LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -.--- Ratusan hektare kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) ludes dilalap si jago merah selama musim kemarau 2024. Petugas gabungan tak jarang kewalahan memadamkan api akibat terbatasnya sarana dan prasarana.
Humas Balai TNWK Sukatmoko mendampingi Kepala Balai Saidi menjelaskan, sejak memasuki musim kemarau, Agustus lalu, kawasan hutan seluas sekitar 125 ribu hektare itu sudah beberapa kali terjadi kebakaran.
Peristiwa pertama terjadi di Seksi Way bungur. Di seksi itu, tidak kurang 200 hektare hutan berupa semak belukar dan ilalang ludes dilantak si jago merah. Pada peristiwa itu, petugas gabungan yang terdiri dari unsur Balai TNWK, TNI/Polri, WCS dan lembaga lain serta warga desa penyangga berjibaku menjinakkan amukan si jago merah.
Karena terbatasnya sarana dan prasarana dan sulitnya medan, api dengan cepat menghanguskan kawasan TNWK. "Terbatasnya sarana dan prasarana ditambah medan berat, kami kesulitan mengejar merambatnya api yang begitu cepat," kata Sukatmoko, Kamis (19/9/2024).
Musibah selanjutnya, terjadi di kawasan Susukan Baru Seksi Waykanan. Di kawasan itu, api menghanguskan kawasan seluas 32 hektare. Seperti di Seksi Waybungur, di kawasan itu api melalap padang ilalang dan belukar.
Beruntung, di kawasan tersebut api dengan cepat dipadamkan petugas gabungan. Pemadaman berlamgsung beberapa jam disebabkan angin yang tenang serta kawasan yang terbakar mudah dijangkau.
"Beruntung di Seksi Waykanan saat terjadi kebakaran angin cukup tenang dan lokasi mudah dijangkau," ujarnya.
Guna mengantisipasi kebakaran susulan, pihak Balai TNWK mengimbau warga tidak melintasi kawasan taman nasional yang menjadi pusat perhatian dunia internasional itu. Apalagi hampir semua semak belukar dan ilalang di kawasan itu telah mengering.
Jika ada warga yang tak sengaja membuang puntung rokok, maka kebakaran pun bisa terjadi."Jangankan masuk kawasan hutan, melintaspun warga dilarang keras. Karena di kawasan hutan banyak tumbuhan yang mengering," tegas Sukatmoko.
Ditanya penyebab kebakaran hutan yang nyaris sepanjang tahun terjadi, Sukatmoko menyatakan jika kebakaran terjadi akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab.
Para pelaku kejahatan seperti pencurian ikan, pencurian satwa dan kejahatan lain tak jarang menghidupkan api selama beraksi. Oleh pelaku, api dibiarkan hidup dan berakibat terjadi kebakaran hutan.
"Dapat kami pastikan kebakaran terjadi akibat ulah manusia atau pelaku kejahatan," tandasnya.
Oleh sebab itu, mengingat di dalam kawasan taman nasional itu bersemayam beragam flora dan fauna, petugas tak segan-segan menindak tegas para pelaku kejahatan atau pelaku pembakaran hutan.
"Kami berharap pelaku kejahatan yang berhasil ditangkap dan apapun kejahatannya di taman nasional dihukum sangat berat. Paling tidak untuk efek jera," pungkas Sukatmoko.
(Khairuddin)