Oleh Hariyadi, STP, MT*
SEIRING perkembangan zaman dan perubahan budaya (iptek dan prilaku), sampah yang dihasilkan manusia pun mengalami transformasi baik secara jumlah maupun sifatnya. Sebelum Revolusi Industri, 100 persen sampah bersifat organik. Sejak Abad ke-18, sampah mulai sintetik.
Di Era Revolusi Industri, "Era Man Made Material", muncul berbagai produk sintetis, yang hakikatnya turunan bahan bakar fosil, berupa batubara dan minyak bumi atau dikenal juga dengan petroleum based product.
Walaupun memiliki sifat-sifat lebih unggul dibandingkan material alami (lebih murah dan mudah dibuat dalam skala masal), namun juga memiliki kekurangan utama dalam hal kemampuan alam untuk mendegradasinya atau menguraikannya.
Sampah dari makhluk hidup (biodegradable) bisa diuraikan secara alami dengan bantuan jasas renik (mikroba / bateri / jamur, dsb). Sampah an-organik atau man made material menimbulkan pencemaran.
Senyawa-senyawa atau unsur-unsur yang bersifat persistent ini lambat-laun menjadi terakumulatif lalu menimbulkan pencemaran lingkungan manakala daya dukung / kemampuan alam menetralisir sampah menjadi terlampaui.
Namun, untuk sampah organik apabila tidak dikelola secara tepat dan bijak, mengabaikan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan (sustainability) bisa berdampak pada pencemaran akut untuk jangka pendek ataupun kronis untuk jangka panjang.
Sampah anorganik walaupun bersifat persistent atau sulit terurai di alam apabila dikelola dgn tepat dan bijak, dampak pencemarannya pun bisa diminimalkan.
SOLID WASTE
Dalam kajian ini, sampah yang menjadi fokus adalah sampah padat atau dikenal dengan nama solid waste yang mengikuti hukum fisika yakni dimana dalam kondisi suhu dan tekanan atmosfer berbentuk benda padat.
Sampah padat perkotaan memiliki spektrum permasalahan yang kompleks sehingga membutuhkan suatu kajian yang mendalam akan berbagai macam problematikanya sekaligus mitigasinya agar terhindar dari bencana lingkungan sistemik/katastropik.
Pengelolaan sampah perkotaan juga membutuhkan kerja bersama lintas sektoral dari level hulu hingga hilir. Hulu mulai dari produsen sampah rumah tangga dan para pelaku usaha UKM. Usaha-usaha besar diharapkan lebih mandiri dalam pengelolaan sampah padat.
Hilirnya, pemerintah perlu membuat sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mengadopsi teknologi dan sistem manajemen sampah yang handal agar 100 persen sampah mampu diakomodir agar lingkungan selalu terpelihara dgn baik.
PENGELOLAAN
Sudah menjadi pakem bagi negara-negara maju pengelolaan sampah atau lingkungannya terintegrasi mulai hulu hingga hilir yang kemudian dikenal dengan istilah 4R (reduce, reuse, recycle, recovery).
REDUCE
Metode mengurangi sampah dari asalnya. Rumah tangga, pelaku usaha UKM dan rumah tangga bisa memilah dan memilih sampah dengan mengaplikasikan teknik pengomposan (composting) bagi sampah organik.
Mereka bisa mengirim sampah nonorganik ke bank sampah berbasis komunitas agar dilanjutkan ke pelaku usaha daur ulang. Tidak perlu rumit dan mahal, cukup menyebarluasankan metodologinya, evaluasi berkala, dan skema insentif yang menarik.
REUSE
Penggunaan ulang tanpa merubah bentuk aslinya. Semaksimal mungkin, setiap material, barang yang dipakai pelaku usaha UKM dan rumah tangga dipakai berulang-ulang sebelum dibuang, misal botol bekas air mineral dijadikan wadah detergen, sabun, dll.
Kantong belanja terus dipakai berulang selama tidak sobek / berlubang. Inipun bisa dapat dgn mudah dilakukan oleh setiap orang, cukup dgn kegiatan edukasi dan pelatihan, juga lagi-lagi berbagai macam insentif, baik moneter ataupun non moneter.
RECYCLE
Daur ulang sampah yg telah berubah bentuk dari aslinya menjadi produk yang bermanfaat, misal kertas dan buku HVS menjadi bahan karton / kardus kemasan.
Agar upaya ini efektif bisa dilakukan dengan berkolaborasi dengan para pelaku usaha daur ulang yg diberikan akses secara formal ke TPA melalui skema kerjasama yang win-win solution.
Perlu dibuatkan kajian format kerjasama yang tepat dimana pemerintah sebagai pemilik lahan TPA dan menyediakan fasilitas atau perangkat kerasnya. Para pelaku usaha yang melakukan sortasi atau pemilahan produk-produk daur ulang akan diharga dengan nilai jual yang disepakati bersama.
RECOVERY
Upaya terakhir sebelum sampah benar-benar harus terpaksa dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), dapat dipilah lagi dengan melihat yang masih bernilai ekonomis, misalnya pemisahan material kaca, logam, kayu, dll yang masih memungkinkan untuk didaur ulang dengan mensubtitusi bahan baku.
Dikarenakan sudah di bagian hilir, perlu kerjasama dengan pihak swasta yang berminat dan punya teknologi untuk melakukan kegiatan recovery tersebut dengan skema kerjasama yang win-win solution.
Apabila keempat pakem lazim ini dijalankan secara sistematis, konsisten, simultan dan berkesinambungan, selain sampah terkelola dgn baik, ada benefit lainnya, yaitu selain ramah lingkungan juga usia pakai TPA menjadi makin panjang.
Volume sampah yang makin berkurang dikirim ke TPA, atau hanya residu / sisa-sisa sampah saja sebagai akibat implementasi 4R di sisi hulunya yg bisa mengurangi volumenya sampah antara 30-50 persen.
Menengok momentum penyegelan TPA Bakung di Kota Bandarlampung, mudah-mudahan tulisan ini bisa sedikit menjadi masukan atau inspirasi dalam proses memformulasikan langkah-langkah yang tepat dan konkret solusinya.
Namun, upaya apapun yang terpilih, jangan sampai melupakan bagaimana mengupayakan pengelolaan pemanfaatannya mulai dari hulu agar sedikit mungkin yang sampai ke TPA.
Semoga bermanfaat.
* Forum Renegade Alumni Faperta Unila.
* Alumni S-2 Teknik Lingkungan ITB.
-