Haru Biru Penantian Lama Kampung Terisolasi Langit dan Samudera Biru di Way Haru, Pesibar

Rabu, 4 Juni 2025 21:53
Terpencil, Way Haru yang indah dan produktif namun terisolasi kawasan hutan (Foto Helo) HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM —Puncak ilustrasi cercah harapan rakyat atas kehendak tunggalnya terhadap terwujudnya sesuatu: pekik emosional, sujud syukur tetiba, potong kambing, maupun saling berpegang bahu bertangis haru. Pun tak lama lagi di Way Haru.

Salah satu lokus anugerah Ilahi berkoordinat terpencil, Pekon (Desa) Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar), Lampung, yang sejarahnya mulai berpenghuni manusia sejak awal abad ke-19, sebagian besar dihuni masyarakat adat Lampung dari Marga Belimbing, yang telah dua abad lebih jalani jerih masa sulit: terisolasi.

Sejak penduduk mulai bermigrasi ke sini 1918, populasinya terus berkembang nun tidak dengan infrastrukturnya. Jalan utama menuju sini bahkan tak pernah dibangun sejak itu.

Praktis, dua-duanya moda transportasi 'termewah' desa 12.661 meter persegi ini, yang mampu menembus medan sulit menuju sini, yaitu gerobak sapi dan trail modifikasi.

Sulitnya medan, bayangkan: ada tujuh muara yang harus dilewati untuk mencapai jalan lintas Lampung-Bengkulu, lima di antaranya tak ada jembatannya. Saat musim hujan tiba, muara-muara ini kerap banjir, menjadikan perjalanan warga sini jadi tak mungkin dilalui.

Bahkan di titik terbahaya seperti Tebing Batu Krokos (menjorok ke laut), warga harus berani hadapi deburan ombak Samudera Hindia yang bisa ancam nyawa. Kehidupan di sini bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga tentang bertahan hidup dari alam yang kadang jumawa.

Kaya hasil bumi, harga keekonomiannya kalah dengan ongkos angkut. Misal harga kelapa, di Way Haru bisa jauh lebih murah dibanding bea angkutnya ke pasar terdekat, Way Heni.

Terisolir fisik, berimbas terisolir ekonomi. Petani Way Haru terpaksa jual hasil panen jauh lebih murah dibanding pasar besar misal Krui. Bea angkut tinggi tak cuma menambah bea produksi, juga buat rentan fluktuasi harga komoditas, seperti pisang alias banana.

Secara administratif, Pekon Way Haru meliputi wilayah empat Pemangku (Dusun): Sukamaju, Way Binjai, Way Titi Jati, dan Pengekahan.Yang disebut terakhir, notabene Pemangku paling ujung Pulau Sumatra bagian wilayah Marga Belimbing Bangkunat ini.

Butuh 3-4 jam jalur laut naik perahu nelayan bertarif sewa Rp1,5 -2,5 juta sekali jalan, demi untuk bisa menjangkaunya. Jalur darat lebih lama. Sebab jalan ke Pengekahan cuma dapat dituju lewat tepian pantai, hutan, itu pun hingga harus puluhan kali seberangi muara sungai.

Notabene bagian Way Haru, sebagai wilayah senasib sepenanggungan, menjadikan ikatan solidaritas organik kuat terbentuk, menjadi sekokoh landasan kekuatan jiwa dan ikhtiar bersama mengejar pemajuan, membungkus ketertinggalan.

Sekilas info kehidupan rakyatnya, Pemangku ini dihuni sedikitnya seribuan jiwa. Seperti rakyat Pesibar umumnya, warga Pengekahan yang kini juga ramai latar etnis Batak, Jawa, dan Sunda, juga bercocok tanam, berkebun, melaut, dan berniaga.

Medio 2019 silam saat kedatangan bupati saat itu, tokoh masyarakat setempat, Mat Yani, pernah menyeru keinginan besar rakyat Pengekahan. Agar, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) membuka akses, membangun badan jalan plus akses listrik PLN dari titik Way Haru ke empat Pemangku.

"Sampai kapan kami harus terus terisolir?" gugat tanya dia kala itu.

Saat enam tahun silam itu, cuma dua sekolah di sini: SDN 2 Way Haru dan SMP Satu Atap. Jika anak Pengekahan mau lanjut SMA harus merantau ke Way Haru atau ke Pekon Penyandingan yang sudah ada SMA Negeri.

Jika sebagian kecil pemuda dan orangtua, adapula yang bekerja menjadi karyawan di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) —kawasan konservasi hutan, satwa liar (48.153 hektare) bagian kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan cagar laut (14.082 hektare) dengan topografi bervariasi dari hutan hujan tropis dataran rendah, danau, hutan pantai, hutan bakau, rawa air rendah, hutan sekunder dataran rendah, dan juga hutan enclave sisi timur yang berbatasan langsung dengan wilayah Pemangku Pengekahan.

Dan jika pula para ortu restui, maka para putra-putrinya selulus SMP sini juga bisa lanjut SMA bahkan hingga kuliah universitas di Bogor, Jawa Barat, dibiayai penuh TWNC.

Pengingat, kata 'Tambling' pada TWNC ini singkatan, perpaduan nama Teluk Tampang dan Tanjung Belimbing yang apit daerah ini.

TWNC, didirikan taipan pemilik Grup Artha Graha sekaligus pendiri yayasan sosial kemanusiaan dan lingkungan Artha Graha Peduli (AGP), yang juga pemilik kawasan megapolit Sudirman Central Business District (SCBD) dan Hotel Borobudur, Jakarta, Tomy Winata (TW).

Lewat Yayasan AGP diriannya, TWNC dioperasikan dan dikelola sejak 1996, melepasliarkan 5 harimau Sumatra di lima tahun pertama, dan menjadi bagian program hijau AGP sejak 2007. Ada: si Pangeran dan si Agam, dilepasliarkan 2008. Menyusul, Buyung dan Panti, 2010.

Sedikitnya 32 harimau Sumatra liar ada di sini hingga Juni 2016, 7 diantaranya tengah masa rehabilitasi sebelum kembali dilepasliarkan, termasuk 'Nyonya' Panti tadi yang ditemukan sakit terluka, rupanya hamil, lalu beranak 3: Bintang, Petir, Topan (nama berian Ibu Negara Ani SBY). Panti dan Petir dilepasliarkan 2015.

Habitat "si kumis" satu ini diketahui terus terancam punah. Di TWNC, harimau yang direhab berasal dari kebun binatang, atau yang berkonflik dengan warga. Ingat, harimau liar takkan berani mendekati manusia. Begitu melihat manusia, "kabuuur!" pekik hati dia.

Awal 2012, TWNC dan Badan Narkotika Nasional besut program pascarehabilitasi berbasis konservasi alam bagi eks pengguna narkoba hingga turut diapresiasi Executive Director United Nations of Drugs and Crime (UNODC) Yuri Fedotov yang kepincut kunjungi TWNC, akhir 2012. UNODC bahkan undang TW presentasi program di Sidang Tahunan UNODC ke-54 di Vienna, Austria, Maret 2013.

Pengekahan notabene 'dhuafa' akses, pun tercakup 'dhuafa' sinyal. Alat komunikasi macam gawai belum leluasa digunakan sebab "tut tut tut" sinyal. Pun penerangan andalkan lampu tempel dan disel.

Kucilan akses sini dan tiga Pemangku di Way Haru itu, notabene takdir bentang alamnya daerah terpencil, tertinggal, dan terluar (3T) senada wilayah tiga Pekon lain di Kecamatan Bangkunat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tanggamus dan jua masih terisolir yakni Bandardalam, Siring Gading, Way Tiyas.

Empat Pekon ini belum terakses infrastruktur jalan, listrik, pun internet memadai, dan sinyal seluler tadi, bagian dari 71 desa blank spot (nirsinyal) di Pesibar, merujuk rilis Pemkab sini, melalui Kadiskominfotik Suryadi, 2023 lalu.

Lokasi keempatnya: meletak dekat hutan TNBBS hingga menyulitkan berbagai layanan dasar itu bisa masuk, adalah kendala utama.

Sebab itu, Pemkab getol meningkatkan daya jangkau perkuatan jaringan telekomunikasi (telko) dengan ragam jalan atasi area nirsinyal agar rakyat Pesibar nikmati koneksi lancar.

Pemkab Pesibar antara lain mengusulkan ke Kemkominfo (kini Kemkomdigi) dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), juga ke provider telko Telkomsel guna sediakan layanan sinyal agar rakyat setempat bisa menikmati jaringan internet dan tak ada lagi daerah 4S (sangat susah sinyal sekali).

Way Haru sedikit beruntung. 2023 lalu, proyek pengadaan internet inisiasi Kemkominfo yang berada di desa ini, diresmikan.

Memoar epik lainnya, bagian cuplikan ilustrasi keberpihakan, wabil khusus Pekon Way Haru yakni saat (saat itu masih berstatus calon gubernur dan wakil gubernur Lampung Pilgub 2024) Rahmat Mirzani Djausal-Jihan Nurlela (Mirza-Jihan) menjadikan Way Haru bagian entitas konten utama kampanye Pilkada.

Istimewa bahkan, dengan Mirza inapi rumah warga Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan; Jihan menginap rumah warga Pekon Way Haru pada kampanye hari pertama dari daerah 3T di Lampung, profil Way Haru turut meroket jadi isu arus utama bahkan menasional.

Perjuangan Way Haru membuka jerat isolasi akses internet -berikut dengan kepemimpinan "smooth" nan egaliter Peratin (Kades) Dian Setiawan tak ayal jadi makin mengharu biru.

Agustus 2024, Dian yang juga Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan setempat tegas menyatakan, mereka tak ingin hanya dijadikan komoditas politik jelang Pemilu. Mereka menginginkan solusi konkret berkelanjutan atas problem dua abad keterisolasiannya.

Melalui aktivis digitalisasi desa sejak 2014, pentolan Inkubator Desa Cerdas (IDC), yang juga anggota Bidang Penggerak Desa TPT Mirza-Jihan, Davit Kurniawan, memimpin langsung uji coba layanan internet desa di sini, akhir Agustus 2024 itu. Berhasil.

Tayangan panggilan video; Mirza di Sebesi, Jihan ditemani Davit di Way Haru viral kala itu.

Penyelia, IDC ini lembaga vokasi bidang penyediaan fasilitas, sumber daya dan pengembangan usaha baik manajemen pun teknologi serta mendorong kolaborasi dengan pemerintah desa untuk beri dampak kepada ekosistem digital desa. Tujuan IDC, bina desa lewat mentoring sebagai dukungan wujudkan perubahan signifikan peradaban digital di desa menuju Indonesia Emas 2045.

Gabungan reportase Admin Web Desa Pekon Way Haru, juga pewarta LKBN Antara, Riadi Gunawan saat itu mengilustrasikan capaian akses internet, kebahagiaan baru Way Haru.

"Di sebuah desa terpencil tersembunyi di balik hijaunya hutan dan hamparan lautan, hari ini jadi momen bersejarah bagi anak-anak Desa Way Haru. Koneksi internet yang selama ini hanya jadi impian akhirnya resmi tersedia, membawa perubahan besar yang menyentuh hati banyak pihak," tulis Admin Web Desa, melaporkan.

"Pagi ini, suasana ceria memancar dari setiap sudut desa. Warga desa, yang terdiri dari perangkat desa, dan anak-anak, berkumpul di samping pelataran kantor pemerintahan desa dengan penuh antusias. Mereka merayakan peluncuran koneksi internet yang baru saja terhubung," sambungnya.

Anak-anak yang sebelumnya harus puas dengan kegiatan luar ruangan dan baca buku di perpustakaan desa, kini dapat rasakan sensasi dunia digital. Dengan tatapan penuh keajaiban, mereka duduk depan komputer yang baru dipasang, mengakses informasi, belajar online, berinteraksi dengan dunia luar nan selama ini cuma bisa mereka bayangkan.

Sang Admin mewarta, koneksi internet ini hasil kerja keras dan dedikasi multipihak, seperti IDC dan Relawan SEDESA RMD yang peduli pendidikan anak-anak daerah terpencil.

"Setiap tetes keringat, setiap usaha yang dilakukan akhirnya membuahkan hasil yang sangat menggembirakan," impresinya.

Peratin Way Haru tak bisa sembunyi haru. "Ini hari sangat bersejarah untuk kami. Kami tahu betapa pentingnya akses informasi dalam dunia yang terus berkembang ini. Dengan adanya internet, anak-anak kami memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang seperti anak-anak kota besar."

Selain itu, imbuh Dian, koneksi internet ini bisa beri harapan baru perbaikan layanan publik, pemerintahan desa, serta perekonomian desa agar lebih adaptif dengan dinamika digital.

Sisi lain, sisi positif internet, media sosial, berpeluang dimanfaatkan untuk rakyat. Hal bisa dilakukan: akses informasi pendidikan, hingga kembangkan UMKM digital.

Ketua IDC, Davit Kurniawan, mengingatkan pentingnya koneksi internet di daerah 3T karena dapat beri akses informasi maupun pendidikan setara ke semua anak pedalaman.

"Koneksi internet bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang memberikan akses setara kepada semua anak. Kami percaya bahwa setiap anak di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan pendidikan berkualitas. Dengan adanya internet, kami berharap anak-anak di Way Haru dapat mengejar impian mereka dan berkontribusi pada masyarakat lebih luas," tutur Presiden BEM Darmajaya 2004–2005 silam ini, caleg DPD RI dapil Lampung nomor urut 7 Pemilu 2024 lalu itu.

Pemasangan jaringan internet di desa ini memakai teknologi yang beroperasi melalui frekuensi Ku-band dan Ka-band untuk komunikasi data. Untuk memasang piranti di desa ini, teknisi harus naik ojek, warta Riadi.

IDC akui pemasangannya punyai tantangan tersendiri: lokasi terpencil, warga dan tim harus tempuh jalan terjal, tiga jam, untuk menuju kawasan listrik memadai.

"Kondisi ini tak mematahkan semangat untuk mendapatkan sinyal internet yang optimal, melalui pemasangan tiang, router, kabel, dan kabel tenaga, dengan sumber energi utama berasal dari mesin disel," imbuh warta Riadi.

Koneksi ini juga diharapkan dapat bekerja selaras dengan proyek pengadaan BTS 4G yang telah pemerintah siapkan guna dorong pemerataan infrastruktur digital nasional.

Kabar naas Way Haru terdengar saat musibah kebakaran siang bolong melanda Balai Pekon setempat diduga akibat arus pendek panel listrik tenaga surya, Kamis (29/2/2024). Tak ada korban jiwa, hanya saja ATK, laptop kantor hingga ratusan kursi plastik ludes terbakar. Kerugian materiil ratusan juta.

Pengingat, Way Haru juga Dian, pernah turut ramai diperbincangkan publik nasional, saat beberapa waktu lalu sempat viral, seorang ibu hamil warganya harus ditandu puluhan warga lainnya bergantian, susuri pantai menuju Puskesmas Bangkunat, demi untuk dapat menjalani persalinan. Video amatirnya, mencabik naluri kemanusiaan sesiapapun yang menontonnya. Nurani, tersentak.

Pun kembali sama viral, saat video amatir menunjukkan sejawat Dian, yakni Peratin Bandardalam, Kecamatan Bangkunat, Rudi Meilano, mengeluhkan sakit perut kelewat parah hingga harus dibawa keluar dari wilayah Way Haru; terpaksa dievakuasi puluhan warganya senada cara digotong ditandu dari susunan papan dan bambu sekadar, menempuh empat jam perjalanan kaki hingga sekitar 12,2 kilometer dengan rute lewati jalan darat, bibir pantai, seberangi beberapa sungai besar menuju Puskesmas Bangkunat, Jum'at pagi, 18 April 2025.

Peratin Dian, sontak turut jadi "jubir dadakan" lantaran keterangannya diburu awak media ikut menjelaskan, "Jika ditotal jarak tempuh Bandardalam menuju Sumberrejo 12,2 kilo, perkiraan perjalanan 4 jam. Maka itu evakuasi mengharuskan melibatkan banyak warga bergantian," jelas Dian, lelagi menitip harapan agar upaya buka keterisoliran Way Haru bisa terujud segera, kejadian serupa tak lagi ada, warga dapat lebih mudah dapatkan layanan kesehatan yang terbilang mendesak.

Dan maut hanya Allah yang tahu, 'local hero', Dian putra terbaik Way Haru wafat, usai henti jantung di Puskesmas Bangkunat 2 Mei lalu.

Getol Wara-Wiri, Dedi-Irawan Gaspol

Sadar 3T, Pemkab pengampu wilayah kabupaten termuda di Lampung ini, kali ini dibawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Pesibar 2025–2030 produk politik Pilbup 2024, Dedi Irawan dan Irawan Topani.

Praktis seperti terpantau, per dilantik hingga kini, duet ini gigih ikhtiar kejar pemajuan pembangunan demi meretas keterisolasian, ketertinggalan; termasuk lewat percepatan pengembangan infrastruktur transportasi dan konektivitas wilayah Pesibar, pun Way Haru.

Segigih, Mirza-Jihan golkan percepatan bangun RSUD Pesibar dan Puskesmas Way Haru ke Kementerian Kesehatan. Duet enerjik Dedi-Irawan jua tahan wara-wiri Jakarta-Krui, buka jalan, demi temui solusi demi solusi.

4 Mei 2025 lalu, Dedi-Irawan mengajak taipan Tomy Winata ikut bersinergi membangun jalan ke Way Haru, saat bersua di Hotel Borobudur.

Sehari setelahnya, 5 Mei 2025, Wabup Irawan beranjangsana menemui Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Dr Capt. Antoni Arif Priadi guna koordinasi dan konsultasi, di kantor Kemenhub, Jl Medan Merdeka Timur 5 Gambir, Jakarta Pusat.

Sang dirjen ditemani Direktur Kepelabuhanan Ditjen Hubla, M. Masyhud. Kepada keduanya, Wabup Irawan mewakili Bupati Dedi Irawan, mendedah isu strategis urgensi percepatan eksekusi peningkatan aksesibilitas antar wilayah, pengembangan pelabuhan rakyat, hingga upaya hadirkan layanan transportasi aman efisien bagi rakyat pesisir di Pesibar.

Pemkab Pesisir Barat memandang penting dukungan pemerintah pusat, khususnya Kemenhub dalam merealisasi rencana rencana besar pembangunan transportasi," kata Wabup, berharap hasil konsultasi dapat percepat langkah konkret di lapangan, terutama demi permudah mobilitas warga, menunjang pertumbuhan ekonomi lokal.

"(Koordinasi-konsultasi) ini menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka menengah daerah kami, dimana transportasi salah satu sektor prioritas penopang sektor lain seperti pariwisata, perikanan, perdagangan," imbuh wabup tamatan SMPN 2 Bandarlampung 1997, SMAN 2 Bandarlampung 2000, S1 Hukum UBL 2004, dan S2 Kenotariatan UGM 2007 itu.

Didampingi Pj Sekda Tedi Zadmiko, Kadishub Ariswandi, dan Inspektur Henri Dunan, Wabup melugaskan upaya proaktif jemput bola yang bertujuan perkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah mewujudkan sistem transportasi darat dan laut terintegrasi dan berkelanjutan di Pesibar itu, menjadi bukti pula keseriusan komitmen kepemimpinan Dedi-Irawan bangun konektivitas antarwilayah demi kesejahteraan rakyat Bumi Khelauni Kibaghong tersebut.

Terbaru, perjuangan keras "duet Irawan" ini buka keterisolasian daerah, 'memerdekakan' hampir 6.000 jiwa rakyat Pekon Way Haru bertahap mulai nyata hasil.

Dalam Rakor upaya pembangunan jembatan, peningkatan badan jalan, dan jalur listrik menuju Way Haru, di ruang rapat Bupati Lt. 4 Gedung Marga Sai Batin kompleks kantor Pemkab, Rabu (28/5/2025), Bupati Dedi mengafirmasi progres terbaru.

Bahwa berdasar surat masuk, dari Kepala UPT Balai Besar TNBBS Nomor S.223/T.7/BIDTEK/KSA/B/05/2025 dan Memorandum Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Nomor M.49/KK/KSA.02/5/2025 kepada Kepala Balai Besar TNBBS menjelaskan:

Pertama, pengerjaan perbaikan jembatan gantung Way Pemerihan dapat segera dilakukan, dengan catatan pengawasannya dilakukan bersama, oleh para pihak terkait.

Kedua, terhadap pengerjaan ruas jalan-jalan patroli sepanjang kurang lebih 10 KM serta pembangunan jembatan baru lainnya, dapat diakomodir dari skema kerja sama sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 85/2014 jo Permen LHK Nomor 44/2017 tentang Tata Cara Kerja Sama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.

Ketiga, menimbang bahwa jalan patroli Way Heni - Way Haru merupakan jalan pengelolaan sehingga berkenaan status TNBBS yang jadi bagian Situs Warisan Dunia The Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS), bahwa rencana perbaikan jembatan dan jalan patroli tersebut tidak diwajibkan menyusun dokumen Environmental Impact Assesment atau Kajian Lingkungan Hidup Strategis (EIA/KLHS) sebagaimana ketentuan Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention.

"Keempat, untuk memastikan percepatan pelaksanaan kegiatan sebagaimana poin pertama dan kedua, secara teknis maupun administrasi, agar Kepala BB-TNBBS berkoordinasi aktif dan melakukan pendampingan kepada Pemkab Pesibar."

Takzim, progres ini menurut Dedi, merupakan wujud dukungan nyata pemerintah melalui Kemenhut dan BB-TNBBS terhadap Pemkab Pesibar dalam upaya mewujudkan harapan masyarakat Way Haru yang selama ini masih dibelenggu sebagai wilayah paling sulit dijangkau dibanding wilayah lain se-Pesibar.

"Dukungan pemerintah ini tak terlepas dari kinerja dan upaya serius Pemkab Pesibar bersama pihak terkait, perjuangkan Way Haru. Karenanya kita harus segera bergerak cepat menindaklanjuti dukungan tersebut," ujarnya.

Salah satunya, instruksi Dedi ke Pj Sekda Tedi Zadmiko, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Audi Marpi, dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, meminta OPD terkait gercep bentuk tim kepanitiaan, libatkan seluruh unsur terkait. Sehingga pada upaya tahapan berikutnya dapat dipenuhi optimal dan perlancar proses selanjutnya.

"Insya Allah, harapan kita bersama, harapan rakyat Pesibar khususnya Way Haru agar terbukanya akses menuju ke situ, mulai dari ketersediaan infrastruktur jalan dan jembatan, hingga jaringan listrik, tak lama lagi benar benar dapat terwujud," impresi Dedi, bupati latar pengusaha tajir hasil bumi cum politisi PPP ini, dengan demikian.

"Terwujudnya harapan masyarakat, akses jalan menuju Way Haru, akan berdampak kesejahteraan masyarakat Way Haru akan meningkat signifikan. Mengingat Way Haru merupakan wilayah sangat kaya potensi," yakin sang bupati. (Muzzamil)

 - 

Berita Terkini