Helo Indonesia

Tim PkM USM Beri Edukasi Diversifikasi Pangan Berbasis Sukun di SMAN 2 Semarang

Senin, 13 April 2026 15:37
    Bagikan  
Tim PkM USM Beri Edukasi Diversifikasi Pangan Berbasis Sukun di SMAN 2 Semarang

Tim pengabdian masyarakat USM saat memberikan edukasi diversifikasi pangan di SMAN 2 Semarang

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Buah sukun yang selama ini dianggap "ndeso" ternyata bisa disulap menjadi camilan modern yang digemari remaja. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Semarang (PkM USM) saat menyambangi SMAN 2 Semarang pada Senin, 13 April 2026.

Bukan sekadar sosialisasi biasa, tim dosen USM ini menggelar pelatihan Literasi Gizi dan Diversifikasi Pangan lewat aksi nyata: edukasi pembuatan cookies berbasis tepung sukun.

Baca juga: Himmatisi FTIK USM Bekali Siswa SMK LPI Semarang Ilmu Masa Depan dengan Machine Learning

Tim PkM USM terdiri atas Ketua Dr Mita Nurul Azkia STP MSc, anggota Prof Dr Ir Sri Budi Wahjuningsih MP, Ika Fitriana STP MSc, dan Ahmad Muhaimin SPd MPd. Mereka dibantu dua mahasiswa yakni Farezha Ilham Raihanda Putra dan Dinanta Kartika Dewi.

Menurut Mita, tujuan kegiatan meningkatkan literasi gizi dan pemahaman diversifikasi pangan siswa melalui edukasi dan praktik pembuatan cookies berbasis tepung sukun.

''Secara khusus, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang gizi seimbang, memperkenalkan sukun sebagai bahan pangan lokal alternatif, serta membekali siswa dengan keterampilan pengolahan pangan sederhana yang aplikatif,'' katanya.

Adapun manfaat kegiatan itu, katanya, meningkatkan pengetahuan siswa tentang gizi dan keterampilan praktis dalam memilih serta mengolah pangan selingan berbasis bahan lokal.

Selain itu juga mendukung penguatan edukasi gizi dan pembiasaan perilaku konsumsi pangan yang lebih beragam dan sehat.

''Manfaat bagi perguruan tinggi dan masyarakat adalah menjadi sarana penerapan keilmuan dalam kegiatan pengabdian serta mendorong penyebaran praktik pemanfaatan pangan lokal di lingkungan sekitar,'' ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai bagian dari diversifikasi pangan masih terbatas. Siswa umumnya lebih familiar dengan produk pangan berbasis tepung terigu, sementara pengetahuan mengenai bahan pangan lokal seperti sukun sebagai alternatif sumber karbohidrat dan serat masih relatif rendah.

Baca juga: Aksi Delegasi Fomjat di Jawa Tengah Youth Summit: Dari Sekolah untuk Kebijakan Daerah

Hal itu menunjukkan perlunya pengenalan pangan lokal dalam bentuk produk yang sesuai dengan preferensi remaja.

Menurutnya, permasalahan lain yang relevan adalah terbatasnya pembelajaran berbasis praktik yang mengaitkan pengetahuan gizi dengan proses pengolahan pangan sederhana.

''Pembelajaran yang bersifat teoritis belum sepenuhnya mampu membekali siswa dengan keterampilan aplikatif dalam memilih dan mengolah pangan yang lebih sehat. Oleh karena itu, mitra memerlukan program edukasi yang terstruktur, aplikatif, dan kontekstual untuk meningkatkan literasi gizi sekaligus mendorong diversifikasi pangan di kalangan siswa,'' ungkapnya. (Aji)