LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Warga yang menguasai lahan perkebunan milik pemerintah atau badan usaha lainnya tanpa didukung dokumen sah terancam pidana, kata Kapolres Lampung Tengah AKBP Andik Purnomo Sigit, SH, SIK, MM.
Ada beberapa palang hukum yang berpotensi dilanggar warga,r yakni:
(1). Pasal 385, Ayat (1), KUHP, norma yang mengatur mengenai perbuatan mengambil/merampas hak orang lain, dalam hal ini adalah tanah, secara melawan hukum.
(2). Pasal 6, Ayat (1), huruf a) dan PERPU No. 51 Tahun 1960, Pasal 6, ayat (1) huruf a yang berbunyi: Mengingat akan sifat perbuatannya maka yang dapat dipidana itu tidak saja terbatas pada pemakaian-pemakaian tanah yang terjadi (dimulai) sebelumnya dan kini masih tetap berlangsung.
(3). Pasal 14, ayat (1) dan (2) dan pasal 15 UU No. 1 th 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 170 dan Pasal 160 KUHPidana ancaman hukuman (10 tahun penjara) Serta Pasal 187 KUHP dan pasal 170 KUHP, Pasal 187 KUHP dan pasal 170 KUHP Dengan ancaman 12 tahun penjara. (POKJA)
Baca juga: Mahfud MD Kaget, HMI Bela Rocky Gerung dengan Bakar Bendera PDIP: Tradisinya Adu Argumen
Kapolres Lampung Tengah AKBP Andik Purnomo Sigit SH. SIK.MM mengimbau masyarakat agar mematuhi peraturan dalam berbangsa dan bernegara. Salah satunya tidak berbuat melawan atau melanggar hukum yang berlaku, karena akan berakibat pidana bagi pelakunya.
"Apabila ada warga yang menguasai tanah atau lahan yang bukan miliknya, atau tidak memiliki bukti kepemilikan yang sah, lebih baik serahkan kepada pemerintah atau instansi yang berwenang," ujarnya, Selasa (8/8/23).
Sebab, Sambung Kapolres, jika terjadi komflik perebutan lahan, menduduki sebidang tanah yang bukan miliknya secara pribadi atau kelompok, bersengketa antarsesama warga atau pihak lainnya, maka akan berhadapan dengan hukum dan berakibat pidana.
Baca juga: Dukung Capres dari Parpol Pendukung UU Ciptaker, Said Iqbal Diminta Fair dan Jujur pada Buruh
Selain itu, menurut Kapolres, untuk menangani sengketa lahan yang terjadi ditengah masyarakat, polisi akan melakukan penegakkan hukum yang berlaku, dengan memeriksa dokumen bukti kepemilikan yang sah.
"Namun jika ada warga yang memaksakan kehendak mengakui hak orang lain tanpa bisa menunjukan dokumen yang Sah, maka akan berhadapan dengan hukum yang berlaku, " tegasnya. (HBM)
