Helo Indonesia

Jalan Utama Ditembok Pengembang, Warga Tambangan dan Peziarah Situs Jatiombo Menjerit

24 menit lalu
    Bagikan  
Jalan Utama Ditembok Pengembang, Warga Tambangan dan Peziarah Situs Jatiombo Menjerit

Kondisi akses jalan ke lokasi situs Jatiombo, Mijen yang ditutup sepihak oleh pengembang perumahan BSB Village dan ditalud menjadi pagar perumahan tersebut. Foto: ist

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Akses jalan utama warga menghubungkan dua wilayah, yaitu Kelurahan Tambangan - Kelurahan Sodong, Kecamatan Mijen, Kota Semarang yang ditutup secara sepihak oleh pengembang perumahan BSB Village menuai protes warga yang selama ini memanfaatkan ruas jalan tersebut.

Akibat penutupan jalan tersebut membuat jalur warga yang dulunya sebagai jalur ekonomi masyarakat untuk distribusi hasil panen dan bagi peziarah ke lokasi situs atau petilasan Jatiombo saat ini juga terputus.

Baca juga: Dorong Masyarakat Lebih Sehat, Dispora Jateng Resmi Luncurkan Aplikasi DIGOR JATENG

Salah satu warga, Mimit Kusmianto mengatakan, penutupan jalan tersebut sangat berpengaruh bagi warga yang sehari-hari menggunakan untuk bisa terhubing kedua wilayah, terutama juga peziarah yang akan mendatangi ke situs Jatiombo.

"Karena sudah menjadi salah satu lokasi wisata religi di Kota Semarang, sehingga banyak peziarah datang dari luar Semarang, seperti, ungaran, bawen, salatiga karena akses yang terdekat, kalau dari selatan atau ungaran memang dari sini (wilayah tambangan) untuk sampai situs Jatiombo,"ujarnya, saat ditemui di Situs Jatiombo, Rabu 4 November 2026.

"Kalau melalui jalur lain sangat sulit. Biasanya pengunjung dari luar kota Semarang akan bingung kalau jalan terdekatnya ditutup. Kalau memutar selain bingung, jarak tempuhnya lebih jauh dibandingkan lewat jalan ini. Situs ini akan ramai oleh Pengunjung tiap Malam selasa, atau malam Jumat, yang memiliki permohonan. Menurut cerita, kenapa wilayah ini disebut situs jatiombo, karena dulu ada pohon jati yang besar sekali, saking besarnya di zaman wali, kemudian dibawa ke Demak untuk dijadikan soko masjid Demak,"katanya.

Baca juga: Minta BGN Perketat Seleksi Mitra, LHKP Muhammadiyah: Keamanan Pangan Jangan Diabaikan

Menurut Dia, di situs ini mulai ada penataan dari dinas kebudayaan dan parisiwata dengan penambahan fasilitas berupa perbaikan jalan masuk dan lampu penerangan. Agar nantinya pengunjung dan peziarah itu nyaman. "Pemkot, sudah turun tangan untuk penataan di situs ini, semoga akses jalan warga dan peziarah juga bisa dibuka kembali agar memudahkan masyarakat yang datang,"paparnya.

Senada dengan warga lainnya, Saroso juga menuntut jalan yang ditutup oleh pengembang perumahan BSB Village dibuka seperti sedia kala.

"Karena dulunya memang untuk akses masyarakat dua wilayah, antara Sodong dengan Tambangan, sekarang malah ditutup. Kami menuntut bagaimana caranya agar jalan tersebut kembali dibuka, akses dua wilayah bisa langsung terhubung lagi. Kami mohon dikembalikan dan akses bisa jalan dibuka, karena dulunya juga jalan, lebar jalan sekitar lima sampai enam meter, sepanjang sekitar satu kilometer,"katanya.

Dia mengakui, jalan amarta yang ditutup ini adalah jalur penghubung antara ujung tambangan sampai sodong. "Ada jembatan yang dibuat baru, itu namanya juga jembatan amarta, kenapa kok diputus semenjak ada perumahan BSB Village yang dibangun sejak tahun 2022,"ungkapnya.

Makin Jauh

Akibatnya, ribuan warga terdampak setelah penutupan jalan. "Sekarang ditutup tidak boleh dilalui warga. Kalau ini memang kebijakan pengembang, mohon untuk dibuka kembali untuk jalan warga seperti dulu. Karena warga harus memutar, lewat Polaman dulu, jadi makin jauh, dan tambah lama,"paparnya.

"Dulu, jalan ini untuk lalu lalang mobil, truk yang membawa pasir, batu, dan hasil panen warga. Sekarang ditutup, warga dulunya menyeberang butuh lima menit sampai tujuan, sekarang harus memutar sejauh sekitar 7 kilometer, dan butuh waktu 20 menit,"lanjutnya.

Penutupan jalan, dinilai banyak merugikan warga, membuat harga barang menjadi lebih mahal, karena akses lebih jauh. "Kalau dulu, jalan lebih dekat sekarang jadi jauh membuat harga makin mahal, kami minta untuk dikembalikan seperti semula jalannya. Kami akan berupaya menuntut hak kami kepada pemerintah kota semarang maupun pihak pengembang agar jalan bisa dibuka untuk kepentingan umum bagi warga,"pungkasnya. (Aji)