BSF Dorong Sasirangan Menjadi Fashion Dunia

Senin, 24 Juni 2024 21:29
Wali Kota Banjarmasin membuka acara Banjarmasin Sasirangan Festival di Rumah Anno. (ist/helokalsel) Banjarmasin Sasirangan Festival

BANJARMASIN, HELOINDONESIA.COM - Sebanyak 47 pengrajin turut serta dalam lomba desain motif sasirangan, yang menjadi bagian dari perayaan Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) tahun 2024. Peserta lomba terdiri dari 32 pengrajin sasirangan pewarna tekstil dan 15 pengrajin sasirangan pewarna alam.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, usai meninjau lomba desain motif sasirangan di Rumah Anno pada Senin (24/6/2024), menyatakan bahwa motif sasirangan merupakan kekayaan intelektual yang penting untuk dilindungi. Ia menekankan pentingnya bagi desainer atau pengrajin untuk mendaftarkan motif mereka sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

"Kami memberikan dukungan penuh terhadap sasirangan yang telah ditetapkan oleh Kemenkumham. Hal ini untuk memastikan motif sasirangan tidak bisa diklaim oleh pihak lain dan memiliki kekuatan hukum," ujar Ibnu Sina.

Ibnu menegaskan bahwa Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) 2024 bertujuan untuk memperkenalkan produk unggulan Kota Banjarmasin ini ke tingkat nasional dan bahkan internasional.

"Kegiatan BSF memang ditujukan sebagai ajang promosi kerajinan kain sasirangan, sehingga produk unggulan Kota Banjarmasin ini tidak hanya dikenal di Kalsel saja, tetapi juga dikenal hingga tingkat nasional dan diharapkan bisa mendunia. Itu sedang kita dorong sekarang," ungkap Ibnu Sina.

Lebih lanjut, Ibnu Sina menambahkan bahwa melalui kegiatan BSF, semua pengrajin, desainer, dan unsur terkait memiliki wadah untuk berkreasi dan berinovasi. "Ini adalah bentuk dukungan nyata dari pemerintah kota Banjarmasin untuk para pengrajin sasirangan, dan untuk mendorong agar sasirangan bisa menjadi alternatif fashion dunia," tambahnya.

Dengan adanya BSF, diharapkan tidak hanya meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam desain sasirangan, tetapi juga memperluas pasar dan meningkatkan nilai ekonomi bagi para pengrajin. Pemerintah kota Banjarmasin berkomitmen untuk terus memberikan dukungan agar sasirangan dapat dikenal lebih luas dan menjadi bagian penting dari fashion global.

Ibnu Sina juga mengajak semua pihak untuk bersatu padu dalam mempromosikan dan melestarikan warisan budaya ini. "Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pengrajin, dan masyarakat, kita bisa membawa sasirangan ke panggung dunia," tutupnya.

Ibnu juga menyoroti peningkatan kreativitas pengrajin dalam menghasilkan motif sasirangan, meskipun untuk pewarna alam yang menghasilkan warna lebih lembut memerlukan teknik khusus untuk memunculkan warna yang lebih cerah.

"Memang pewarna alam itu lebih soft, namun mungkin ke depannya warnanya bisa dibuat lebih cerah," tambahnya.

Tema lomba desain tahun ini adalah "Pesona Seribu Sungai," yang diimplementasikan dalam bentuk motif perahu, lanskap kota dengan menara pandang, dan masjid, semuanya menggambarkan kehidupan dan pesona sungai.

Salah satu peserta lomba, Elly Rahmah, memilih untuk menampilkan keindahan bunga di bantaran seribu sungai dalam motifnya. Ia berpendapat bahwa sungai sebagai sumber kehidupan dan bunga sebagai sumber keindahan harus digabungkan untuk menampilkan estetika yang sempurna.

“Jika kita hanya mengangkat tema sungai tanpa bunga, keindahannya belum terlihat sepenuhnya,” ungkap Elly Rahmah.

Inspirasi Elly berasal dari postingan tentang Sungai Mississippi, di mana bantaran sungainya dihiasi oleh berbagai macam bunga yang memancarkan keindahan. Dalam lomba ini, Elly mengikuti kategori desain motif sasirangan dari pewarna tekstil.

Lomba desain motif sasirangan dalam rangka BSF 2024 ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga sebagai upaya pelestarian warisan budaya dan kekayaan intelektual masyarakat Banjarmasin. Dukungan penuh dari pemerintah dan partisipasi aktif dari masyarakat diharapkan dapat terus memajukan dan menjaga tradisi sasirangan agar tetap hidup dan berkembang di tengah modernisasi.

Berita Terkini