Helo Indonesia

Bagikan MBG Basi, SPPG Alferdy Belum Ada Sertifikat Higiene Sanitasi

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Selasa, 21 April 2026 17:45
    Bagikan  
MBG
HELO LAMPUNG

MBG - Korcam SPPG Sukaraja, M. Akbar Sunjaya dan Ahli Gizi SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah, Rani (Foto Hajim/Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Ternyata, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Alferdy Nusantara Barokah yang membagikan makanan bergizi gratis (MBG) basi baru sebulan beroperasi dan belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS)

SLHS wajib dimiliki setiap SPPG untuk menjamin MBG aman dikonsumsi masyarakat. "Hari ini, SLHS keluar, sebelumnya on process," kata Korcam SPPG Sukaraja, M. Akbar Sunjaya, Selasa (21/4/2026). 

undefined

Salah seorang ibu muda mengembalikan MBG yang sudah basi dari SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah

Ahli Gizi SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah, Rani, membenarkan bahwa SLHS masih dalam tahap pengurusan saat program mulai berjalan belum genap sebulan. “Hari ini SLHS keluar," katanya,

Senin (20/4/2026), SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah membagikan MBG yang dikeluhkan telah basi oleh warga 26 RT di 7 Posyandu Kelurahan Garuntang, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandarlampung.

Menurut Akbar Sunjaya, warga akan mendapatkan kompensasi menu baru dari SPPG Sukaraja bagi warga 26 RT Posyandu Garuntang yang beberapa wakilnya testimoni via video tentang basinya MBG.

Kata dia, tak semua MBG basi. Yang menerima MBG basi, SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah akan menambah satu MBG sehingga jadi dua MBG untuk warga yang sebelumnya menerima MBG basi.

Baca juga: Yayasan Alferdy Bagikan MBG Basi ke Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita di Geruntang

"Sebenarnya dalam proses distribusi terdapat perbedaan kondisi makanan. Sebagian yang masih layak dikirim lebih awal, sementara sisanya pada sore hari yang ternyata sudah tidak layak konsumsi," ujar Akbar.

Menurutnya, sebelum dikirim ke posyandu buat ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, seluruh proses pengolahan hingga pendistribusian makanan telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Namun, ada warga yang seharusnya menerima MBG pada pukul 10.30 WIB molor hingga pukul 16.30 WIB. Untuk yang menerima MBG basi, pihaknya akan memberikan kompensasi berupa dua MBG.

Terkait keterlambatan distribusi, kata Akbar akibat perubahan menu serta pergantian wadah makanan (ompreng), yang berdampak pada waktu penyaluran.

Ke depan, pihaknya berjanji akan memperketat pengawasan kualitas makanan, mulai dari rasa, suhu, hingga tekstur sebelum didistribusikan ke masyarakat.

Insiden ini menjadi perhatian serius, mengingat SLHS merupakan indikator penting dalam menjamin kelayakan higiene dan sanitasi makanan, terlebih program MBG menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Sebagian warga mengembalikan MBG dan lainnya menolak karena ditujukan untuk balita dan ibu hamil. Program MBG yang seharusnya memberikan manfaat bagi kelompok rentan diberikan tanpa memperhatikan kualitas gizi.

"Bu tolong dibenahi, ini nasinya sudah basi, sayurnya juga basi,semua menu tidak layak di konsumsi, tolong dibenahi," ucap salah satu ibu berkaos hijau yang memulangkan piring ompreng.

"Daripada nantinya ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada kesehatan anak dan ibunya," tuturnya. Warga tidak mau menerima paket MBG karena takut keracunan," tandasnya.(Hajim).