Helo Indonesia

Kemeriahan Ogoh-Ogoh Jadi Bukti Sah Semarang Kota Toleran Nasional

1 jam 52 menit lalu
    Bagikan  
Kemeriahan Ogoh-Ogoh Jadi Bukti Sah Semarang Kota Toleran Nasional

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat hadir dalam kemeriahan Pawai Ogoh - Ogoh

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Jalanan protokol dari Balai Kota hingga Simpang Lima berubah menjadi panggung akulturasi raksasa, Minggu siang 26 April 2026. Ribuan pasang mata menjadi saksi saat 1.500 peserta menyatu dalam Pawai Ogoh-Ogoh 2026, sebuah parade kolosal yang menegaskan posisi Semarang sebagai rumah harmoni terbaik di Indonesia yang merawat keberagaman.

Di bawah terik matahari yang tak menyurutkan semangat, empat Ogoh-Ogoh raksasa diarak dengan megah. Menariknya, pawai ini bukan hanya milik umat Hindu. Di barisan panjang tersebut, dentuman Beleganjur Bali bersahutan mesra dengan atraksi Barongsai, tabuhan Rebana, hingga hentakan magis Topeng Ireng.

Baca juga: Sirnas Padel 2026 di Semarang Cetak Rekor dengan 800 Atlet, Sport Tourism Jateng Menyala

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyebut momen ini sebagai refleksi pembersihan diri dari sifat-sifat negatif demi menjaga keseimbangan hidup.

“Wajah Semarang hari ini adalah wajah kesetaraan. Kehadiran nilai-nilai ini dalam ruang lintas agama adalah komitmen kita bersama untuk merawat harmoni kota,” tegas Agustina di tengah kerumunan warga.

Anugerah

Agustina menegaskan pawai ini menjadi perayaan atas prestasi Semarang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia dengan meraih peringkat tiga nasional dalam ajang Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 dari SETARA Institute.

“Capaian ini menjadi anugerah luar biasa bagi Semarang sebagai kota metropolitan yang sangat heterogen. Hal ini membuktikan bahwa di tengah kompleksitas kota besar, warga Kota Semarang mampu menjadi teladan toleransi bagi seluruh Indonesia,” tegasnya.

Suasana makin cair saat rombongan mencapai Simpang Lima. Di hadapan warga, Agustina berinteraksi mengenai filosofi ikon akulturasi Semarang, Warak Ngendok. Beliau menekankan simbol perpaduan naga, kambing, dan unta tersebut adalah bukti bahwa kerukunan telah menjadi napas kehidupan kota sejak lama.

“Berbagai karnaval keagamaan yang kita gelar hingga hari ini, mulai dari Dugderan hingga Karnaval Paskah, memberikan bukti bahwa kerukunan lintas agama di Semarang berdampak langsung pada penguatan ekonomi dan pariwisata. Kita buktikan bahwa Semarang selalu damai, kondusif, dan siap untuk terus maju,” imbuhnya.

Baca juga: Nguri-uri Budaya, Ngopeni Jiwa: Tia Hendi dan Aktivis Remaja Jateng Bersatu Jaga Kesehatan Mental

Pada kesempatan itu, Agustina memberikan bocoran mengenai perhelatan besar berikutnya dalam rangka HUT ke-479 Kota Semarang, yakni Semarang Night Carnival (SNC) pada 2 Mei mendatang. Event internasional tersebut akan menghadirkan delegasi dari Jepang, Korea, Belanda, hingga Maroko.

“Mari kita jaga terus semangat ini dan jadikan perbedaan sebagai energi kolaborasi. Saya minta masyarakat turut mengabarkan bahwa Semarang akan menyambut dunia melalui Semarang Night Carnival. Mari kita jadikan Semarang sebagai tuan rumah bersama yang nyaman dan rukun bagi semua,” pungkasnya. (Aji)