LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Satu kisah keteladanan sesosok muslim bagi sesamanya: "sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain", sekaligus kepatuhan hamba Allah demi gapai ridaNya, coba redaksi ketengahkan. Semoga menginspirasi.
Mendiang Kiai Haji Romas Jayaseputra, salah satu ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) masa hidupnya, asal Lampung kelahiran Pekon Kagungan, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, disebut merupakan orang yang mendirikan masjid megah di bilangan Grogol, Jakarta Barat, di belakang terminal bus, dengan akses mudah dari manapun sekitar Jakarta.
Sudah cukup lama memang, di era 60-an. Pertama kali dibangun dinamakan Masjid Al Muchlisin, seiring waktu seusai renovasi bangunannya rampung 37 tahun berselang, diganti menjadi Masjid Agung Al-Muchlishin.
Didirikan 1967, Masjid Agung Al-Muchlishin dibangun di atas tanah Sertipikat Wakaf Nomor 1 Kelurahan Grogol seluas 1.880 meter persegi (m2), di Jl Dr Muwardi I, RT 7, RW 3, Kelurahan Grogol, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Usai sekitar 444 purnama atau 37 tahun dipergunakan, kondisi masjid mengalami kerusakan, bocor sana sini apabila hujan, dan bangunannya pun sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi lingkungan, yang ada.
Dari itu, tahun 2004, pengurus masjid berketetapan melakukan perombakan bangunan dan pembangunan masjid lebih luas, berdayaguna lebih banyak, dilengkapi ruang serba guna/auditorium bagi kegiatan keagamaan sekaligus kemasyarakatan.
Tiga tahun kemudian, tepatnya Agustus 2007, pembangunan mulai dilaksanakan. Luas bangunan yang dibangun 1.665 m2, dua lantai masing-masing lantai bawah seluas 883,58 m2 dan 781,46 m2 lantai atas.
Sebagaimana hasilnya kini, kemegahan dan kemanfaatannya telah dirasakan oleh warga muslim setempat dan sekitar, pun pelintas.
Sesuai sandang nama, masjid agung, di sini selain aktif dan tersedia fasilitas kegiatan Taman Pendidikan Quran (TPA/TPQ), Remaja Islam Masjid (Risma), Panitia Hari Besar Islam (PHBI) dan lainnya, terdapat Auditorium Masjid Agung Al-Muchlishin yang jamak dipergunakan warga muslim setempat dan sekitar, dengan disewakan untuk berbagai macam acara dan kegiatan.
Terkonfirmasi, masjid ini merupakan masjid pertama di Jakarta yang diresmikan oleh orang nomor satu di sana kala itu, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, pada tahun 1968.
Kebenaran informasinya, diketahui dari testimoni salah seorang cucu mendiang KH Romas Jayaseputra, yakni Muhammad Irfandi Romas, aktivis nahdliyin cum pengusaha di Lampung, 12 tahun lalu.
M Irfandi Romas ini putra pengusaha cum politisi kawakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Lampung, eks Bendahara Umum DPP PKB pertama (1998-2001) dan Ketua DPW PKB Lampung 2001-2006 era Gus Dur, anggota DPR/MPR 2004-2009 dapil Lampung II nomor anggota A-190 duduk di Komisi VI DPR bagian dari 51 anggota Fraksi PKB kala itu, mendiang Haji Akhmad Syafrin Romas Arch MBA yang wafat 12 Juni 2020.
Irfandi, putra kedua Syafrin Romas dari pernikahannya dengan Hariyanti Syafrin, putri tokoh NU Lampung lainnya, mantan Walikota Bandarlampung HM Thabrani Daud, dan kakak dari politisi cum advokat yang juga Mustasyar PWNU Lampung 2018-2023 M Alzier Dianis Thabrani, sempat menuliskan pengalaman spiritualnya usai salat Jumat di masjid tersebut, 12 tahun silam itu, tepatnya pada 13 Mei 2011.
Saat itu, tak sengaja terlintas dalam benak Irfandi untuk menunaikan salat Jumat di masjid yang sebelum dia tiba masih dia ketahui bernama Masjid Al Muchlishin itu.
"Mungkin sekitar 3-4 tahun saya tak pernah berkunjung ke masjid pertama di Jakarta yang diresmikan oleh Ali Sadikin saat menjabat Gubernur di DKI Jakarta pada tahun 1968," kisah dia, 12 tahun silam itu.
Saat tiba, dia mengaku cukup kaget melihat kondisi masjid yang seingatnya pernah beberapa kali dia datangi lantaran diajak sang kakek saat dia usia TK, kembali biasa dia datangi saat liburan sekolah SMU saat dia "mudik" ke rumah sang kakek di Grogol.
"Cukup kaget saya,lihat masjid ini. Sekarang masih dalam renovasi rupanya dan tampak cukup megah bangunannya. Masjid telah ganti nama jadi Masjid Agung Al Muchlishin dengan laporan kas sebesar Rp2 miliar," tutur Irfandi, yang juga Wakil Bendahara IV Pengurus Wilayah NU Lampung 2018-2023.
Usai salat, Irfandi bersua seseorang, yang meski sedikit, gantian dia bikin kaget saat keduanya saling sapa.
"Selesai salat Jumat saya berjumpa dengan pak Wany, ketua pengurus masjid, berusia sekitar 65 tahunan. Beliau sedikit kaget saat saya memperkenalkan diri. Terucap olehnya: "Masjid ini punya pak Romas. Saya masih muda saat pak Romas membangun masjid ini pak. Salam untuk Ibu Romas," kutipan percakapan Haji Wany Senen, ketua badan ta'mir masjid itu dengannya, Irfandi ceriterakan kembali.
Memperkaya informasi, juga pada 12 tahun lalu, seorang ibu paruh baya, Lies Prasista Faizal, masih mengingat beberapa nama yang membersamai Romas, mendampingi selama pembangunan pertama masjid, pada 1967 lampau. "Antara lain Akib Saleh dan Noernaith. Pak Akib yang mengajarkan saya bisa menulis huruf Arab walau sedikit-sedikit," tutur Lies.
Pun, Irfandi menggenapi kisah pengingat, pernah beberapa kali diajak sang kakek berkunjung ke masjid ini saat dia masih di bangku taman kanak-kanak, saat sang kakek, KH Romas, masih aktif di pengurusan PBNU dan masih aktif di partai," sebut dia.
Irfandi membatin, melangitkan doa bagi sang kakek. "Semoga beliau beristirahat dengan tenang di alam sana," ucap hatinya.
Pengusaha biro perjalanan haji dan umroh ini memungkasi testimoni dengan kutipan satu tokoh bangsa, anggota BPUPKI dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Menteri Agama tiga kabinet (Hatta, Natsir, Sukiman), pahlawan nasional, Ketua PBNU di usia 32 tahun, ayah dari Presiden ke-4 Indonesia KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, KH Ahmad Wahid Hasyim.
"Orang yang besar adalah yang mampu membuat sejarah, tetapi yang lebih hebat adalah orang yang mampu untuk merubah sejarah," kutip Irfandi, sang Gusdurian ini, Ketua DPW Barisan Kader (Barikade) Gus Dur Lampung 2019-2024.
Pengingat penamaan, nama masjid dirian kakek Irfandi, dari asal kata bahasa Arab yaitu ikhlas. Mukhlisin diambil dari kata "khalasho-yakhlusu khuluus", berarti murni, bersih, rampung atau tuntas. Ungkapan "khalish" dalam bahasa Arab berarti tuntas, murni, dan tidak terkontaminasi oleh sesuatu apa pun di dalamnya baik bersifat lahir mau pun batin.
Al Mukhlisin merujuk pada mereka yang berusaha untuk ikhlas. Per tafsir, merujuk pula pada mereka yang memiliki derajat keimanan tingkat pertama, sampai dapat bertransformasi menjadi hamba Allah yang Mukhlasin, orang-orang yang terpilih, yang mendapat anugerah ikhlas atau diikhlaskan oleh Allah.
Allah SWT memerintahkan hambaNya yang masih berada di tingkatan Mukhlisin untuk berusaha memperbaiki ibadah, memurnikan niat, mengoreksi dirinya secara bertahap, agar bisa mencapai derajat Mukhlas, yang Dia firmankan dalam Quran Surat Al-Ghafir ayat 14, "Fad’u Allah Mukhlisinahuddin."
Ada pun, menggenapi kisah keteladanan sang kiai, redaksi kutipkan Firman Allah SWT dalam Quran Surat At-Taubah ayat 18, yang per transliterasi berbunyi demikian.
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Artikel ini tak hendak buat mengglorifikasi. Sekadar sependek pengetahuan demi untuk dapat menambah referensi. Sebab sejatinya setiap kita adalah teladan, setiap kita adalah inspirasi.
Untuk Kiai Haji Romas Jayaseputra, Lahul Fatihah. (Muzzamil)