LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ---- -- Nasib seorang petani singkong semakin terpuruk akibat hasil panennya mulai membusuk pascaperusahaan menyetop pembelian singkong di Kampung Mujirahayu Kecamatan Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah.
"Sudah lima hari lima ton singkong saya mulai berubah warna membusuk di atas truk akibat lapak dan pabrik tutup tak membeli singkong," ujar Paimin mengungkapkan kesedihannya kepada Helo Indonesia, Sabtu petang (25/01/25).
Menurut Paimin, selain singkong miliknya tak terangangkut, masih ada tumpukan singkong milik temannya yang sudah dicabut di ladang "Petani rugi, sampai kapan seperti ini, kami perlu makan dan keperluan lain," ujarnya.
Sementara itu petani dan agen singkong lainnya di Kampung Gayausakti, Gunawan menuturkan dengan tutupnya lapak dan pabrik menyebabkan ratusan kuli cabut di Kecamatan Seputihagung menganggur.
Padahal sudah puluhan tahun, para kuli itu menggantungjan hidup dari mencabut singkong. Benar-benar rakyat kali ini terhempas akibat pada pengusaha besar impor.
Menurut Gunawan Harga singkong Rp1.400 per kilogram dengan refaksi 15 persen dapat terwujud jika kadar aci mencapai 24 persen. Meski singkong bagus dan umur tua, kadar aci 24 persen susah didapatkan, paling hanya 18 persen, katanya.
Gunawan berharap kemelut singkong di Lampung segera rampung sehingga perekonomian kembali normal.
Ketua Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Dasrul meminta petani dan agen singkong bersabar karena pihaknya masih memperjuangkan supaya harga singkong sesuai kesepakatan bisa terwujud.
"Kami mohon doa dari semua pihak. Terutama petani dan agen singkong, perjuangan teman-teman mewujudkan harga singkong bisa terbukti," kata Dasrul
(Zen Sunarto)
