LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Suasana yang awalnya mulai dingin mendadak ricuh saat dialog di Ruang Rapat DPRD Lampung. Para perwakilan petani singkong kesal karena Pansus Tata Niaga Singkong hanya menjelaskan langkah-langkah yang akan mereka lakukan.
Pemantik kericuhan, beberapa wakil petani singkong menjelaskan sambil memukul kuat meja pada pertemuan yang ditunggu ribuan petani singkong di Lapangan Korpri depan Kantor Gubernur dan DPRD Lampung.
Baca juga: Azan Dzuhur Kapolsek Dinginkan Aksi Ribuan Petani Singkong Dilanjut Dialog
Terpancing, Budi Condorowati intrupsi dan menjelaskan sambil ikut menggebrak meja.
Seorang perwakilan warga yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) tersulut emosinya lalu berdiri dan mendatangi para anggota Pansus Tata Niaga Singkong sambil menunjuk ke Budi Condorowati.
"Gak boleh, gak boleh..., " ujarnya sambil mendatangi tempat duduk para wakil rakyat. Mereka. minta Budi Condorowati dikeluarkan dari ruang rapat.
Aparat keamanan berpakaian sipil dan Satpol PP menahan dan meredakan situasi. Dari sisi lain, beberapa perwakilan petani singkong juga sempat hendak ikut mendekati para anggota Pansus Tata Niaga Singkong.
Baca juga: Panas, Aksi Petani Singkong, Tarik Pagar Kawat ke Lapangan Korpri
Namun, aparat berhasil mengendalikan situasi. Setelah tenang, dialog dilanjutkan kembali. Para perwakilan petani singkong Maradoni dan teman-temannya minta penjelasan soal kepastian kenaikkan harga singkong, bukan penjelasan langkah-langkah Pansus Tata Niaga Singkong DPRD Lampung.
Katanya, petani ingin kepastian harga, tak hanya pulang dengan mendapatkan kata-kata yang meninakbobokan petani singkong. Mereka ingin realisasi Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Pj Gubernur Samsudin dengan 29 pengusaha tepung tapioka akhir tahun lalu soal harga singkong akhir tahun lalu serta pembatasan impor tepung tapioka.

Hingga pukul 15.18 WIB, dialog masih muter-muter berkutat kepastian harga singkong,karena adanya pemotongan rafaksi 15 persen oleh pengusaha pabrik tapioka. Ketua PPKI Dasrul Aswin minta dialog menghasilkan keputusan sesuai harapan petani.
Sampai berita ini diturunkan, Helo Indonesia masih memantau situasi dialog antara petani singkong dengan Pansus Tata Niaga Singkong DPRD Lampung dan suasana ribuan petani yang menunggu hasil pertemuan di Lapangan Korpri.
Sejak pagi, Senin (14/1/2025), ribuan petani singkong dari tujuh kabupaten berdatangan ke Lapangan Korpri. Walau sempat gerimis, pas jadwal aksi, mereka yang sudah datang sejak pagi mulai menggelar aksi atas anjloknya harga singkong.
Mereka mengacungkan poster-posret karton berisi tulisan tuntutan mereka serta orasi dari atas truk. Pagar kawat berduri yang melingkari Kantor Gubernur dan DPRD Lampung ditarik para petani dari tangga ke arah lapangan.
Massa tampak geram, aparat kepolisian tetap berusaha tenang melihat kondisi aksi. Dari pihak kepolisian, via pengeras suara, berusaha meredam emosi massa yang mulai bergolak lewat pengeras suara mobil komando mereka.
Pihak kepolisian minta para petani tenang dan aksi dengan hati yang bersih dan menjamin akan mengawal aksi. "Tolong teman-teman jangan mudah terprovokasi untuk anarkis," ujar seseorang dari barisan keamanan.
Suara dari mobil komando yang lebih kuat langsung mengalihkan perhatian massa. "Cek cek, perhatian perhatian, kita satu komando," buka salah seorang koordinator aksi yang menuntut harga singkong naik.
Hingga berita ini diturunkan, Pj Gubernur Samsudin belum terlihat menemui aksi massa. Para petani murka karena tak teralisasinya kesepakatan kenaikan harga singkong sejak akhir tahun lalu.
Padahal, Pj Gubernur Lampung Samsudin dan 29 pengusaha tepung tapioka sudah menandatangani kesepakatan harga singkong Rp1500 per kg dengan rafaksi 15 persen di Kantor Gubernur, Senin (23/12/2024). (Hajim)
-
