SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Semangat Raden Ajeng Kartini tetap relevan hingga saat ini. Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, kini maknanya berkembang menjadi dorongan agar perempuan mampu berdaya, mandiri, dan berkontribusi di berbagai bidang kehidupan.
Hal itu diungkapkan Ketua Ikatan Ibu-Ibu USM, Siti Choiriyah Supari dalam Talkshow di Studio Radio USM Jaya bertajuk ''Menuju Hari Kartini: Rona Wanita Nusantara – Anggun Berwastra, Bangga Berbudaya'' pada Jumat 17 April 2026.
Baca juga: Masjid Kampus Siaga Bencana, Gebrakan AMKI Jateng Hadapi Kerawanan Wilayah
Talkshow yang berlangsung pukul 16.00–17.00 WIB itu juga menghadirkan narasumber inspiratif dari lingkungan Universitas Semarang yakni Ketua Panitia Hari Kartini, Sinta Pramucitra, serta Seksi Acara, Dini Anggraeni.
''Perempuan sekarang memiliki peluang lebih besar untuk belajar dan berkarya. Namun, tantangan juga semakin kompleks, mulai dari tekanan sosial hingga tuntutan peran ganda,'' kata Choiriyah.
Dia mengatakan, konsep Rona Wanita Nusantara diangkat sebagai representasi keberagaman perempuan Indonesia.
Keindahan perempuan, menurutnya, tidak dapat diseragamkan, melainkan justru terletak pada perbedaan karakter, budaya, hingga latar belakang yang dimiliki.
''Jadilah perempuan yang percaya diri, kuat, dan menginspirasi. Keindahan perempuan tidak hanya dari rupa, tetapi juga dari kecerdasan dan karakter,'' tandas Choiriyah.
Sementara itu, Ketua Panitia Sinta Pramucitra mengatakan, pemilihan tema tersebut bertujuan untuk mengangkat kekayaan budaya Nusantara melalui busana tradisional. Dalam acara puncaknya nanti, peserta akan menampilkan berbagai wastra dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari kebaya, baju kurung, hingga busana khas Kalimantan.
''Melalui tema ini, kami ingin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia memiliki banyak ‘warna’ yang patut dibanggakan, tidak hanya dari satu daerah saja,'' ujarnya.
Berbagai Kegiatan
Selain talkshow, rangkaian acara Rona Wanita Nusantara juga akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti penampilan seni dari civitas akademika USM, tari tradisional, lomba busana wastra, hingga sesi edukasi berkain. Kegiatan ini mayoritas melibatkan internal kampus, namun juga mengundang partisipasi dari pihak eksternal.
Baca juga: Reuni Rasa Pesta: Cara Unik Alumni SMPN 5 Semarang Angkatan 77 Jaga Silaturahmi
Dini Anggraeni menambahkan, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi perempuan di lingkungan kampus untuk menyalurkan kreativitas sekaligus meningkatkan rasa percaya diri. Ia juga menyebutkan adanya lomba fashion show wastra dengan hadiah menarik bagi para pemenang.
Talkshow itu juga menyoroti tantangan perempuan masa kini, salah satunya terkait standar kecantikan yang kerap dibentuk oleh media sosial.
Menurut Dini, perempuan tidak perlu terjebak dalam standar tersebut, melainkan harus membangun kepercayaan diri berdasarkan karakter dan kemampuan diri.
Dia mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus mengembangkan potensi diri, berani bermimpi, serta tetap menjaga nilai-nilai budaya di tengah arus modernisasi. (Aji)