LAMPUNG.HELO.INDONESIA.COM.----- Harga yang stabil ditambah tingginya permintaan pasar ekspor, petani di Provinsi Lampung khususnya Kabupaten Lampung Timur membangkinkan semangat untuk berkebun cabai jamu. Saat ini, harga bahan baku jamu dan obat-obatan tradisional itu menembus harga Rp100 ribu perkilo.
Ketua Umum Komunitas Cabai Jamu Lampung Anwarsono mengungkapkan, petani di Provinsi Ruwa Jurai tak hanya berkebun lada dan cengkih. Tapi, kala itu petani juga menekuni atau berkebun cabai jamu atau cabai jawa. Tapi akibat rendahnya harga bahan baku jamu itu, tak sedikit petani memusnahkan tanaman perdu yang merambat baik di batang pohon atau properti lain.
Bahkan masa itu tak hanya tanaman cabai jamu yang dimusnahkan, tapi tanaman lada, cengkih atau lainnya diganti pajawija seperti singkong atau jagung.
Beberapa tahun terakhir, harga cabai jamu kering. sangat menjanjikan yakni sekitar Rp100 ribu perkilo. Ditambah lagi permintaan ekspor lumayan tinggi.
Berbekal dua hal tersebut, tak sedikit petani di Lampung Timur dan kabupaten lain mulai menekuni atau menanam kembali tanaman perdu kaya manfaat itu.
"Saya dan anggota belum mendata luas total perkebunan cabai Jawa baik di Lampung Timur atau kabupaten lain. Yang jelas, petani sangat tertarik,"ujar Anwarsono Minggu (1/3).
Mulai dari masa tanam hingga panen, petani hanya butuh waktu sekitar setahun. Tanaman perdu itu tahan penyakit tidak seperti lada atau perdu lainnya. Dalam satu hektar mampu ditanam sekitar lima ribu batang.
"Saya menanam sekitar satu hektar. Belum dua bulan, sudah ada tanda bakal berbuah,"ujar pensiunan ASN itu.
Harga yang stabil ditambah tingginya pasar ekspor, petani cabai jamu berharap kondisi itu tetap bertahan. Jangan sampai saat panen raya, harga anjlok dan ekspor menurun.
"Kami berharap negara selalu hadir bersama petani. Jangan sampai saat panen raya harga cabai jamu anjlok, sehingga tanaman dimusnahkan kembali"pungkas Anwarsono.
(Khairuddin)
