Helo Indonesia

Aparatur Tiyuh Menjerit, Uang Siltap Dianggap Bank Plecit

1 jam 2 menit lalu
    Bagikan  
Aparatur Tiyuh Menjerit, Uang Siltap Dianggap Bank Plecit
HELO LAMPUNG

Aksi damai ratusan aparatur tiyuh se-Kabupaten Tulangbawang

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM----
Sebuah tulisan sederhana di atas karton justru menjadi salah satu sorotan dalam aksi damai ratusan aparatur tiyuh se-Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Lampung, di halaman Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tubaba, Kamis (27/8/2026).

Di tengah kerumunan massa yang menyuarakan tuntutan pembayaran penghasilan tetap (Siltap), seorang peserta aksi mengangkat karton bertuliskan:

“Siltap Kok Dibayar Kredit, Lu Kira Bank Plecit.”

Kalimat bernada sindiran itu seolah mewakili keresahan para aparatur tiyuh yang selama ini menggantungkan penghasilan bulanannya dari Siltap.

Bagi mereka, Siltap bukan sekadar angka dalam laporan keuangan pemerintah. Uang tersebut merupakan penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membayar kewajiban, hingga menjalankan kehidupan sehari-hari.

Namun, ketika pembayaran tersendat dan tunggakan menumpuk, kondisi tersebut membuat aparatur tiyuh harus bertahan dalam ketidakpastian.

Tulisan “Bank Plecit” yang dibawa dalam aksi tersebut pun menjadi gambaran kekecewaan terhadap pola pembayaran Siltap yang dinilai tidak semestinya terjadi.

Para aparatur mempertanyakan mengapa penghasilan mereka harus dibayarkan secara tidak penuh atau menunggu rapelan, sementara kewajiban sebagai aparatur tiyuh tetap harus dijalankan setiap hari.

Dalam aksi tersebut, Forum Aparatur Tiyuh se-Kabupaten Tubaba mendesak Pemkab segera menyelesaikan seluruh tunggakan Siltap.

“Kami meminta agar tunggakan Siltap selama empat bulan, Mei sampai Agustus 2026, segera diselesaikan,” kata Basyah, perwakilan Forum Aparatur Tiyuh se-Kabupaten Tubaba.

Bagi para peserta aksi, persoalan tidak berhenti pada pembayaran tunggakan. Mereka juga meminta adanya kepastian agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada bulan-bulan berikutnya.

Forum meminta Pemkab Tubaba memastikan pembayaran Siltap ke depan dilakukan tepat waktu dan tidak menggunakan sistem rapel.

Mereka juga menolak adanya pengurangan jumlah aparatur tiyuh serta meminta pemerintah memastikan tidak terjadi pengurangan besaran Siltap.

Aksi tersebut akhirnya menjadi sebuah pesan terbuka dari para aparatur tiyuh, mereka tidak hanya meminta uang yang menjadi haknya dibayarkan, tetapi juga meminta kepastian, ketepatan waktu, dan kepastian besaran penghasilan.

Sebab, bagi mereka, Siltap bukan utang yang bisa dicicil sesuka waktu.

“Siltap kok dibayar kredit, lu kira Bank Plecit?” menjadi kalimat pendek yang menggambarkan panjangnya keresahan aparatur tiyuh di Tubaba.

(Rohman).