SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Seluruh aktor pembangunan, baik yang mengelola langsung pemerintahan maupun pemangku kepentingan lainnya, wajib menyadari bahwa proses perencanaan pembangunan mutlak memerlukan integrasi dan sinergitas antara variabel demografi dengan variabel pembangunan, melalui Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK).
Hal itu disampaikan Sekretaris Kemendukbangga/ Sestama BKKBN Prof Budi Setiyono SSos, MPol Admin PhD dalam sambutannya pada kegiatan “Konsolidasi Program Bangga Kencana Provinsi dan Kabupaten Kota Tahun 2025” yang dilaksanakan di Kemendukbangga/Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Jumat 25 April 2025.
Baca juga: Dishub Kendal Segera Atur Pembatasan Truk Muatan Barang dan Galian C dari Arah Timur
Dia mengatakan, dokumen GDPK memiliki urgensi lanjutan, yakni menyediakan peta jalan untuk mengintegrasikan berbagai variabel kependudukan ke dalam berbagai proses pembangunan.
“Dengan GDPK kita akan menemukan peta jalan untuk mencapai Indonesia Emas Tahun 2045 besok,” ungkap Prof Budi.
Oleh karena itu, lanjut dia, Kemendukbangga/BKKBN memastikan agar isu kependudukan demografi menjadi concern bagi kita semua. Hal ini bertujuan agar di dalam rangkaian pelaksanaan pembangunan, menjadikan manusia sebagai subjek penting.
“Kita harus menyiapkan proyeksi serta integritas dari pelaksanaan pembangunan, berdasarkan People centered development,'' tambah Prof Budi.
Pada kesempatan itu, dia menitipkan pesan penting kepada Kepala Dinas OPD KB Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah untuk mengawal pengintegrasian GDPK dengan RPJMD 2025 di daerah serta perencanaan kependudukan yang komperhensif melalui 5 (lima) Program Quick Wins Kemendukbangga/BKKBN ; Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Taman Asuh Anak (Tamasya), Lansia Berdaya, dan Super Apps Kependudukan.
Baca juga: Bupati Kendal Ajak Masyarakat Tingkatkan Kualitas SDM untuk Indonesia Emas 2045
Menurutnya Program KB yang dilakukan sejak tahun 1970 telah berhasil mengatur laju pertumbuhan penduduk di Indonesia dan menciptakan bonus demografi yang kini dialami di Indonesia. Menyikapi bonus demografi yang sedang dinikmati oleh masyarakat di Indonesia, tentu banyak tantangan dan PR yang harus diselesaikan.
''Ketidakpedulian terhadap isu pembangunan kependudukan akan membawa berbagai banyak masalah,'' tandas Prof Budi sambil mencontohkan mengenai permasalahan banjir, sampah, dan degradasi lingkungan yang saat ini tengah menjadi perhatian serius pemerintah.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Eka Sulistia Ediningsih, dalam laporannya mengungkapkan harapannya, forum konsolidasi bersama Kepala OPD Kabupaten/Kota ini dapat dijadikan sebagai momentum konsolidasi strategis dan penguatan tata kelola program Bangga Kencana yang berbasis hasil (result-based management), berorientasi keluarga, dan selaras dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Untuk memperkuat komitmen kepedulian pemerintah daerah kepada isu kependudukan, juga dilaksanakan penandatangan perjanjian kinerja antara Kemendukbangga/BKKBN dengan Kepala Dinas OPD KB se-Jawa Tengah, serta dilaksanakan pemberian apresiasi terhadap Kabupaten Pemalang, Kendal dan Grobogan yang telah berhasil merealisasikan dana BOKB secara optimal. (Aji)
