Obituari Bambang Irawan, Catatan Lama Teladan Kita Saat Ini

Rabu, 13 Maret 2024 22:34
Pak Bambang Irawan diapit Anshori Djausal dan Yuscas (Foto Dok Anshori Djausal/Helo) Helo Lampung

Oleh Anshori Djausal*

LAMPUNG kehilangan tokoh eksekutif setelah itu legislatif pada masanya dalam usia 92 tahun di Kota Bandarlampung, Selasa (12/3/2024): Bambang Irawan bin Suparman. Separuh lebih usia alumni ITB kelahiran Pamekasan, 20/5/1932 didedikasikannya buat Sang Bumi Ruwa Jurai.

Menjelang sahur kemarin malam, kepergiannya mengingatkan saya pada tulisan yang saya dedikasikan buat Ulang Tahun Emas Perkawinannya pada 26 Juli 2008. Tulisan obituari sepertinya pas buat renungan kita semua sekaligus sejenak mengenangnya kembali.

Saya mengenalnya menjelang kepindahan saya sekeluarga dari Bandung ke Lampung pada tahun 1982 akhir. Saya dipesankan oleh kakak-kakak ipar saya untuk menjumpai seorang senior dari alumni satu almanater di Lampung.

Alumni tersebut adalah yang saya kenal kemudian seorang arsitek ITB Angkatan 1954 yang kemudian saya panggil Pak Bambang karena saya masuk ITB 20 tahun sesudah beliau.

Kakak ipar saya, Both Sudargo yang juga alumni Arsitektur ITB Angkatan 1964, dan Sudarsono Soekardi alumni Sipil ITB Angkatan 1959 rupanya sangat mengenal Pak Bambang karena kuliah pada masa yang sama.

Mereka bersahabat juga selalu berhubungan. Tetapi, bukan hanya itu bekal informasi yang saya dapat. Ternyata mertua saya adalah sahabat dekat orangtua Pak Bambang semasa Revolusi dalam pengungsian di Liwa, Kabupaten Lampung Barat (1947-50). Saat itu, Lampung masih dalam wilayah Sumatra Selatan.

Mertua saya Mas Ngabehi Soekardi bertugas sebagai kepala PU dan orang tua Pak Bambang sebagai mantri di sana . Mertua saya juga sahabat Pak Katam yang kemudian kemudian menjadi mertua Pak Bambang.

Mertua saya bersama sama pak Katam berdinas di PU Sumatra Selatan, Palembang, pada awal tahun 1940-an. Tentu sekali, mereka berteman.

Jelas pesan kakak-kakak ipar saya untuk menemui Pak Bambang sekeluarga adalah tugas utama. Saya tidak ingat persis kapan kami menemui Pak Bambang sekeluarga, berkunjung ke rumah beliau.

Yang tidak terlupakan adalah pertemuan itu seperti reuni keluarga saja. Tidak banyak perlu memperkenalkan diri.

Istri saya memang sudah kerabat dekat, juga kami sama-sama alumni ITB yang harus melaporkan diri kepada alumni yang paling senior di Lampung.

Saya sendiri yang kelahiran Kotabumi jadi ingat juga dengan Pak Katam yang pada masa akhir tugasnya di Kotabumi tahun 1960an.

Pak Bambang pada awal tahun 1980-an sudah memegang jabatan yang penting di Pemda Provinsi Lampung, banyak sekali tugas beliau.

Terutama yang terkait dengan program program pembangunan. Beberapa belas jabatan dan kepanitiaan yang diemban beliau yang saya pernah tahu. Karena kemudian saya sering berhubungan juga dengan tugas-tugas beliau tersebut.

Bukan hanya itu, Pak Bambang juga pemain golf dan pemain tenis yang handal, malahan pengurus kedua organisasi tersebut. Belum lagi yang lain-lain.

Yang menarik perhatian saya kemudian adalah Pak Bambang biasa-biasa saja. Memang sering kelihatan tegas, tapi lebih sering kelihatan kehangatan dan keluwesan beliau.

Bekerja tidak ngoyo-ngoyo amat, tapi beres. Tidak menggebu-gebu, tetapi lancar-lancar saja. Tidak menonjol di awal sebuah peristiwa, tetapi kelihatan berperan dalam keputusan akhir.

Walaupun tidak lagi banyak menangani bidang arsitektur atau bidang teknik , tetapi masih kelihatan sistematika dalam meletakkan ‘milestone’ dalam menjalankan pekerjaan beliau. Sehingga pekerjaan- pekerjaan beliau selalu terlihat ‘maju’.

Kemudian hari, saya makin mamahami karakter kerja Pak Bambang dan mengaguminya. Biasa biasa saja, tapi beres! Dan beliau selalu menyelesaikan pekerjaaan dan jabatannya dengan baik, aman dan selamat.

Tidak pernah meninggalkan masalah, ataupun bermasalah kemudiannya. Sudah pasti atasan dan mantan atasan puas dengan hasil pekerjaan Pak Bambang. Yang sangat jelas integritasnya.

Perawakannya yang tinggi ramping tampak selalu segar dan siap dalam setiap situasi menyebabkannya tidak bisa diabaikan. Selalu mempunyai peran pada saat yang diperlukan. Saya rasa kondisi ini dibangun dengan disiplin dan integritas jelas tadi.

Istri saya juga kemudian dengan segera menjadi rekan dan sahabat dari Ibu Bambang, ikut di beberapa kegiatan Ibu Bambang yang juga sangat sibuk dengan kegiatan BKOW, Badan Koordinasi Organisasi Wanita Lampung. Sehingga dengan cepat istri saya merasa ’at home’ di Lampung, Banyak teman dan sahabat.

Bagi saya dan istri, hubungan dengan Pak Bambang dan Ibu menjadi satu bentuk reuni keluarga sekaligus contoh hubungan senior dan yunior yang sangat hangat. Secara cepat kami merasa betah dan mempunyai banyak teman. Kami sering bertemu bukan saja di pertemuan alumni, tapi juga Orari, PII, dan berbagai kegiatan sosial lain.

Akhir tahun 1980-an kami sekeluarga pindah sementara ke Bandung, sehingga sampai kami agak jarang berjumpa. Tapi kemudian setelah kembali lagi awal '90-an kami banyak berjumpa lagi, apalagi Pak Bambang kemudian menjadi Ka Bappeda.

Dan periode ini persahabatan kami bertambah dengan seorang abang lagi yaitu ’Bang Yuscas’, yang nama resminya Drs. Idrus Djaendar Muda. Kami bertiga kemudian sering bersama, berdiskusi, malahan bergurau layaknya sahabat. Saling memperhatikan.

Saya banyak mendapat nasihat dengan cara yang menyenangkan. Karena disampaikan mereka berdua dengan cara selalu membangun semangat dan kebanggaan.

Sebenarnya saya yang sering diajak awalnya agak sungkan karena saya jauh lebih muda. Saya bukan pejabat di Pemda. Tetapi mereka berdua memperlakukan dengan sangat baik, selalu mangajak saya dalam berbagai kesempatan kegiatan bersama.

Walaupun kemudian mereka berdua juga berpindah kantor saya tetap sering diajak. Saya rasa mereka berdua adalah senior sekaligus sahabat saya yang tidak mungkin saya lupakan.

Salah satu gagasan Pak Bambang dan Bang Yus yang saya ikut juga nimbrung adalah membangun Kawasan Wisata yang sekarang dikenal sebagai Kalianda resort yang dikembangkan oleh keluarga Bakrie. Upacara pembukaan kawasan tersebut tahun 1997 adalah peristiwa yang sukses.

Ketika Pak Bambang memasuki masa pensiun, kembali saya harus mengatakan ’Selamat!’ kepada pak Bambang. Karena, sekali ini saya melihat Pak Bambang menyelesaikan tugas karirnya dengan baik.

Baik-baik saja. Tidak ada masalah, dan kemudiannya pun tidak bermasalah. Tidak pula merasa berat meninggalkan jabatan sebelumnya. Kemudian selalu ada jabatan dan pekerjaan baru.

Saya pernah mengatakan; ”Pak saya iri dengan Pak Bambang, tidak semua orang dapat melewati masa jabatan seperti Bapak. Saya pun belum tentu dapat meniru ’. Tapi tentunya saya berjanji akan menjadikan Pak Bambang sebagai contoh.

Bagaimana membangun intergritas, tetap mendapat kepercayaan, dan legowo. Kemudian, biasa biasa saja. Setelah pensiun pak Bambang mendapat tugas di Golkar, dan menjadi anggota DPRD Lampung. Begitulah jalan karir pak Bambang. Tak pernah habis, sesudah pensiun pun.

Awalnya tidak kelihatan karir politik Pak Bambang. Di Komisi dimana pak Bambang aktif ternyata pengalaman beliau yang panjang di birokrasi menempatkan beliau sebagai seorang narasumber yang penting.

Walaupun saya tidak banyak terlibat dengan kegiatan beliau di politik, saya lihat pak Bambang mampu berbaur dengan politikus-politikus lain di DPRD.

Pak Bambang tampak memasuki kegiatan ini dengan santai saja. Padahal pak Bambang sudah memasuki umur 70an, masih dapat menyesuaikan diri dengan irama anggota lain yang jauh lebih muda.

Kadang kadang beliau malahan memberi suasana tersendiri. Memasuki masa reformasi

Semua kita tahu dengan kemelut politik pemilihan gubernur pasca reformasi. Gonjang ganjing politik pemilihan Gubernur di DPRD Lampung sangat fenomenal.

Banyak yang menjadi korban atau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saya agak menghawatirkan Pak Bambang dalam usianya yang tidak muda lagi. Lagi-lagi Pak Bambang lewat dengan ’Selamat’.

Menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tidak bermasalah. Biasa biasa saja. Tidak ada beban. Kemudian beliau melanjutkan kegiatannya di Kalianda Resort, tetap mendapat kepercayaan dari Kelompok Bakrie. Pensiun kedua kali, tetap ada yang memberi kepercayaan.

Satu saat, beberapa tahun yang lalu Pak Bambang membicarakan rencana berbesan dengan keluarga Lampung. Putra beliau Iwan akan mempersunting putri keluarga Lampung.

Setelah kami berbincang- bincang saya kemudian tahu bahwa calon besan beliau juga kerabat saya dari marga Sungkai Bungamayang.

Pak Bambang minta saran dari saya bagaimana memenuhi keinginan calon besan agar perkawinan ini dilaksanakan ’begawi’ secara adat Lampung Sungkai.

Saya kemudian menyampaikan kepada beliau, hal tersebut dapat dilakukan apabila pak Bambang menjadi ’saudara adat’ keluarga kami.

Sehingga, nantinya acara ’begawi’ akan menjadi acara dalam satu marga, Marga Sungkai Bungamayang. Kemudian, apabila pak Bambang bersedia maka saya akan minta izin kepada kakak saya Faishol Djausal.

Pak Bambang menyerahkan hal itu kepada saya untuk memperoleh izin dari keluarga kami.

Saya menyampaikan kepada keluarga besar kami, dan atas persetujuan kakak saya maka kami siapkan seluruh prosesi ’angkonan, muari adat’ dalam adat marga kami.

Ketika dalam persiapan prosesi tersebut saya kemudian tidak bisa melupakan sahabat kami ’Bang Yus’.

Saya tiba-tiba merasa tidak adil bila tidak mengangkat saudara juga terhadap sahabat kami satu ini. Kembali keingingan ini disetujui kakak saya sebagai kepala keluarga.

Maka pak Bambang dan Bang Yus bersama-sama mengikuti prosesi ’muari’ yang kami laksanakan sepenuh hati. Kemudian pak Bambang mendapat gelar adat ’Batin Raja Liu’ dan Bang Yus mendapat gelar ’Dalom Mekusa’. Gelar yang kami ambilkan dari rumpun nama leluhur kami.

Upacarapun berlangsung dengan baik. Seterusnya upacara dengan besan pak Bambang dapat dilaksanakan dengan baik.

Saya rasa kesempatan itu memang harus saya ambil, yaitu membantu sahabat dan kerabat mengatasi masalahnya. Dan lengkaplah persahabatan kami. Saudara muari mempunyai kewajiban untuk mempertahankan persahabatannya di depan keluarga dan kerabat luas.

Tidak terasa persahabatan kami sudah berjalan 25 tahun. Seperempat abad. Pak Bambang dan Ibu Bambang sebentar lagi akan merayakan kawin emasnya. Ulang tahun perkawinan yang ke 50. Kembali saya akan mengatakan’ pak Bambang dan Ibu, tidak semua orang dapat mencapainya. Berbahagialah’. Saya juga tidak akan iri lagi. Saya sekeluarga ikut berbahagia.

Setelah lama bersama, saya ingin mencari tokoh yang serupa karakternya dengan pak Bambang di pewayangan. Saya kemudian lebih memilih tokoh BISMA. Tokoh yang sangat berperan dalam keluarga Pandawa, dan jelas integritasnya! Tentunya tidak termasuk kisah Bisma di padang Kurusetra. Pak Bambang selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Ketika orang lain melewati umur 40 tahun mengatakan ’life begin at forty’, ketika pensiun pak Bambang mengatakan ’life begin at sixty’. Kemudian ketika selesai masa keanggotaannya di DPRD dia boleh mengatakan ’life begin at seventy’

Pak Bambang dan Ibu Bambang yang kami cintai pada ulang tahun perkawinan yang ke-50 ini, kami menyampaikan satu kata selamat ’BERBAHAGIALAH SELALU !!’

Bandar Lampung, 26 Juli 2008

* Akademisi, budayawan, pelukis, dll. 

Berita Terkini

Haji dan Kue Apem

Ragam • 16 jam 48 menit lalu