Helo Indonesia

Inkado Jateng Nyatakan Setia ke PB Inkado di Bawah Kepemimpinan Ahmad Sahroni dan GA Pesik

58 menit lalu
    Bagikan  
 Inkado Jateng Nyatakan Setia ke PB Inkado di Bawah Kepemimpinan Ahmad Sahroni dan GA Pesik

Kegiatan Ujian DAN yang diikuti para karateka Pengprov Jateng mendapat bimbingan dan pengawasan teknis dari Dewan Guru PB Inkado.

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Di tengah dinamika internal yang kerap mewarnai tubuh organisasi olahraga, Pengprov Indonesia Karate-do (Inkado) Jawa Tengah mengambil sikap tegas. Mereka memastikan tetap setia dan tegak lurus kepada Pengurus Besar (PB) Inkado periode 2022–2027 di bawah kepemimpinan Ketua Umum Ahmad Sahroni, Sekjen Octar Ramon Pesik, dan Ketua Dewan Guru Kanco G.A Pesik.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Pengprov Inkado Jateng, Suyantoro, saat dihubungi di Cepu, Sabtu 12 September 2026. Menurutnya, persoalan di tingkat pusat sama sekali tidak menggoyahkan langkah pembinaan di daerah.

“Kami di Jateng sedikit pun tidak terganggu dengan masalah itu. Selama ini bimbingan, arahan, kebijakan, serta tata kelola yang dilakukan PB sudah sangat baik dalam mendukung pengembangan organisasi maupun peningkatan prestasi Inkado di Jateng,” tegas Suyantoro.

Baca juga: Dari Semarang, Pesan Damai MTQ Nasional XXXI Dipancarkan ke Seluruh Indonesia

Salah satu tokoh senior Inkado di Jateng ini menegaskan, tugas yang harus diemban ketika sudah menjadi pengurus olahraga, termasuk Inkado, adalah bagaimana membesarkan organisasi, meningkatkan kualitas dan prestasi, serta memupuk, menjaga soliditas dan rasa nyaman bagi keluarga besar Inkado Jateng.

Karena itu, dia dalam setiap kebijakan teknis dan nonteknis selalu berkoordinasi dengan ketua Keluarga Sabuk Hitam (KSH) Jateng Hasiholan Welly Roike Gultom dan Sekum Adam Prabowo yang dengan sigap mengorganisasi semua kegiatan bidang di tubuh Pengprov.


Hal yang sama ditegaskan oleh Shihan Roike, bahwa semua program dan proses yang ada di Pengprov Jateng berjalan normal, bahkan mengalami peningkatan kegiatan. Di bidang pembinaan prestasi misalnya, semua sektor bisa tergarap dengan baik, terarah dan terprogram.

Disebutkan, untuk pembinaan atlet, saat ini peningkatan prestasi para karateka di berbagai daerah sangat terasa, Hal itu dibuktikan dengan raihan gelar juara dalam sejumlah kejuaraan daerah, nasional bahkan ada di tingkat internasional.

Hal yang sama juga terjadi di bidang kepelatihan. Pembinaan terhadap pelatih muda tidak pernah berhenti, khususnya untuk mereka yang sudah menyandang sabuk hitam (DAN). Mereka memiliki kewajiban untuk mengamalkan ilmu kepelatihan dengan praktik di djojo masing-masing.

Sementara untuk pembinaan wasit dan juri, Pengprov Jateng juga terus dilakukan untuk memacu kualitas mereka, bahkan saat ini sudah ada penambahan jumlah wasit nasional. Semua yang dilakukan ini atas bimbingan dari PB Inkado, makanya Jateng tidak pernah ragu terhadap kebijakan pengurus besar di Jakarta.


Roike menyebutkan, saat diadakan gashuku dan kanaikan DAN di dojo Pengprov Inkado Jateng di SMK LPI di Jl Menoreh Utara No 11 Sampangan misalnya, PB menugaskan Dewan Guru Octar Ramon Pesik dan Iwan Taher untuk membimbing peserta. ‘’Saya sangat terbantu dengan kehadiran shihan Octar dan Iwan itu,’’ kata Roike yang saat ini juga menjadi Dewan Guru PB Inkado.

Membangun Perguruan

Mengenai sinyalemen adanya upaya menarik perguruan karate ini ke dunia politik, unsur pimpinan Inkado Jateng tersebut membatahnya dan tidak pernah merasakan hal itu. Menurut Suyantoro, hadirnya beberapa tokoh masyarakat di tubuh Inkado justru dalam kerangka membangun dan membesarkan perguruan.

Adam Prabowo menjelaskan, Pengprov Jateng memang telah mengambil kebijakan untuk merangkul tokoh-tokoh masyarakat untuk menjadi keluarga besar Inkado dengan cara memberi DAN Kehormatan.

‘’Saya kira langkah strategis seperti ini merupakan upaya mempertahankan, mengembangkan dan bahkan membesarkan organisasi Inkado. Harus kita sadari bahwa ruang organisasi olahraga bukan semata-mata milik para praktisi olahraga, tetapi juga menjadi tempat bagi akademisi, pengusaha dalam berkegaiatan sosial dan bahkan juga politisi dalam mengabdikan diri pada masyarakat,’’ katanya.

Baca juga: Meriah, Religius, dan Bikin Terpukau: MTQ Nasional XXXI di Jateng Banjir Pujian

Dia menegaskan, saat ini melibatkan ‘’orang luar’’ dalam mengembangkan organisasi dan membangun prestasi atlet, pelatih dan wasit-juri bukanlah hal yang tabu, atau jangan diartikan sebagai upaya menjual marwah organisasi, karena wadah karate saat ini juga merupakan organisasi terbuka.

Di lapangan, kata Adam sudah banyak contoh bukan hanya perguruan karate, bahkan cabang olahraga menjadikan pejabat atau pengusaha sebagai unsur pimpinan, karena dinilai mampu memberi kontribusi untuk pengembangan organisas.

.Kondisi di lapangan dengan hadirnya akademisi dan donatur itu memang sangat membantu baik teknis maupun nonteknis. Misalnya saja, salah satu dojo ketika ingin mengembangkan diri, dari sisi teknis si pelatih harus menambah ilmu kepelatihan baik dalam hal sport science, sport technology, data analytics dan bahkan sport intelligence dan sebagainya. Nah ini adalah ranahnya para akademisi dalam rangka menyusun program latihan.

Sedangkan untuk nonteknis, si pelatih bukan semata-mata memberi ruangan untuk berlatih, namun juga melengkapinya dengan peralatan sarana dan prasarana latihan dan bertanding, bahkan juga dengan perlengkapan pembinaan fisik. Ini tidak murah, makanya diperlukan donatur yang mungkin saja dari pengusaha, bahkan juga politisi.

‘’Jadi jangan elergi, karena tugas pokok dan fungsi dari personel pengurus itu sudah ada. Ketika semua dilakukan dengan guyub rukun, tentu hasilnya akan mekasimal, yakni terciptanya prestasi karateka Inkado,’’ tambahnya. (Aji)