LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Senja itu datang perlahan, membawa serta satu bab panjang pengabdian yang akhirnya sampai di penghujungnya. Setelah lebih dari 35 tahun menapaki jalan sunyi birokrasi, Perana Putera, SH., MH., resmi memasuki masa purna tugas pada 30 Maret 2026.
Sosok yang selama ini dikenal tegas namun tetap hangat itu menutup kariernya sebagai Inspektur Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), dengan langkah yang tenang—namun penuh makna.
Dalam suasana perpisahan yang sarat haru, Perana berdiri bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai manusia yang menuntaskan amanah. Dengan suara yang tertata, ia menyampaikan rasa syukur, sekaligus memastikan bahwa tak ada tugas yang tertinggal. Semua telah ia rampungkan, sebagaimana ia memulai—dengan penuh tanggung jawab.
Ia mengapresiasi kerja keras seluruh jajaran, yang berhasil menuntaskan pelaporan LHKPN hingga mencapai 100 persen. Sebuah capaian yang bukan sekadar angka, tetapi cermin dari komitmen bersama menjaga integritas. Namun di balik itu, ia masih menyelipkan pesan—pelaporan SPT Tahunan yang baru menyentuh 53 persen menjadi pekerjaan rumah yang belum boleh dilupakan.
“Ada kelonggaran waktu hingga 30 April. Saya harap kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya, sederhana, namun penuh harap. Perjalanan panjang Perana Putera bukanlah kisah tentang jabatan semata, melainkan tentang kesetiaan pada tugas. Selama 19 tahun ia mengabdi di Kabupaten Lampung Utara, sebelum melanjutkan langkahnya lebih dari 16 tahun di Tubaba. Waktu yang panjang itu ia isi dengan dedikasi yang tak banyak bicara, tetapi terasa dalam hasil.
Berbagai amanah pernah singgah di pundaknya—Kepala Dinas Pendidikan, Asisten Bidang Pemerintahan, Sekretaris Daerah Tubaba (Januari 2025–Januari 2026), hingga akhirnya Inspektur dalam empat tahun terakhir. Jabatan-jabatan itu datang dan pergi, namun nilai yang ia pegang tetap tinggal.
Di ujung pengabdiannya, ia meninggalkan pesan yang barangkali sederhana, tetapi paling sulit dijaga: integritas. “Selama empat tahun di Inspektorat, saya berusaha untuk tidak menerima, apalagi meminta apa pun dalam menjalankan tugas,” tuturnya. Sebuah kalimat yang tidak hanya menjadi nasihat, tetapi juga warisan moral bagi mereka yang masih melanjutkan langkah.
Bupati Tubaba, Novriwan Jaya, yang pernah berjalan dalam lorong birokrasi yang sama, mengenang Perana sebagai sosok yang lurus—tak condong ke kanan, tak pula ke kiri.
“Pak Perana adalah tempat saya belajar menjadi birokrat yang tegak. Beliau mencapai puncak karier dengan cara yang baik,” ujarnya.
Lebih dari itu, Novriwan mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang memimpin hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan. Ia mengutip pesan almarhum Fauzi Hasan, bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu memberdayakan, bukan sekadar mengarahkan.
Di hadapan para ASN, ia pun mengajak untuk memandang pensiun bukan sebagai akhir, melainkan fase baru yang harus disiapkan sejak jauh hari.
“Jangan menunggu pensiun untuk memulai usaha. Sepuluh tahun sebelumnya harus sudah dirintis,” pesannya.
Dan kini, ketika langkah Perana Putera berhenti di gerbang purna tugas, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga jejak—tentang bagaimana mengabdi tanpa riuh, bekerja tanpa pamrih, dan pergi tanpa meninggalkan beban. Sebab pada akhirnya, pengabdian sejati tak pernah benar-benar usai. Ia hidup, dalam nilai-nilai yang terus dijaga oleh mereka yang melanjutkan. (Rohman)
