Oleh Gufron Azis Fuandi
Ustadz
HARI Tasyrik sudah akan berlalu. Ini artinya rangkaian puncak ibadah haji hari ini sudah selesai. Tetapi sebagian yang mengambil nafar ula, mungkin sudah selesai. Beberapa hari yang akan datang kita akan mulai menjumpai kepulangan jamaah haji ke tanah air. Terutama yang masuk dalam gelombang pertama dan kloter kloter awal .
Saat saya kecil, kepulangan jamaah haji menjadi momen yang istimewa. Bukan saja disambut oleh keluarganya tetapi juga oleh masyarakat, tetangga dan handai tolan. Tidak terhitung berapa oleh oleh yang harus disiapkan.
Disamping itu, setelah beberapa hari, tidak sedikit yang mengadakan penyambutan layaknya hajatan dengan ratusan hadirin. Ada yang prasmanan ada juga yang brekatan (brekat/besek) dan dibawa pulang.Selain diisi pengajian biasanya diumumkan juga nama baru atau nama tambahan yang diberikan oleh Syekh dari Arab.
Seperti dulu Suharto menjadi Muhammad Suharto atau Soekarno menjadi Ahmad Soekarno. Di kampung, saya ada yang berubah namanya menjadi Haji Aminudin dan sebagainya.
Tradisi ini sekarang semakin berkurang dan hilang. Tetapi beberapa ratus tahun yang lalu, tradisi ini bahkan melahirkan kue tradisional yang legendaris dan penuh makna, kue apem.
Ya siapa yang tidak kenal kue apem?
Makanan (jajanan pasar) tradisional dengan rasa dan makna yang dalam ini sering kita jumpai dalam acara syukuran, selamatan, atau ritual adat di berbagai daerah di Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.
Tapi, tidak banyak yang tahu asal usul kue apem ini. Dan (apalagi) hubungannya dengan haji. Apem berasal dari kata Arab "afwan" yang berarti "maaf". Atau "affan" yang artinya sederhana atau rendah hati.
Masuknya budaya Islam ke Nusantara membawa tradisi membuat apem sebagai simbol permintaan maaf dan harapan akan berkah. Tak heran jika apem sering dibagikan dalam acara megengan, acara menyambut Ramadan di masyarakat (Jawa) sebagai bentuk saling memaafkan, pembersihan diri dan hati yang dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Sya'ban.
Bentuknya yang bulat dan rasanya yang manis menyiratkan kehangatan dan kebersamaan. Apem biasanya dibuat dari campuran tepung beras, santan, dan gula, lalu dikukus atau dibakar. Meski zaman berubah, apem tetap punya tempat spesial di hati masyarakat Indonesia. Sederhana, tapi sarat makna.
Apa hubungan antara haji dengan kue apem? Tentu saja, secara langsung, tidak ada! Tetapi sebagai keturunan dari mbah saya yang berasal dari Jatinom, Klaten-Jawa Tengah, tentu pernah mendengar cerita tentang hubungan tidak langsung antara haji dan apem.
Menurut sohibul hukayat, saat Ki. Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji pada tahun 1589 ramai masyarakat yang menyambut kepulangannya. Maklum, Ki Ageng Gribik adalah tokoh penyebar Islam di wilayah Klaten Jawa Tengah.
Ki Ageng Gribik selain masih keturunan Prabu Brawijaya Majapahit,
beliau juga adalah murid dari Sunan Bonang dan Ki Ageng Pandanaran. Karena banyaknya tamu yang hadir menyambut kepulangannya, maka oleh oleh yang dibawa dari tanah suci Mekah tidak mencukupi untuk sajian.
Sehingga untuk menghormati dan menjamu tamu yang datang, Nyi Ageng Gribik meminta membuat penganan berbahan dasar tepung beras, telur, gula dan santan untuk disajikan kepada para tamu.
Dan setelah jadi, penganan tersebut disajikan sambil mengucapkan kata "afwan, afwan..." yang maksudnya adalah mohon maaf karena nggak kebagian penganan dari Tanah Suci.
Dari ungkapan kata afwan inilah kemudian kue ini disebut dengan "kue apem". Mungkin kata apem lebih ringan dan lebih simpel dengan lidah orang Jawa. Seperti kata Ramelan simplifikasi dari Ramadan, Kasan dari Hasan atau Sempak dari bahasa Belanda, Zwempak.
Nama kue apem yang berasal dari kata afwan dan artinya maaf itu kemudian disebut dengan "apem ya qowiyyu."
Disematkan kata ya qowiyyu pada nama apem karena saat menutup pengajian, Ki Ageng Gribig selalu ber doa dengan “Yaa qowiyu yaa aziz qowina wal muslimin, ya qowiyyu warzuqna wal muslimin”.
Artinya, "Ya Tuhan Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, kuatkan kami dan segenap kaum muslimin, ya Tuhanku Yang Maha Kuat berikanlah rezeki kepada kami dan kaum muslimin..."
Sekarang, kita sudah jarang melihat orang yang mengadakan syukuran penyambutan pulang haji yang gegap gempita. Apalagi penyajian kue apem. Sekarang ini, orang pulang haji ya pulang saja, paling beberapa orang dari keluarganya menjemput di asrama haji dan pulang ke rumah.
Bahkan ada teman yang simpel-an, pulang haji dari asrama haji naik taksi online sampai rumah. Kemudian makan mie instan, karena mie instan di Arab, meskipun merek nya sama rasanya beda.
Kembali tentang kue apem, mungkin kue apem ini perlu direvitalisasi agar kembali digemari mengingat maknanya yang dalam meskipun tampilannya sederhana. Low profil!
Selamat kembali pulang ke Tanah Air, semoga Anda tergolong haji mabrur. Bertambahnya haji mabrur berarti bertambah pula orang-orang baik di dalam masyarakat bangsa ini.
"Qabilallahu hajjaka, wa ghafara dhanbaka, wa akhlafa nafaqataka."
Artinya: "Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosa-dosamu, dan mengganti biaya (pengeluaran)mu."
"Allahummaghfir lil-hajji wa li man istaghfara lahul-hajj."
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dosa jemaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun oleh jemaah haji tersebut."
Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)