HELOINDONESIA.COM -- Sepekan ini, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) demo kemah di depan Balairung atau Gedung Rektorat. Mereka akhirnya menyatakan mosi tak percaya terhadap Rektor Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.OG(K)., PhD.
Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM menghendaki Rektor Ova Emilia menyatakan mosi tidak percaya terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Rektor UGM Ova Emilia menemui aliansi mahasiswa yang berkemah di depan Balairung, Rabu (21/5/2025), pukul 16.00 WIB. Diskusi berlangsung alot, berujung ricuh. Suasana kemudian bisa kembali ditenangkan pihak kampus.
Karena tak dipenuhi Rektor Ova Emilia, mereka akhirnya menyatakan mosi tidak percaya. "Kami hanya ingin mengembalikan marwah UGM," kata Ketua BEM KM UGM Tiyo Ardianto, Minggu (25/5/2025),
Menurut Tiyo, UGM telah terlibat membesarkan kekuasaan Presiden RI ke-7 Jokowi. Pemerintahan yang baru saat ini pun merupakan rezim yang dikehendaki Jokowi, ujarnya.
Menurut dia, mosi tidak percaya akan dicabut sampai Rektor UGM menyatakan mosi tidak percaya ke Rezim Prabowo-Gibran sebagai penegasan keberpihakan kepada rakyat.
Mosi Tidak Percaya
Terpilihnya pelanggar HAM, Prabowo Subianto sebagai presiden Republik Indonesia dan nepo-baby, Gibran Rakabuming Raka, yang menjadi wakil Presiden dengan mengubah konstitusi atas bantuan 'Raja Jawa' Jokowi yang dapat sedemikian berkuasa atas dukungan UGM.
Segala kebijakan ditetapkan oleh pemerintah Prabowo diberlakukan tanpa konsiderasi lebih jauh, Makan Bergizi Gratis, Inpres mengenai Efisiensi Anggaran, dan Danantara.
Tak sampai di situ, Prabowo menghendaki Revisi UU TNI sebagai Langkah permulaan mengembalikan Dwi Fungsi TNI dengan mengubur cita-cita Reformasi Militerisme merangsek ke beberapa lingkungan kampus dengan dalih penguatan nasionalisme.
Lebih jauh, mahasiswa yang menyampaikan ekspresi kritiknya mendapatkan represi dan bahkan ditetapkan sebagai tersangka. Demokrasi dalam bahaya!
Berangkat dari berbagai masalah yang timbul, Mahasiswa UGM melakukan aksi kemah di Balairung. Mahasiswa menuntut Rektor UGM menyatakan Mosi Tidak Percaya terhadap Lembaga pemerintah yang menciptakan kebijakan ambubradul sebagai sikap keberpihakan pada Rakyat.
Rabu 21 Mei 2025 setelah satu pekan okupasi. Iva Emilia, selaku rektor UGM menemui massa aksi dan melakukan dialog. Hasilnya? omon-omon.
Atas kekecewaan terhadap respons yang diberikan oleh rektor, BEM KM UGM menyatakan Mosi Tidak Percaya kepada Ova Emilia selaku Rektor UGM.
Betapa malu kami sebagai mahasiswa Kampus Kerakyatan menyaksikan rektor lembek pada berbagai ketidakadilan dan penindasan yang terang benderang.
Kami tidak akan mencabut mosi ini sampai rektor menyatakan mosi tidak percaya sebagai bukti keberpihakan kepada rakyat atau suatu yang setara ke depannya.
Tiyo Ardianto, Ketua BEM KM UGM.
(HBM)
-