SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) Wilayah Jawa Tengah bergerak cepat melakukan transformasi peran masjid. Tak hanya menjadi pusat spiritualitas, masjid kampus kini diproyeksikan menjadi garda terdepan dalam mitigasi bencana.
Visi besar ini mencuat dalam acara Halal Bihalal dan Rapat Koordinasi (Rakor) AMKI Jateng yang digelar di Ruang Seminar Rumah Amal, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sabtu 19 April 2026.
Baca juga: Reuni Rasa Pesta: Cara Unik Alumni SMPN 5 Semarang Angkatan 77 Jaga Silaturahmi
Ketua AMKI Jateng, Prof Dr Edy Purwanto MSi menegaskan bahwa saat ini pihaknya tengah mematangkan tiga program prioritas: pengembangan masjid kampus siaga bencana, standardisasi pengelolaan masjid, dan assessment religiusitas.
"Kami targetkan program masjid siaga bencana sudah bisa diimplementasikan secara nyata pada semester kedua tahun ini. Tim harus segera bergerak menindaklanjuti hasil rapat ini agar saat raker mendatang semuanya sudah matang," tegas Prof. Edy di hadapan para pengurus.
Hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan dari pengurus masjid kampus di Jawa Tengah antara lain Prof Dr Rudi Hartono MPd (Unnes), Dr Agus Yulianto MSi (Unnes) Dr Rini Adiyani SE SSos MM MPd. (UTP), Dr Mahmud, SE, MM (Udinus), Zakki Nurul Amin MPd (Unnes), , Amthori Anwar MSi Mar (Polimarin), Dr Saiful Hadi MKom (USM), Dr Sri Praptono SSos, M.M (Upand), dan Dr Beni Habibi MPd (UPS).
Sementara itu Agus Yulianto dalam tausiyahnya menyampaikan halal bihalal diambil dari tuntunan Al Qur'an saling memaafkan. Ada amalam harian, bulanan dan tahunan, memohon ampun kepada Allah adalah harian. Karena membuat kesalahan kepada Allah bisa dibebaskan dengan memohon ampun dengan Allah.
Dia menyinggung tentang fenomena saat ini banyak orang yang menyukai suara atau lantunan Al Qur'an namun belum menyukai maknanya.
“Al Qur'an yang sudah menjadi pondasi pergerakan AMKI saat ini digemari dan disukai suaranya namun belum disukai maknanya. Untuk itu, tugas kita semua agar makna dalam Alqur’an bisa kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” paparnya.
Baca juga: Wonderkid JPE Menggila, Tampil Juara Putaran Dua Proliga 2026 Usai Libas Phonska Plus
Lebih lanjut rapat koordinasi kali ini juga mematangkan rencana konsep masjid kampus siaga bencana yang dipaparkan oleh Saiful Hadi. Adapun rencana standar pengelolaan masjid kampus disampaikan oleh Prof Rudi Hartono, dan Penelitian untuk Religiusitas disampaikan oleh Agus Yulianto.
Dalam paparannya Saiful menyampaikan tentang konsep Masjid Kampus Siaga Bencana dengan langkah kesiapsiagaan individu, koordinasi penanggulanagn bencana, asssessment, rencana operasional, pemberian pelayanan, dan monitoring serta evaluasi. Hal ini penting karena Indonesia merupakan wilayah yang rawan bencana.
“Masjid memiliki peran yang sangat penting karena memiliki kelebihan dibanding bangunan lain seperti masjid memiliki genset, perlengkapan dapur, dan bangunan masjid juga aman karena bangunannya lebih tinggi dibanding yang lain. Selain itu masjid juga lebih kondusif, aman,” ungkap Saiful.
“Untuk menyukseskan masjid kampus siaga bencana kita harus siapkan tim, pelatihan penanggulangan bencana, kolaborasi dengan PMI, BPBD, Basarnas serta pihak lain dan aksi nyata terjun di masyarakat dalam penanggulangan bencana, saat ini masjid USM sudah memulainya dan memiliki fasilitas seperti perahu, mobil pick up, serta personel,” tambahnya.
Adapun menurut Prof Rudi Hartono bahwa standar masjid kampus, kriteria masjid kampus, indikator masjid kampus, instrumen masjid kampus harus ada standarnya.
“Standar yang nanti dipakai adalah standar nasional. Standar masjid kampus harus diikuti dengan pelaksanaan yang diikuti dengan indikator yang berdasarkan program program masjid kampus,” tandasnya. (Aji)