Gebrakan ‘Waste to Value’ Banyumas Bikin Presiden Terkesan, Siap Direplikasi Nasional

Rabu, 29 April 2026 08:43
Presiden Prabowo Subianto didampingi Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat meninjau TPST BLE Kaliori di Banyumas

PURWOKERTO, HELOINDONESIA.COM - Masalah sampah yang biasanya jadi "hantu" perkotaan, di Banyumas justru disulap menjadi emas hitam ekonomi sirkular.

Tak tanggung-tanggung, performa pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) di Desa Kaliori, Banyumas ini sukses membuat Presiden Prabowo Subianto terkesan dan siap direplikasi secara nasional.

Kunjungan Presiden pada Selasa (28/4/2026) ini menjadi sinyal kuat bahwa urusan limbah bukan lagi isu pinggiran, melainkan prioritas nasional.

Baca juga: Menuju Porwanas 2027, PWI Lampung Gaspol Siapkan Atlet Bidik Juara Umum”

Mendampingi Presiden, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menunjukkan bagaimana Banyumas menjinakkan 738 ton sampah per hari. Kuncinya? Prinsip Waste to Value. Sampah tidak lagi dibuang, tapi diolah dari hulu hingga hilir menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif.

“Ini sangat efektif dan bisa menjadi contoh. Pemerintah pusat akan turun tangan langsung, memberikan bantuan agar sistem ini makin sempurna dan bisa direplikasi secara nasional,” tegas Presiden Prabowo dengan nada optimis.

Kepala UPTD TPST Banyumas, Edy Nugroho, menjelaskan konsep yang diterapkan mengusung prinsip waste to value, yakni mengubah sampah menjadi bernilai ekonomi.

“Sistem kami dari hulu sampai hilir, menuju waste to value, sampah jadi bernilai ekonomi,” ujarnya.

Berdasarkan data yang disampaikan, timbulan sampah di Banyumas mencapai 738,80 ton per hari. Sebanyak 574,52 ton atau 77,76 persen telah terkelola, sementara sekitar 164 ton per hari masih dalam proses penanganan, terutama di wilayah yang belum memiliki fasilitas TPST.

Pengelolaan dilakukan secara berjenjang, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga, pengolahan di TPS3R oleh masyarakat, hingga pemrosesan di TPST BLE menjadi bahan bakar alternatif berupa Refuse Derived Fuel (RDF).

Dalam kunjungan itu, Presiden turut didampingi Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Wakil Menteri Koordinator Pangan Hanif Faisol, serta Bupati Banyumas Sadewo.

Diperluas

Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, ketertarikan Presiden juga terlihat pada pengembangan RDF di Jawa Tengah yang terus diperluas.

“Saat ini ada 13 kabupaten dalam proses pengembangan RDF, sementara tiga kabupaten sudah operasional,” jelasnya.

Menurut Ahmad Luthfi, model Banyumas menjadi contoh konkret pengelolaan sampah terpadu yang melibatkan seluruh lapisan, dari rumah tangga hingga pemanfaatan akhir.

Baca juga: USM Sabet Dua Perunggu di Unimma Super Badminton Championship 2026

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun mempercepat pembangunan fasilitas RDF di berbagai daerah, dengan dukungan empat pabrik semen sebagai offtaker hasil olahan sampah.

“Kita punya empat pabrik semen sebagai offtaker. Ini jadi kekuatan kita,” tegasnya.

Selain itu, konsep pengolahan regional juga disiapkan untuk kawasan dengan volume sampah besar, seperti Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya.

Ahmad Luthfi optimistis Jawa Tengah mampu melampaui target nasional pengelolaan sampah yang dipatok pada 2029.

“Target nasional 2029 zero sampah. Jawa Tengah siap lebih cepat, tahun 2028 kita optimistis tercapai,” ujarnya.

Kunjungan Presiden ini sekaligus mengukuhkan Banyumas sebagai salah satu model nasional pengelolaan sampah modern berbasis teknologi dan kolaborasi lintas sektor. (Aji)

Berita Terkini