KENDAL, HELOINDONESIA.COM - Tradisi Syawalan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, kembali digelar dengan penuh khidmat sebagai bagian dari warisan budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.
Ritual ini tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat, tetapi juga sarat nilai religius dan penghormatan terhadap para tokoh ulama yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.
Syawalan digelar sebagai bentuk peringatan haul atau wafatnya sejumlah ulama besar, di antaranya Kiai/Guru Asy’ari, Sunan Katong, Wali Musyafa, Wali Rukyat, hingga Kiai Mojo. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mengenang perjuangan para ulama sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan.
Baca juga: Sidang Kredit Sritex, Kuasa Hukum: Auditor dan OJK Terkecoh, Bankir Jadi Korban
Sepekan setelah Hari Raya Idulfitri, ribuan peziarah dari berbagai daerah memadati kawasan makam di Bukit Jabal, Desa Protomulyo. Mereka datang untuk berdoa, membaca ayat suci Al-Qur’an, serta menjalin silaturahmi dengan sesama peziarah.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, saat membuka rangkaian Syawalan di kompleks Makam Kiai Guru Asy’ari pada Kamis 26 Maret 2026 menegaskan pentingnya menjaga tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus warisan leluhur.
Menurutnya, Syawalan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga memiliki makna mendalam sebagai wujud penghormatan kepada para ulama terdahulu. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara masyarakat dengan tokoh agama, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di tengah kehidupan sosial.
"Tradisi syawalan merupakan tradisi leluhur yang harus terus dilestarikan secara turun temurun. Menurut Bupati Kendal, perjuangan dakwah dari para ulama pendahulu juga patut diteladani.
"Sehingga melalui tradisi ini, hubungan antara masyarakat dan umaroh dengan para ulama harapannya tetap terjaga dengan baik," harapnya.
Bupati juga menyebut, tradisi Syawalan sekaligus momentum untuk mendoakan para ulama terdahulu yang sudah berjuang untuk syiar agama Islam.
"Tradisi Syawalan menjadi momentum bagi masyarakat untuk mendoakan para ulama terdahulu terutama Almarhum Kiai Guru Asy'ari yang telah berjuang untuk syiar agama. Beliau adalah pendiri Masjid Agung Kaliwungu, hingga saat ini terus menjadi simbol perjuangan dakwah," tutur Bupati Kendal.
Baca juga: Dokumen Rampung, Duet Jateng-DIY Resmi Daftar Tuan Rumah PON XXIII Senin Depan
Pada kesempatan tersebut, dia juga meminta doa kepada masyarakat, agar program-program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kendal bisa berjalan dengan baik dan lancar.
Dalam acara tersebut Bupati Kendal beserta dengan para tokoh agama, dan masyarakat umum lainnya membaca maulud nabi dan membaca tahlil untuk almarhum para ulama terdahulu.
Pengurus Masjid Almuttaqin Kaliwungu, Seklaigus Ketua MUI Kendal, KH. Asroi Tohir menyampaikan, Syawalan ini tidak hanya sekedar menjadi ajang silaturahmi bagi warga, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap ulama besar yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Kaliwungu.
"Syawalan ini bukan hanya sekedar mengenang, melainkan juga untuk menanamkan nilai-nilai keteladanan kepada generasi mendatang, agar mereka menjadi generasi yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman," katanya.
Ia juga meminta dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal untuk melakukan kajian-kajian historis agar tradisi Syawalan akan terus dilestarikan oleh generasi penerus yang akan datang.
"Jangan sampai generasi penerus nantinya kehilangan jejak histori, karena adanya syawalan ini yang paling pokok adalah mengenal para tokoh terdahulu yang sangat luar biasa dalam segala bidang, terutama keilmuan," pungkasnya. (Aji)
