Helo Indonesia

Jejak Integritas Anak Metro Lampung yang Kini Jadi Wakapolda Riau

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Rabu, 24 Desember 2025 16:05
    Bagikan  
TOKOH
HELO LAMPUNG

TOKOH - Brigjen Pol Hengki Haryadi

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Tak semua perwira Polri ditempa oleh ruang kerja yang nyaman. Brigjen Pol Hengki Haryadi adalah salah satunya. Kariernya tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari lorong panjang pengabdian, dimulai di daerah rawan konflik hingga memimpin penegakan hukum di jantung ibu kota.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1996 ini memulai tugas pertamanya di Polres Dili pada 1997, ketika Timor Timur masih menjadi bagian dari Indonesia. Bagi anaknya Raden Tjoek dan Bu Sri tugas itu bukan sekadar penempatan awal, tetapi sekolah kehidupan.

Di sana, alumni SD Xaverius Metro 1986-1991, lanjut SMPN 1 Metro 1991-1993, baru SMA Tarnus wakil Lampung belajar bahwa menjadi polisi bukan hanya soal kewenangan, melainkan keberanian mengambil risiko demi negara dan masyarakat.

undefined

Pengalaman lapangan itu membentuk karakternya: tegas, disiplin, dan tak mudah goyah. Ketika ditugaskan di Polda Lampung, Hengki memilih tetap dekat dengan kerja-kerja reserse. Dari Kasat Reskrim Polres Tulangbawang hingga Kasat Reskrim Polrestabes Bandar Lampung, ia dikenal sebagai perwira yang tak segan turun langsung ke lapangan, mendengar keluhan warga, dan menuntaskan perkara tanpa kompromi.

Keuletannya menarik perhatian pimpinan. Tahun 2010, Hengki dipercaya bertugas di Polda Metro Jaya—wilayah dengan kompleksitas kejahatan tertinggi di Indonesia. Jabatan demi jabatan ia emban, dari Kapolsek Metro Gambir, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, hingga Kapolres Metro Jakarta Barat dan Jakarta Pusat. Di setiap posisi, satu prinsip selalu ia pegang: hukum harus hadir untuk melindungi yang lemah.

Saat menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Hengki menegaskan sikapnya terhadap premanisme. “Negara tidak boleh kalah oleh preman,” ucapnya berulang kali. Prinsip itu ia buktikan melalui penindakan tegas terhadap kelompok-kelompok yang mengganggu ketertiban, termasuk dalam konflik perebutan lahan dan praktik mafia tanah yang merugikan masyarakat kecil.

Di bidang pemberantasan narkotika, rekam jejak Hengki juga meninggalkan jejak kuat. Ia memimpin pengungkapan jaringan narkoba lintas daerah dan lintas negara, dari ganja hingga sabu dalam jumlah besar. Keteguhan dan konsistensinya bahkan mendapat pengakuan internasional melalui penghargaan dari Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat.

undefined

Namun bagi Hengki, sorotan publik bukan tujuan. Saat memimpin penangkapan figur publik dalam kasus narkoba atau membongkar organisasi terlarang, ia tetap memposisikan hukum sebagai panglima—tanpa pandang bulu, tanpa kompromi.

Sebelum dipercaya menjadi Wakapolda Riau, Hengki mengemban tugas sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II Bareskrim Polri. Tugas ini menuntut ketenangan, ketajaman analisis, dan integritas tinggi—kualitas yang telah lama melekat pada dirinya.

Kini, di Riau, Brigjen Pol Hengki Haryadi kembali memulai babak baru pengabdian. Dengan pengalaman panjang dan nilai-nilai yang ia pegang teguh, ia diharapkan bukan hanya memperkuat institusi, tetapi juga menjadi teladan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kerja keras, keberanian, dan kesetiaan pada hukum.

Bagi generasi muda Polri, perjalanan Hengki adalah pengingat sederhana namun kuat: jabatan tertinggi bukan tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari konsistensi menjaga integritas. (Rls/HBM