Helo Indonesia

Prof Izzuddin Ungkap Ada Potensi Perbedaan Awal Ramadan 2025

Rabu, 26 Februari 2025 09:10
    Bagikan  
Prof Izzuddin Ungkap Ada Potensi Perbedaan Awal Ramadan 2025

Prof Dr KH Ahmad Izzuddin MAg

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Menjelang Ramadan, masyarakat muslim Indonesia hampir selalu mempertanyakan, kapan awal Ramadan dan kapan hari raya Idulfitrinya? Pertanyaan ini selalu muncul karena di Indonesia sampai sekarang belum ada kesepakatan (konsensus – ijma’) dalam metode penetapannya.

''Tidak seperti penetapan hari raya agama lain seperti Natal, Waisak, Nyepi dan lain sebagaimana yang mempunyai metode penetapannya yang tidak berbeda. Menjelang Ramadan tahun 2025 ini juga demikian, banyak WhatsApp yang masuk ke nomor hp saya, menanyakan kapan awal-akhir Ramadan 1446 sekarang ini? Terjadi perbedaan, apa tidak?,'' jelas Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia, Prof Dr KH Ahmad Izzuddin MAg, di Semarang, Selasa 25 Februari 2025.

Baca juga: Kaprodi MH USM Turut Bangga Lulusan Magister Hukum Masih Jadi Terbaik

Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang itu menambahkan, untuk mengawali dan mengakhiri puasa Ramadan (ber-hari raya), pada dasarnya Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan sebagaimana di antaranya disebut dalam hadis Buchari Muslim :” Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal, bila tertutup oleh awan maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi 30 hari ”.

Namun demikian, lanjut Prof Izzuddin, dalam realitanya pemahaman hadis tersebut terdapat perbedaan interpretasi, ada yang memahami “rukyah” harus dengan benar-benar melihat (yakni metode rukyah) dan ada yang memahami bahwa “rukyah” cukup teoretis memperhitungkan dengan ilmu (metode hisab).


''Bahkan ternyata di Indonesia terdapat banyak metode yang juga dampak dari perbedaan pemahaman hadis hisab rukyah tersebut. Namun yang banyak mewarnai dalam wacana penetapan awal Ramadan, Syawal dan Dulhijjah di Indonesia selama ini adalah metode rukyah satu wilayah negara ( rukyah fi wilayatil hukmi ) yang dipakai Nahdlatul Ulama dan metode hisab wujudul hilal yang dipakai Muhammadiyah (kalau belum memberlakukan metode KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal-nya),'' kata pengasuh Pesantren Life Skill Daarun Najaah Semarang

Pemerintah kemudian hadir yang berusaha mempertemukan antara metode hisab dan rukyat tersebut, dengan metode Imkanurrukyah. Sehingga wajar jika masyarakat muslim sampai sekarang masih selalu mempertanyakannya.

Bagaiamana dengan hisab rukyah awal – akhir Ramadan 1446 (tahun ini 2025)? Menurut data hisab yang akurasinya dapat dipertanggungjawabkan, data akhir bulan Sya’ban 1446 H dengan markaz Menara Al-Husna MAJT Semarang, Ijtima’ terjadi pada hari Jum’at Legi, 28 Februari 2025 M pukul 07:44:38 WIB.
Matahari terbenam : 17:57:54 WIB, Azimuth Matahari: 262° 03’ 25,8”, Tinggi Hilal Mar’i : 3° 56’ 40,8” di atas ufuk, Azimuth Hilal : 263° 59’ 22,8”, Posisi Hilal : 01° 55’ 57” di Utara Matahari miring ke Utara, Lama hilal : 18 menit 49 detik, sampai pukul 18:17:12 WIB Elongasi: 5° 53’ 40,8”, Umur Hilal : 10 jam 13 menit 16 detik.
Mendasarkan pada kriteria Imkanurrukyah (tinggi hilal (toposentrik) minimal 3 derajat dan elongasi haqiqy (geosntrik) minimal 6,4 derajat ) daerah di Indonesia yang memenuhi, hanyalah sebagian daerah di provinsi Aceh.

Baca juga: Komitmen Pemerintah Wujudkan Asta Cita melalui Bidang Pendidikan dan Penguatan Infrastruktur Digital

Atas dasar data hisab tersebut, jika Muhamadiyah masih tetap dengan metode hisab wujudul hilal dalam penetapannya – tidak menggunakan metode KHGTnya, sudah dapat dipastikan menurut Muhamadiyah awal Ramadan 1446 jatuh pada hari Sabtu, 1 Maret 2025.

Sedangkan dengan data hisab tersebut, Nahdlatul Ulama menekankan bahwa rukyatul hilal kasat mata dan kasat teleskop yang akan diterima di wilayah Indonesia hanyalah yang berasal dari provinsi Aceh, dengan syarat didukung kondisi cuaca. Sedangkan rukyatul hilal kasat kamera yang akan diterima dapat berasal dari daerah yang dibatasi hingga + 200 km sebelah timur garis elongasi 6,4º, sehingga meliputi provinsi Aceh – Sumatera Utara – Sumatera Barat.

Di Banda Aceh , pada hari Jum’at 28 Februari 2025, matahari tenggelam (maghrib) terjadi pada jam 18:52 WIB. Lama Bulan di atas ufuk Banda Aceh dalam waktu 23 menit, dengan demikian hasil rukyatul hilal di provinsi Aceh paling cepat baru diketahui pukul 19:15 WIB.

Baca juga: Gelar Wisuda ke-71, Rektor USM Inginkan Wisudawan Jadi Aktor Perubahan

Oleh karena itu, bagi Nahdlatul Ulama penentuan awal Ramadhan 1446 H/2025 M, akan berdasarkan rukyatul hilal pada Jumat 29 Sya’ban 1446 H / 28 Februari 2025 M di daerah tersebut. Apabila hilal berhasil dilihat (kasat mata/kasat teleskop/kasat kamera) dan telah terdapat sumpah saksi, maka 1 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu 1 Maret 2025 (mulai malam Sabtu).

Sedangkan apabila hilal tidak berhasil dilihat maka 1 Ramadan jatuh pada hari Ahad 2 Maret 2025 (mulai malam Ahad) karena terjadi istikmal bulan Sya’ban.

''Bagaimana Pemerintah dengan kriteria imkanur rukyah dan sidang Isbatnya? Pemerintah tentunya juga fokus tetap menunggu hasil rukyatul hilal di daerah provinsi Aceh dan sekitarnya, karena yang masuk dalam kriteria imkanur rukyah memang hanya di daerah Aceh tersebut,'' ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI Provinsi Jawa Tengah ini. (Aji)
.