Harimau Mangsa Anjing, 8 KK Dievakuasi dari Kubu Perahu, Lambar

Senin, 3 Februari 2025 18:13
Satgas mensuplai makanan dan mengevakuasi warga ke tempat yang aman (Foto Screenshot) Helo Lampung

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Satgas Konflik Satwa dan Manusia Kabupaten Lampung Barat mengevakuasi delapan kepala keluarga (KK) atas dugaan kemunculan harimau di perkebunan Pemangku I, Pekon Kubu Perahu, Kecamatan Balikbukit, Kabupaten Lampung Barat, Minggu (Senin (3/2/2025).

Adanya harimau (Phantera tigris sumatrae) beredar mendekati kawasan warga sejak hewan buas tersebut memangsa anjing yang dipelihara warga untuk menjaga perkebunan pada Minggu (2/2/2025), pukul 16.00 WIB.

Petugas gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan aparatur pekon melakukan evakuasi terhadap warga yang berada di sekitar area kemunculan harimau.

Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan Konflik Satwa dan Manusia Letnan (Inf) Rinto Wijaya menyatakan tak akan menangkap atau memasang kandang jebak untuk harimau pascatewasnya Zainudin (28) yang baru beberapa bulan dari Jawa Tengah berkebun dalam kawasan.

Dia meminta masyarakat untuk tidak lagi menghuni hutan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) untuk berkebun dan berburu. Hal ini yang memicu terjadinya konflik harimau dan masyarakat.

"Masyarakat banyak yang ingin masuk dan tinggal di dalam hutan kawasan. Mereka kemudian berkebun dan melakukan perburuan dan ini mengurangi makanan harimau itu sendiri," katanya, Sabtu (25/1/2025).

"Sehingga, langkah berikutnya kami mengimbau masyarakat di kebun milik TNBBS untuk segera keluar dan tidak melakukan perburuan liar hewan-hewan lainnya yang menjadi mangsa harimau," tambah Rinto.

Untuk itu, pihaknya bersama instansi dan lembaga lainnya yang tergabung dalam satgas memutuskan untuk tidak akan menangkap hewan liar yang dilindungi tersebut.

"Jadi, dengan kejadian ini kami sudah menangkap dua harimau dan diserahkan kepada pihak yang berwenang. Untuk harimau yang ketiga ini, tidak akan lagi dilakukan penangkapan tetapi satgas akan menghimbau jelasnya.

Rinto berharap masyarakat bisa memahami bahwa tempat tinggal yang mereka duduki adalah hutan kawasan yang menjadi rumah hewan liar seperti harimau Sumatera.

"Di sana adalah daerah konservasi satwa-satwa liar yang dilindungi. Diharapkan populasi harimau Sumatera tidak punah, konservasi di tanah hutan lindung tetap terjaga. Apabila, seluruh harimau ditangkap maka, populasi itu sendiri akan habis," tandas Rinto. (Miki)

Berita Terkini