LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM --- -- Pascasaling gebrak meja antara anggota Pansus Tata Niaga Singkong DPRD Lampung Budhie PS Condrowati dan wakil petani di DPRD Lampung, Senin (13/1/2025), Dr Andi Desfiandi, "orang dekat" Gubernur Terpilih Rahmad Mirzani Djausal terpanggil ikut sumbang solusi remuknya harga singkong.
Ekonom yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Alfian Husin dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengintensi segenap pihak bahwa solusi harga eceran tertinggi (HET) harga singkong tidak akan pernah mampu menjadi solusi.
"Solusi HET tak akan pernah mampu menjadi solusi, harus ada menataan tata niaga produk-produk pertanian, perkebunan, dan lain-lain secara komprehensif dari hulu hingga ke hilir," ujarnya kepada Helo Indonesia, Selasa (24/1/2025).
Mantan Wakil Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Lampung saat menjabat Rektor IIB Darmajaya ini menjabarkan sejumlah solusi yang jika dicermati bak hendak merevolusi tata niaga singkong di Lampung sebagai sentra singkong terbesar di republik.
Lampung penghasil singkong terbesar, namun nasib petani singkong masih masih kismin (miskin). Andi Desfiandi ikut menyodorkan solusinya: revolusi tata niaga singkong: pembatasan impor, pola tanam, surveyor, hingga potong mata rantai tata niaganya.
1. PEMBATASAN IMPOR
Kalau menyetop impor, sepertinya tidak mungkin karena kita (Indonesia) sudah masuk dalam anggota AFTA (ASEAN Free Trade Area). Solusinya pembatasan impor agar memberi nafas bagi produk petani singkong.
2. POLA TANAM
Tata ulang pola tanam singkong dan produk pertanian lainnya agar tak selalu oversupply (banjir suplai).
3. SURVEYOR
Harus ditunjuk badan (surveyor) tes kadar aci (refaksi). Saat ini kadar aci sepertinya dipukul rata di bawah 25 persen akibat masa tanam 9 bulan dan 6 bulan dianggap sama sehingga dipotong lagi harganya karena kadar aci tidak sesuai.
4. POTONG RANTAI TATANIAGA
Doktor ekonomi jebolan Unpad Bandung ini menginjeksi mata rantai distribusi juga harus diperpendek. Apa pasal? "Karena kebanyakan petani menggunakan pengumpul, dimana pabrikan membeli dari pengumpul karena bisa lakukan pembayaran secara non tunai."
5. TERA TIMBANGAN
Andi turut menyoroti praktik culas timbangan yang tidak akurat. Dia menengarai hal ini bisa saja awet berlangsung, lantaran terdapatnya kemungkinan permufakatan jahat didalamnya. "Ada permainan juga sehingga ada susut akibat timbangan yang tidak akurat," sigi dia.
Dalam analisanya, Andi menyebutkan teknologi pertanian baik pra dan pascapanen, serta produk turunan tepung tapioka sejauh ini belum dioptimalkan di Lampung.
Sebagai produsen produk berbahan dasar singkong terintegrasi penerap konsep lingkungan hijau, BSSW terus mengampu inovasi pelestarian lingkungan via dua upaya green transformation.
1. Pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas dari residu konversi limbah cair pabrik tapioka yang dibangun di 8 pabrik tapioka di Lampung untuk penuhi kebutuhan energinya. Persisnya di pabrik Gunung Agung, Ketapang (Lampung Utara), Pakuan Agung, Tulang Bawang, Terbanggi Besar (Lampung Tengah), Unit 6, Wayjepara (Lampung Timur), Way Abung (Tulang Bawang Barat).
2. Proyek-proyek anaerobik pengubah limbah singkong jadi gas metana yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik tenaga gas idem buat keperluan sendiri. Serta, mengurangi efek rumah kaca.
Proyek ramah lingkungan ini didaftarkan ke Badan PBB yang menangani perubahan iklim, United Nations Framework Convention in Climate Change (UNFCCC), sebagai bagian dari Clean Development Mechanism (CDM) sebagai upaya penyelamatan lingkungan.
Seturut lainnya, pembangkit listrik tenaga biogas ini berlipat guna bagi BSSW untuk memberikan pasokan listrik yang stabil, biaya lebih murah dibanding pakai generator listrik, pemanfaatan limbah jadi peluang upaya serta selamatkan lingkungan, dan manfaat lainnya.
Seperti, BSSW menerima sertifikat Certified Emission Reduction (CER) yang dibutuhkan negara maju untuk mengurangi efek rumah kaca dan kelak bantu kemajuan perusahaan.
Kapitalisasi perusahaan mengoptimasi lini produksi dengan sentuhan teknologi canggih ini, memang jomplang kasat mata. Dengan, "keterbelakangan" kapasitas dan kapabilitas serta ketertinggalan akses teknologi rerata kalangan petani pekebun singkong sini.
"Harus dicarikan titik temu antara petani, pengusaha, pemerintah. Bedah akar masalah secara bersama agar bisa mendapat win-win solution. Tak bisa ini dilakukan sepihak tanpa libatkan semua pihak. Petani memaksakan kehendak sepihak, pengusaha akan terjepit," tukas Andi.
"Dan kalau pengusaha terjepit dan rugi maka mereka akan tutup dan alih usaha. Nah jika sudah demikian maka petani juga yang akan merugi, begitu pula sebaliknya," dedah Andi.
Lantas, solusi jangka panjangnya, lugas dia, "benahi tata niaga secara komprehensif mulai dari hulu hingga hilir."
Serta, solusi jangka pendeknya, tetap duduk bersama bagaimana agar para petani dan pengusaha tidak rugi. "Misalnya HPP singkong di tingkat petani itu Rp800 per kilogram dan kalau dijual Rp900 atau Rp1.000 per kilogram petani untung, pengusaha juga tidak rugi," sorong dia.
Dengan demikian, semua pihak harus bisa memastikan HPP petani tidak akan lebih dari Rp800 per kilogram.
"Kadar aci bisa tinggi, memutus mata rantai pengumpul, timbangan tidak dikorupsi, dibantu teknologi dan lain-lain. Kalau perlu perusahaan tapioka menjadi induk semang kelompok-kelompok tani," pungkas Andi Desfiandi, yang juga anggota Dewan Penasihat Tim Pemenangan Terpadu (TPT) Mirza-Jihan pada Pilgub Lampung 2024 lalu ini.
Pengingat, Gubernur Lampung terpilih, Rahmat Mirzani Djausal (RMD) karib Iyay Mirza, yang juga Ketua DPD HKTI Lampung versi Fadli Zon sejak 2013-saat ini dan Wakil Ketua I DPP APINDO Lampung 2021-2026, diketahui memiliki concern kuat dan komitmen tinggi terhadap problem pokok sengkarut tidak saja harga ekonomian dan bentang masalah tata niaga singkong ini di Lampung.
Namun juga, demi untuk lengkingkan tembang "ambil cangkulmu, ambil pangkurmu, kita menanam tak jemu-jemu", Iyay Mirza telah mengantongi sejembreng bentang solusi hasil belanja masalah hulu-hilir tata niaga sejauh ini.
Dari itu, "anak singkong", publik singkong, dan penikmat singkong goreng sohib tetap ngopi pagi sore hari, di Lampung, sabar menanti. Hari pelantikan bersama wagub terpilih Jihan. (Muzzamil)
