha Zua'ma (1939—1940), Wustha Mu'allimien (1940—1941), setara pendidikan menengah pertama di Liwa. Hingga berhenti sekolah. Perang Dunia kedua, pecah.
Arief muda lantas ikut berperang melawan penjajah Belanda. Usai Indonesia merdeka, dia lantas menekuni dunia kepengajaran.
Sekian warsa berikutnya, Arief Mahya pun dikenal luas sebagai sosok mubaligh. Dia juga disebut-sebut memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata.
Publik Lampung muaranya mengenal Arief Mahya merupakan salah satu tokoh NU terkemuka. Namanya selalu ada di bagan struktur PWNU Lampung masa ke masa.
Semasa dia, mendiang istrinya, masih hidup, keduanya lebih banyak menghabiskan masa senjanya, di kediaman pribadi mereka, Jl Flamboyan 01 RT 09 LK II Kelurahan Enggal, Kecamatan Enggal, Bandarlampung.
Suami mendiang Hajah Mas Amah binti Haji Marhawi, yang telah lebih dulu wafat dalam usia 84 tahun usai menghembuskan nafas terakhir di RSIA Asy Syifa, Jl Dokter Susilo Nomor 54 Pahoman, Kecamatan Enggal, Bandarlampung, Rabu 14 Agustus 2019 pukul 18.01 WIB ini meninggalkan delapan orang anak dan puluhan cucu.
Mulai dari Hilyati (sulung), Istamar Arie SH MBA, Erna Pilih SH, Prisrita SPd MM, lalu ekonom Dr Eddy Irawan Arief SE MSc yang kini politisi yakni Ketua DPD Partai Demokrat Lampung dan bakal calon wakil Gubernur Lampung 2024, Neli Aida MSi, Septy Aprilia MPd, dan bungsu: Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat Andi Arief SIP.
Dikutip dari wawancara Heri Wardoyo dkk, berbicara demokrasi, Arief Mahya bilang, penyakit besar tentang reformasi yakni masih kentalnya budaya ampowisme.
"Manusia tanpa nyawa sama saja bangkai, negara tanpa agama akan sewenang-sewenang," Arief mengimbukan, hendaknya ketika kita memilih pemimpin, maka pilihlah manusia yang mengimplementasikan ajaran agamanya ke dalam kehidupannya.
"Jangan memilih pemimpin sesuai angpau yang dikasih. Pilihlah pemimpin yang kepada Tuhannya bagus, agamanya baik dan kelakuannya baik," petuah bijak Arief Mahya.
Semasa hidup, Arief pun mengabdi menjadi pengurus, atau tepatnya sebagai wakil ketua di Masjid Agung Alfurqon, Lungsir, Telukbetung Utara, Bandarlampung sejak Januari 2012 silam hingga saat wafatnya.
"Keinginan saya agar cepat ada yang menggantikan saya yang sudah berusia 87 tahun ini," kata dia, medio 2014 lewat.
Dengan memajukan dan mendalami Islam, dia bersama tim penggerak mengadakan program di Masjid Alfurqon, yaitu program At-Tafaqquh Fiddin. Program itu tentang pendalaman Islam yang sudah berjalan empat tahun (sejak 2010 hingga saat Heri Wardoyo dkk mewawancarai Papi). Program diadakan Sabtu Subuh mulai minggu kedua hingga keempat atau kelima tiap bulannya.
"Masyarakat yang ingin mendalami agama Islam, silakan datang untuk mengikuti kajian tersebut tiap Sabtu subuh," ujar Papi 2014.
"Allahummagh firlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu. Kami turut berduka cita yang mendalam, semoga almarhum KH. M. Arief Mahya diampuni segala dosanya, diluaskan diterangkan kuburnya, diterima di tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, Al Fathihah. Aamiin," belasungkawa senator yang dekat dengan konstituen guru, anggota DPD/MPR RI dapil Lampung kembali terpilih periode mendatang, Dr. Bustami Zainudin.
LELAYU
Lelayu, kali ini datang dari keluarga besar salah satu tokoh pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia asal Lampung, nahdliyin tulen bahkan salah satu tokoh Nahdlatul Ulama kharismatik sepanjang zaman, Kiai Haji M. Arief Mahya.
Almarhum wafat di Ruang ICU Rumah Sakit Urip Sumoharjo, Sukarame, Kota Bandarlampung, Rabu (15/5/2024), pukul 14.36 WIB.
Papi, atau Buya, atau Datuk, demikian orang-orang terdekat karib menyapa pejuang veteran kemerdekaan RI yang berjuang di dunia pendidikan ini wafat dalam pertolongan medis RS Urip usai dirujuk dari RS Bumi Waras Bandarlampung yng merawatnya sejak Senin (13/5/2024) malam, akibat kritis faktor lanjut usia.
Papi, ujar putra bungsunya Andi Arief, tak mau makan. Tak ayal kondisi kesehatannya menurun bahkan hingga turun kesadaran. Dari itu pihak keluarga memutuskan untuk memindahkan Papi merujuknya ke RS Urip. Allah tidak tidur. Takdir berkata lain.
Usianya 98 tahun. Versi ijazah. Namun dari keterangan pihak keluarga, sesungguhnya Papi atau Buya atau Datuk Arief Mahya ini dilahirkan pada tahun 1923, alias wafat di usia 101 tahun.
"Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Telah meninggal dunia tokoh dan kyai NU, KH M. Arief Mahya (orangtua Dr. Edi Irawan Arief dan Andi Arief, S.IP. sore ini pukul 14.36 WIB.(Muzzamil)
-
